Belajar Agroforstry

Belajar Agroferesty di Pondok Belajar Hutan Desa

Belajar agroforestry lebih baik kepada yang sudah pengalaman. Inilah yang dilakukan LPHD Lauk Bersatu didampingi PRCF Indonesia belajar agroforestry ke Pondok Belajar Hutan Desa di Mensiau sekitar 100 meter dari Nanga Lauk.

“Mensiau sudah lama menerapkan agroforestry. Tentunya kita harus banyak belajar dari mereka. Belajar agroforestry dan juga belajar cara pengelolaan hutan,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat didampingi Program Specialist for Livelihoods, Azri Ahmad, Program Specialist for Conservation, Yadi Purwanto, dan Sekretaris LPHD Lauk Bersatu, Arsyad, Rabu {24/3/2021).

Sebelumnya PRCF pernah menggelar Pelatihan Agroferestry di Desa Nanga Lauk. Pelatihan ini bagaimana cara pembibitan pohon. Bibit pohon itu ditanam untuk pakan lebah. Sudah banyak bibit pohon ditanam dari hasil pelatihan agroforestry.

“Kalau di Mensiau ini kita studi banding untuk belajar pemanfaatan lahan di sekitar hutan desa. Ada pelatihan menanam sayuran seperti sawi dan lobak. Ada juga pemanfaatan serai wangi. Pokoknya apa yang dikembangkan di Mensiau ini kita pelajari yang nantinya bisa dikembangkan di Nanga Lauk,” papar Rio.

Rio Afiat, Yadi Perwanto, Arsyad saat belajar pengelolaan hutan di Mensiau
Rio Afiat, Yadi Perwanto, Arsyad saat belajar pengelolaan hutan di Mensiau

Dalam belajar agroforestry itu melibatkan banyak perempuan. Mereka diajarkan cara menanam serai dan cara memprosesnya menjadi minyak yang bernilai ekonomis. Harapannya, apa yang telah dipelajari di Mensiau bisa diterapkan di Nanga Lauk dan bisa menambah pendapatan ekonomi keluarga.

Apa Itu Agroforestry?

Agroforestri adalah sistem penggunaan lahan (usahatani ) yang mengkombinasikan pepohonan dengan tanaman pertanian untuk meningkatkan keuntungan, baik secara ekonomis maupun lingkungan. Pada sistem ini, terciptalah keanekaragaman tanaman dalam suatu luasan lahan sehingga akan mengurangi risiko kegagalan dan melindungi tanah dari erosi serta mengurangi kebutuhan pupuk atau zat hara dari luar kebun karena adanya daur-ulang sisa tanaman.

Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan, dimana masing-masing komponen sebenarnya dapat berdiri sendiri-sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan. Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komoditi khas atau kelompok produk yang serupa.  Penggabungan tiga komponen tersebut menghasilkan beberapa kemungkinan bentuk kombinasi sebagai berikut:

  1.  Agrisilvikultur : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen pertanian
  2.  Agropastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan komponen peternakan
  3. Silvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
  4. Agosilvopastura : Kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan.

Dari keempat kombinasi tersebut, yang termasuk dalam agroforestri adalah Agrisilvikutur, Silvopastura dan Agrosilvopastura. Sementara agropastura tidak dimasukkan sebagai agroforestri, karena komponen kehutanan atau pepohonan tidak dijumpai dalam kombinasi. (ros)