Dukungan Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan SH terlihat saat membuka Evaluasi Tahunan Program TFCA Kalimantan Siklus 5 di Aula Bappeda Kapuas Hulu, 31 Maret 2022 lalu. Tidak sekadar hadir, orang nomor satu di Bumi Uncak Kapuas itu juga sekaligus membuka pertemuan tersebut.

“Kita merasa sangat senang atas kehadiran Bupati Kapuas Hulu membuka kegiatan kita tersebut. Kehadiran beliau sekaligus memberikan dukungan atas program yang sedang kita jalankan saat ini,” kata Manager Program TFCA Kalimantan Siklus 5, Ir Ali Hayat di kantornya, Senin (4/4/2022).

Program Tropical Forest Conservation Act (TFCA)  Kalimantan Siklus 5 atau dikenal dengan Program Pengembangan Inisiatif Pendanaan Imbal Jasa Ekosistem dalam Mendukung Konservasi Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) di Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Program ini sudah berjalan di awal tahun 2021 lalu di empat desa yakni, Desa Tanjung, Sri Wangi, Nanga Jemah, dan Nanga Bentung. Semua desa tersebut berada di Kabupaten Kapuas Hulu.

Fransiskus Diaan
Fransiskus Diaan (tengah) didampingi Ali Hayat (kanan) saat membuka Evaluasi Tahunan Program TFCA Kalimantan Siklus 5

“Setelah satu tahun program itu berjalan, saatnya untuk dilaporkan dan dievaluasi. Dilaporkan ke Bupati Kapuas Hulu, Dinas LHK Kalbar, dan pihak donator TFCA Siklus 5 Kalimantan, serta pemangku kepentingan lainnya. Evaluasi tahunan tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban seluruh LPHD dan pihak pendamping, PRCF Indonesia,” papar Hayat.

Namanya juga evaluasi, mengukur setiap program yang sudah diimplementasikan. Apakah program tersebut berjalan sesuai rencana kerja atau tidak. “Pasti ada kekurangan. Tentunya kekurangan itu akan diperbaiki untuk program berikutnya. Bila ada kemajuan, akan lebih ditingkatkan. Berharap dari evaluasi ini membuat kinerja LPHD di empat desa yang kita dampingi menjadi lebih baik lagi dan terus maju,” harap Hayat.

Komitmen Bupati

Dalam kesempatan itu, Bupati Kapuas Hulu menyatakan komitmennya untuk mendukung program dampingan PRCF Indonesia di empat desa tersebut. Ia berupaya untuk mendorong, mengajak, dan memfasilitasi berbagai pihak untuk ikut terlibat dalam upaya pembangunan di Kabupaten Kapuas Hulu. Salah satu diantaranya adalah Program TFCA Kalimantan.

Yayasan PRCF Indonesia juga telah cukup lama ikut berperan dalam upaya pembangunan di Kabupaten Kapuas Hulu melalui kegiatan penelitian dan pendampingan masyarakat. Salah satu kegiatan pendampingan yang dilakukan adalah pengelolaan Hutan Desa Nanga Lauk yang telah mendapatkan dukungan pendanaan jangka panjang melalui skema Sustainable Commodities Compensation Mechanism (SCCM), yang merupakan mekanisme yang dikembangkan oleh Lestari Capital untuk mendorong beberapa perusahaan untuk ikut berperan dalam pembangunan berkelanjutan, dengan menyediakan dana kompensasi bagi upaya-upaya pelestarian dan restorasi hutan. (ros)