Edukasi konservasi

Edukasi Konservasi Lewat Pemutaran Film Dokumentasi

Edukasi konservasi hutan bisa berbagai macam cara. Salah satunya dengan pemutaran film dokumenter. Seperti dilakukan PRCF Indonesia mengadakan pemutaran film  dokumenter Desa Nanga Lauk di Kantor LPHD Lauk Bersatu, Sabtu (19/12/2020).

Film dokumenter yang diputar karya Rio Afiat yang merupakan Manajer Program PRCF Indonesia, dan Suhartian, Bendahara PRCF. Hampir seluruh pengurus inti LPHD Lauk Bersatu dan pengurus KUPS ikut menyaksikan film tersebut.

“Ini bagian dari upaya kita melakukan edukasi konservasi hutan. Kebetulan konten yang ditayangkan sepenuhnya dari Desa Nanga Lauk. Harapan kita dengan pemutaran film tersebut, masyarakat Desa Nanga Lauk semakin menyadari akan pentingnya konservasi hutan di desanya,” papar Rio Afiat, Minggu (20/12/2020).

Dalam film tersebut menggambarkan keberadaan Desa Nanga Lauk yang mendapatkan hak pengelolaan hutan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kemudian, mendapatkan sertifikat PlanVivo. Dalam implementasinya, Desa Nanga Lauk mendapatkan pendampingan dari PRCF Indonesia.

“Segala kegiatan selama proses pendampingan ditampilkan dalam film tersebut. Seperti upaya pendampingan patroli hutan, pemberdayaan masyarakat, sampai pada penguatan kelembagaan ada ditampilkan dalam film itu. Hal yang sangat penting, kita menampilkan seluruh potensi yang dimiliki Desa Nanga Lauk. Potensi utama adalah kawasan hutan desa,” papar Rio.

Kawasan hutan desa dan hutan produksi tersbatas yang dimiliki Nanga Lauk adalah potensi utama. Jangan sampai potensi sebagai harta karun tak ternilai itu rusak atau mengalami degradasi. PRCF ingin memberikan pesan, agar masyarakat Nanga Lauk terus menjaga hutannya, tidak hanya saat ini melainkan selama-lamanya.

Asistensi Bisnis

Specialist Program Livelihoods PRCF Indonesia, Azri Ahmad S Hut menambahkan, setelah menyaksikan film dokumenter sebagai bentuk edukasi konservasi, para pengurus LPHD dan KUPS akan diajak mengikuti asistensi bisnis. “Kita segera melakukan asistensi bisnis terutama untuk lima KUPS yakni, KUPS Rotan, Karet, Madu, Ikan, dan Ekowisata,” katanya.

“Asistensi bisnis ini rutin kita lakukan agar KUPS benar-benar bisa eksis dan memberikan manfaat besar bagi para pengurus khusus dan masyarakat Nanga Lauk umumnya. Namanya juga bisnis, bagaimana caranya KUPS yang telah setahun lebih berdiri bisa memberikan keuntungan atau memberikan nilai tambah bagi pendapatan para anggotanya,” jelas Azri. (ros)