Orangutan yang menjadi potensi ekowisata Nanga Lauk

Ekowisata Nanga Lauk Butuh Waktu

Ekowisata Nanga Lauk di Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu memang belum setenar Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Namun, untuk menjadi Tanjung Puting sudah dimulai. PRCF Indonesia mencoba membangun ekowisata Nanga Lauk dengan memanfaatkan potensi alam yang dimiliki.

Apa yang dilakukan PRCF membangun ekowisata? Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu di bawah binaan PRCF Indonesia telah membantuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Ekowisata. Kelompok inilah yang dibina untuk mengembangkan ekowisata di Nanga Lauk.

Apa sih ekowisata itu? Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Ekowisata dimulai ketika dirasakan adanya dampak negatif pada kegiatan pariwisata konvensional. Dampak negatif ini bukan hanya dikemukakan dan dibuktikan oleh para ahli lingkungan tetapi juga para budayawan, tokoh masyarakat dan pelaku bisnis pariwisata itu sendiri. Dampak berupa kerusakan lingkungan, terpengaruhnya budaya lokal secara tidak terkontrol, berkurangnya peran masyarakat setempat dan persaingan bisnis yang mulai mengancam lingkungan, budaya dan ekonomi masyarakat setempat.

Pada mulanya ekowisata dijalankan dengan cara membawa wisatawan ke objek wisata alam yang eksotis dengan cara ramah lingkungan. Proses kunjungan yang sebelumnya memanjakan wisatawan namun memberikan dampak negatif kepada lingkungan mulai dikurangi.

Setelah membentuk KUPS Ekowisata, PRCF mengajak para pengurusnya pergi ke Tanjung Puting Kalteng untuk melihat secara langsung bagaimana cara mengelola ekowisata. Mereka diterbangkan dari Putussibau ke Pontianak lalu ke Palangkaraya yang kemudian menuju Taman Nasional Tanjung Puting. Di taman nasional ini terkenal dengan konservasi orangutan. Banyak turis dari mancanegara ke sana hanya untuk melihat orangutan.

Kebetulan di Nanga Lauk juga ada orangutan. Cuma, tidak muncul setiap saat. Kadang ia muncul untuk waktu-waktu tertentu. Adanya orangutan di Nanga Lauk tentunya potensi ekowisata yang patut dimaksimalkan. Itulah salah satu alasan, beberapa pemuda Nanga Lauk diajak ke Nanga Lauk untuk belajar memanfaatkan konservasi alam menjadi tujuan wisata.

Perlu Waktu dan Keseriusan

Lembaga untuk mengelola ekowisata sudah dibentuk. Beberapa pemuda terbaik Nanga Lauk juga sudah melihat secara langsung mengelola ekowisata ke Tanjung Puting. Beberapa perangkat pendukung juga sudah disiapkan. Fondasi sudah diletakkan, sekarang tinggal menunggu ekowisata Nanga Lauk bisa dikenal lebih luas. Tentunya, promosi harus terus dilakukan. Mempromosikan semua potensi Nanga Lauk seperti keberadaan orangutan, ikan air tawar, dana, hutan, madu hutan, dan flora fauna. Semua butuh waktu dan keseriusan dari semua pihak agar ekowisata menjadi tujuan wisata. (ros)