Festival Makanan Tradisional salah satunya akan menampilkan makanan berbahan ikan ini

Festival Makanan Tradisional Siap Digelar

Festival Makanan Tradisional (FMT) siap digelar di Nanga Lauk 15-16 Juli 2020. Chef ternama didatangkan sebagai dewan juri ke sana. Salah satu tujuannya digelarnya Festival Makana Tradisional adalah edukasi mengenai standard rasa, penyajian dan teknik olahan makanan tradisional dari sisi dunia kuliner dengan konsep slow food.

“Segala persiapan sudah kita lakukan. Rencana sudah matang, tinggal menunggu implementasi pelaksanaannya. Chef atau juru masak yang kita datangkan adalah orang ahli di bidang kuliner. Inilah festival makanan tradisional pertama yang kita gelar di Nanga Lauk,” jelas Specialist Program Conservation PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut di kantornya, Senin (6/7/2020).

Program konservasi hutan yang selama ini menjadi fokus utama, bukan melulu soal itu saja. Kehadiran PRCF Indonesia di Desa Nanga Lauk juga memperhatikan soal perhutanan sosial. Salah satu yang didampingi PRCF adalah soal ekowisata. Untuk mendatangkan turis atau wisatawan ke Nanga Lauk juga harus memperhatikan makanan yang akan dihidangkan. Untuk itu perlu adanya standar makanan yang disajikan agar wisatawan bisa merasakan sensasi kuliner khas Nanga Lauk.

“Konsep yang akan diusung pada event festival makanan tradisional di Desa Nanga Lauk adalah Slow Food. Maksudnya, makanan yang disajikan itu harus good, clean and fair. Ini merupakan nilai yang dibangun dalam konsep slow food,” jelas Yadi.

Slow food adalah gerakan internasional untuk mendukung kesejahteraan petani, keragaman pangan dan kelestarian alam dengan prinsip good, clean and fair. Gerakan ini sudah tersebar di 160 negara.  PRCF Indonesia adalah pendiri slowfood komunitas Kapuas Hulu.

Nilai Slowfood

Apa itu  nilai Good, Clean and Fair? Good yaitu makanan atau sumber makanan sehat, bermutu, enak dan berasal dari budaya lokal. Clean berarti bersih mulai dari cara produksi hingga pemasaran tanpa menggunakan residu dan bahan kimia. Bahan-bahan tersebut dapat mencemari lingkungan atau bahkan menimbulkan dampak negatif bagi tubuh apabila dikonsumsi. Slow food harus terbebas dari itu semua.

Fair berarti adil dan saling menguntungkan. Adil dan saling menguntungkan ini dimaksudkan agar produsen makanan atau bahan makanan mendapat untung namun konsumen tidak terbebani dalam mendapatkan makanan atau bahan makanan tersebut (harga standar).

Tujuan dilaksanakannya FMT ini untuk memberikan edukasi mengenai standard rasa, penyajian dan teknik olahan makanan tradisional dari sisi dunia kuliner dengan konsep slow food. Menampilkan aneka ragam makanan lokal, dan tercatat dan terdokumentasinya makanan tradisional yang bahanya dari alam/hutan.

Salah satu jenis hidangan hasil dari kreasi masak chef yang akan menjadi juri dalam Festival Makanan Tradisional di Nanga Lauk
Salah satu jenis hidangan hasil dari kreasi masak chef yang akan menjadi juri dalam Festival Makanan Tradisional di Nanga Lauk

Metodologi Festival

Dalam FMT nanti narasumber akan memaparkan konsep makanan tradisional dengan tema slow food, teknik mengolah makanan, teknik menampilkan makanan serta berbagi pengalaman mengenai dunia kuliner. Kemudian, peserta ada 20 tim yang terdiri dari dua orang. Mereka merupakan perwakilan dari masyarakat menyajikan masakan tradisional. Makanan yang disajidkan akan dinilai oleh narasumber dengan memberikan penilaian rasa, tampilan, kebersihan dan teknik memasak.

“Lewat festival ini, makanan tradisional yang ada di Nanga Lauk akan terdokumentasi. Ketika sudah terdokumentasi tentu bisa dipelajari dan dipublikasikan ke dunia luar,” tambah Yadi. (ros)