Hutan untuk kehidupan manusia yang masih terjaga baik di Nanga Lauk

Hutan Untuk Kehidupan Manusia

Hutan untuk kehidupan manusia sudah lama dikampanyekan. Pemerintah berjuang keras menjaga hutan yang tersisa. Sementara ada manusia yang terus berusaha membabat hutan. Apa jadinya ketika seluruh hutan sudah dibabat. Tentu manusia itu sendiri yang susah.

Sebelum saya membahas hutan untuk kehidupa manusia, saya ingin bercerita. Dulu saat masih kecil, ingin orang tua ikut membuka lahan baru. Daerahnya di Simpang Empat Kecamatan Tangaran Kabupaten Sambas. Untuk membuka lahan, jelas harus membabat hutan. Dalam hitungan tahun, lahan yang dulunya hutan, berubah menjadi lahan kebun kelapa.

Di sekeliling kebun kepala, tetap masih ada hutan. Cuma, keberadaannya semakin terancam. Sebab, orang kampung sepenuhnya mengandalkan hutan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Selain itu, warga semakin masif membuka lahan baru. Setelah puluhan tahun, hutan menjadi habis.

Apa dampaknya? Ketika masih ada hutan, betapa mudahnya cari ikan. Tinggal taruh bubu di di beberapa tempat, ikan banyak didapat. Tinggal bawa joran, cukup mancing di sekitar pondok, sudah banyak dapat ikan. Sekarang, untuk mendapatkan satu ekor ikan saja susah. Kebanyakan beli di pasar.

Saat masih banyak hutan, tanah masih subur. Mau bercocok tanam apa saja, hasilnya banyak. Sekarang, semua harus dengan pupuk. Sawah sudah tidak subur lagi. Banyak warga mencari lahan baru yang letaknya sangat jauh. Pada akhirnya, desa tidak lagi memilih potensi yang bisa diandalkan. Tidak heran apabila banyak warga saya harus merantau ke Sarawak untuk mencari nafkah. Sebab, potensi desa sudah hampir habis. Sekarang, banyak warga baru menyadari betapa pentingnya keberadaan hutan untuk kehidupan manusia.

Nanga Lauk Mesti Belajar

Dari kasus di kampung saya itu, ada baiknya warga Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu untuk belajar. Nanga Lauk mesti belajar betapa pentingnya hutan untuk kehidupan. Hutan desa yang sekarang dimiliki, jangan sampai dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat. Coba bayangkan, apabila semua hutan itu berubah menjadi lahan perkebunan. Pastinya tidak ada lagi lebah bersarang. Tidak ada lagi sarang ikan. Akan banyak potensi hilang yang bakal tidak bisa dinikmati oleh generasi akan datang.

Masuknya PRCF Indonesia ke Nanga Lauk patut diapresiasi. Dengan berbagai program yang ditawarkan muaranya untuk mempertahankan hutan desa dan hutan produksi terbatas. Semuanya adalah untuk kepentingan warga Nanga Lauk itu sendiri. Saya yakin, dengan program dan kepedulian warga Nanga Lauk untuk menjaga hutannya sendiri akan menjadi contoh bagi daerah lain. (ros)