Madu kelulut yang akan dikembangkan Kepala Desa Nanga Lauk, Agus Yanto

Madu Kelulut akan Dibudidayakan di Nanga Lauk

Madu kelulut dihasilkan lebah trigona menjadi primado akhir-akhir. Banyak daerah sukses membudidayakan lebah ini. Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu memiliki potensi besar budidaya madu kelulut.

“Dua hari kita berada di Batu Ampar. Banyak hal menarik kita dapatkan di sana. Salah satunya adalah budidaya madu kelulut. Desa Nanga Lauk sangat memungkinkan mengembangkan madu trigona mengingat hutannya masih terjaga dengan baik,” kata Kepala Desa Nanga Lauk, Agus Yanto di sebuah restoran di Pontianak, Senin (21/7/2020).

Agus Yanto tidak sendirian ke Batu Ampar. Dia bersama pengurus Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu serta Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Kurang lebih 17 orang mereka berangkat menuju pulau yang masuk dalam wilayah Kabupaten Kubu Raya itu. Keberangkatan mereka ke sana difasilitasi PRCF Indonesia. Mereka dibawa untuk belajar bagaimana cara mengelola hutan agar memberikan manfaat besar bagi masyarakat di sekitarnya.

“Nanga Lauk memang terkenal sebagai penghasil madu hutan. Tapi, panenya setahun sekali. Sementara madu kelulut bisa dipanen sebulan sekali. Di sini menariknya. Insya Allah, sekembalinya ke Nanga Lauk nanti, kita coba akan wujudkan budidaya madu ini. Tentunya tidak lepas kerja sama dengan semua pihak termasuklah PRCF Indonesia,” jelas Agus yang baru saja menjabat Kepala Desa Nanga Lauk.

Tindak Lanjut Madu Kelulut

Di tempat sama, Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut menyambut baik keinginan masyarakat Nanga Lauk mengembangkan lebah trigona. Dia sudah mendengarkan keinginan tersebut dari Kepala Desa Nanga Lauk maupun LPHD Lauk Bersatu sebagai mitra utama PRCF.

“Kita bawa mereka ke Batu Ampar untuk melihat langsung pengembangan budidaya madu kelulut. Dengan melihat langsung mereka sangat mudah mengerti. Saya sudah mendengar keinginan kuat mereka untuk mengembangkan madu berkhasiat tinggi di Nanga Lauk,” kata Imanul.

Lanjut Imanul, tentunya PRCF akan menindaklanjuti keinginan masyarakat Nanga Lauk tersebut. Akan ada pelatihan budidaya lebah klanceng hitam berikutnya. “Kita akan follow up dengan pelatihan yang lebih implementatif. Kita berusaha budidaya madu tersebut benar-benar terwujud di Nanga Lauk,” tambah Imanul. (ros)