Fernando presiden direktur PRCF Indonesia foto bersama dengan jajaran pengurus eksekutif PRCF Indonesia di Pontianak

Makan Malam Sambil Mendengarkan Progress Program PRCF di Nanga Lauk

Pontianak (PRCF) – Malam Minggu (25/1/2020) kemarin, PRCF Indonesia kedatangan tamu istimewa. Dialah Dr. L. Fernando Potes Sanchez, Technical Overview atau Monitoring Auditing. Bisa dikatakan orang nomor satu di PRCF Indonesia. Sebagai tamu istimewa, beliau yang didampingi anaknya dijamu makan malam oleh Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda beserta jajarannya.

“Kita kedatangan tamu istimewa, Pak Fernando. Sebenarnya beliau sudah tidak asing datang ke Kalbar. Sebagai penghormatan pada tamu, kita jamu beliau untuk makan malam bersama. Sambil makan sambil ngobrol,” kata Imanul, Minggu (26/1/2020).

Informasi kedatangan Fernando sudah disampaikan lewat WA Grup. Beliau direncanakan tiba di Pontianak Sabtu, 25 Januari 2020 pukul 14.00 WIB lewat Batam. Ternyata ada perubahaan rute, beliau justru berangkat ke Pontianak lewat Jakarta. Akibat perubahaan rute ini, beliau tiba di Pontianak sekitar pukul 19.00 WIB.

“Karena malam tibanya, sekalian kita ajak makan malam bersama. Sekalian juga memperkenalkan makanan khas Pontianak,” ujar Imanul.

Fernando presiden direktur PRCF Indonesia sedang menikmati makan malam
Fernando didampingi anaknya sedang dijamu makan malam oleh Imanul Huda dan jajarannya di Kafe Pondok Nelayan, Sabtu (25/1/2020)

Makan malam digelar di kafe yang terkenal dengan masakan khas Kalbar,  Pondok Nelayan Jalan Gajah Mada Pontianak. Beberapa pengurus PRCF Indonesia yang ikut menemani makan di antaranya Imanul Huda, Suhartian, Azri, Iwan, Awaladdin, dan Rosadi. Sementara Fernando didampingi anak lelakinya yang berusia 18 tahun.

Mau tahu menu apa yang dipesan Fernando yang  fasih berbahasa Indonesia itu. Ternyata ia pesan ikan kakap asam pedas dan pakis. Untuk minumannya, ia dan anaknya pesan jus buah naga. Sementara yang lain ada pesan udang goreng tepung dan cumi saos. Semua disantap habis. Sepertinya Fernando dan anaknya sudah tidak asing dengan masakan Pontianak.

Sambil makan, Fernando mendengarkan beberapa laporan terkait kegiatan PRCF di Nanga Lauk. Mulai dari Azri melaporkan progress program pemberdayaan masyarakat di Nanga Lauk. Ia menjelaskan perkembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu yang saat ini mulai panen madu. Selain madu, ia juga melaporkan KUPS karet yang merupakan salah satu komoditas andalan Nanga Lauk. Ada juga anyaman rotan, ekowisata.

Begitu juga dengan Iwan, melaporkan progress pembangunan Kantor Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu ukuran 6×8 meter. Diperkirakan akhir Februari 2020, pembangunan kantor tersebut sudah rampung. “Proses pemasangan atap, dinding sudah selesai. Sekarang tinggal proses finising saja,” kata Iwan.

Sementara Suhartian dan Awaluddin melaporkan soal keuangan. Sejauh ini seluruh laporan keuangan mengikuti apa yang telah ditentukan. Tidak ada masalah, semua berjalan lancar. Terakhir Rosadi melaporkan perkembangan website akun youtube PRCF Indonesia. Sejauh ini rata-rata sudah dikunjungi sekitar 300-an orang per hari. Untuk channel youtube-nya sudah memiliki 631 subscriber. Ternyata, Fernando tahu website PRCF Indonesia sering di-update. Ia merasa senang.

Usai makan malam, Fernando dan anaknya harus kembali ke hotel. Hotel Haris tempatnya menginap tidak jauh dari Pondok Nelayan. Cukup jalan kaki. Obrolan di Pondok Nelayan memang tidak lama karena memikirkan Fernando dan anaknya harus istirahat. Sebab, esoknya (26/1/2020), ia ditemani Imanul Huda terbang menuju Putussibau Kapuas Hulu. Ada beberapa agenda penting yang akan dilakukannya di sana. (ros)