Patroli batas desa dilakukan LPHD Lauk Bersatu didampingi PRCF Indonesia

Patroli Batas Desa Tiga Hari Dua Malam

Patroli batas desa kembali dilakukan LPHD Lauk Bersatu dan tetap didampingi PRCF Indonesia. Sebelumnya sempat stagnan diakibatkan pandemi Covid19. Patroli kali ini dilakukan selama tiga hari dua malam.

“Patroli hutan merupakan agenda rutin kita. Kemarin sempat stagnan akibat pandemi covid 19. Kita yang dari Pontianak masih belum diizinkan masuk ke Nanga Lauk. Sekarang sudah bisa dan kembali mendampingi LPHD untuk melakukan patroli batas desa,” kata Specialist Conservation Program PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut, Senin (27/7/2020).

Diceritakan alumni Fakultas Kehutanan Untan ini, patroli hutan apakah itu patroli hutan desa, hutan produksi terbatas maupun batas desa sempat stagnan beberapa bulan. Hal ini diakibatkan personel PRCF belum diizinkan masuk ke Nanga Lauk. Setelah mengikuti protokol kesehatan, akhirnya tim dari PRCF bisa kembali masuk. “Begitu kita masuk, langsung melakukan patroli hutan,” ujarnya.

“Aksi pertama adalah patroli batas desa. Kita mulai dari tanggal 20 Juli 2020 sampai berakhir 22 Juli 2020. Berarti tiga hari dua malam kita melakukan patroli batas desa. Patroli kali ini terlama yang pernah kita lakukan karena harus menginap, biasanya kita pulang dulu lalu esoknya lanjutkan lagi,” papar Yadi.

Saat patroli batas desa ketemu kayu besar yang bernilai ekonomis tinggi
Saat patroli batas desa ketemu kayu besar yang bernilai ekonomis tinggi

Patroli kali ini jauh lebih menantang dibandingkan patroli sebelumnya. Dalam beberapa hari terakhir, Desa Nanga Lauk dan sekitarnya sering hujan. Hal ini menyebabkan hampir seluruh hutan tergenang air. Permukaan air menjadi naik. Saat patroli, mereka sepenuhnya mengandalkan perahu motor.

“Ada juga harus berjalan kaki di dalam hutan. Tapi, harus melewati hutan rawa. Kondisi ini memang menyulitkan tapi tidak mengurangi semangat tim patroli untuk terus melakukan tugasnya. Setiap titik batas desa kita datangi walau melewati belantara hutan yang berat,” cerita Yadi.

Selama tiga hari dua malam mereka melakukan patroli. Semua flora dan fauna yang mereka temukan selama perjalanan menuju batas desa, mereka catat menggunakan smartpatrol. Semua terdokumentasi dengan baik. Dokumen tersebut nantinya dianalisis sesuai standar.

Perahu motor menjadi sarana penting untuk patroli batas desa
Perahu motor menjadi sarana penting untuk patroli batas desa

Tidak Ada Kerusakan Hutan

Selama patroli batas desa, tidak ada kendala di lapangan. Semua berjalan sesuai rencana. Satu-satunya kendala hanya hujan yang datang tiba-tiba. Saat hujan datang, mereka harus cepat memasang tenda untuk berteduh. Kondisi ini menyebabkan pergerakan patroli menjadi lambat.

Belum lagi hutan yang dilewati menjadi tergenang. Ketinggian air bisa mencapai 30 cm. Mereka harus lewati demi mencapai titik batas desa. Walau demikian, seluruh titik batas desa bisa mereka capai. (ros)