Kegiatan dokumentasi intensif selama lebih dari 20 hari telah dilakukan oleh staf Komunikasi dan Pengelolaan Pengetahuan PRCF Indonesia, Abroorza Ahmad Yusra, dan fotografer/volunteer PRC Foundation asal Amerika Serikat, Scott Nishiki.

Sejak 15 Oktober hingga 1 November, mereka telah mengunjungi lima dari enam desa yang menjadi wilayah pendampingan PRCF Indonesia, yakni Tanjung, Nanga Betung, Sri Wangi, Nanga Jemah, dan Nanga Lauk.

Abroorza tengah merekam suasana hutan
Abroorza tengah merekam suasana hutan di Desa Nanga Jemah

Kegiatan pendokumentasian ini bertujuan merekam secara visual maupun audio-visual aktivitas LPHD, tim patroli, serta keseharian masyarakat. Khusus untuk patroli ke hutan, tidak semua hutan desa dikunjungi. Hanya di Desa Tanjung dan Desa Nanga Jemah. Di kedua hutan desa tersebut, Abroorza dan Scott berhasil mendokumentasikan keberadaan beberapa jenis ular, tarsius, serta beragam jenis kodok, bunga, dan pohon-pohon besar. Mereka mengikuti kegiatan patroli yang tengah dilangsungkan. Sebagian besar satwa dijumpai pada malam hari.

“Selama perjalanan malam hari, saya sangat senang bisa melihat berbagai hewan. Saya sangat bisa melihat binatang-binatang tersebut, walau hanya dalam waktu yang singkat. Patroli tim menjadi sangat penting dalam menjaga keberlangsungan kelestarian flora dan fauna yang ada di desa mereka,” cerita Scott.

ular
Tampilan layar kamera menunjukkan salah satu ular yang berhasil dipotret di Desa Nanga Jemah

Di Nanga Lauk, Scott dan Abroorza berhasil mengabadikan kegiatan pemanenan madu. Saat ini, kondisi air sedang pasang dan pemanenan madu dilakukan di atas sampan. “Masyarakat di sini, mereka sangat ahli dalam memanen madu, hanya dalam sepuluh menit. Saya berharap kegiatan ini bisa terus berlangsung. Saat ini, kita bisa melihat Ucil (pemanen madu berusia 19 tahun), sudah begitu ahli dalam memanen madu,” ujar Scott.

Pembenahan Media

Hasil foto dan video selanjutnya akan diproses menjadi materi-materi yang siap dipublikasi. Saat ini, Yayasan PRCF Indonesia dan PRC Foundation tengah membenahi media-media komunikasi, terutama yang berbasis digital, seperti website, kanal Youtube, serta media-media sosial lainnya.

“Target kita, konten-konten yang tersedia nantinya punya standar esensi dan estetika. Mudah-mudahan, pada Januari 2023, semua media kita sudah punya ‘wajah’ baru,” kata Abroorza.

Performa dan kualitas media merupakan salah satu hal yang sangat penting, mengingat hal itu merupakan cerminan dari profil yayasan termasuk setiap aspek kegiatannya. Melalui media, publik bisa mengenal dan mengetahui apa saja yang tengah dan telah dicapai oleh PRCF. (roj/ros)