reklamasi lahan kritis di desa nanga yen

Penghijauan di Desa Nanga Yen, Kapuas Hulu

reklamasi lahan kritis di desa nanga yen
Penanaman Bibit Karet di Lahan Kritis

Subuh hari masih menyisakan gerimis dengan udara yang masih relatif dingin dan membuat grafitasi di sekitar tempat tidur tempat menjadi sangat tinggi untuk sebagian orang. Tapi tidak dengan kami, perjalanan kurang lebih 13 jam dari Pontianak menuju Tepuai masih harus dilanjutkan menuju desa Nanga Yen yang memakan waktu lebih kurang setengah jam. Nanga Yen adalah salah satu desa di wilayah Kapuas Hulu, tepatnya di Kecamatan Hulu Gurung.

Awan mendung mungkin sudah tepis menjadi hujan semalam, kalaupun masih ada, mungkin sudah terbawa angin ke tenggara. Langit sangat cerah, matahari melimpahkan sinarnya. Kami, Saya (Janiarto), Rio dan Pandi duduk-duduk di teras rumah Sekdes Nanga Yen yang sangat ramah, berbincang sambil saling mengenal.

Beberapa orang tampak berlalu lalang membawa tanaman-tanaman berkayu dalam polybag. Tanaman-tanaman itu akan digunakan untuk reklamasi lahan yang berada di wilayah desa Nanga Yen. Kegiatan penghijauan itulah yang ingin saya ceritakan disini.

Kegiatan penghijauan di desa Nanga Yen merupakan salah satu program dari PRCF Indonesia dengan dana yang bersumber dari program TFCA dari Kehati. Dalam pelaksanaan kegiatan penghijauan ini, PRCF Indonesia bekerjasama dengan Koperasi Serba Usaha “Unyap Bina Usaha” yang berada di Desa Nanga Yen.

Kegiatan penanaman dimulai sekira pukul 09.00 WIB. Lebih dari 40 warga masyarakat anggota koperasi telah bersiap di lahan yang menjadi lokasi penghijauan. Ada yang menarik dari kegiatan ini, yaitu jumlah wanita yang sangat dominan. Koperasi Unyap Bina Usaha di Desa Nanga Yen memang didominasi oleh kaum perempuan. Hal ini menjadi indikator bahwa wanita juga memegang peranan penting dalam akfitas sosial di Desa Nanga Yen.

Kegiatan penanaman Bibit Karet
Kegiatan penanaman Bibit Karet

Suasana yang sangat ceria dan semangat yang tinggi dari ibu-ibu anggota koperasi tersebut sangat jelas terlihat di raut wajah mereka. Menggunakan bambu yang dipotong sepanjang lima meter menjadi alat untuk menentukan jarak tanam. Sambil bersenda gurau mereka selesaikan satu persatu bibit karet yang telah disediakan beberapa bulan sebelumnya. Meskipun panas semakin terik di lahan terbuka yang mereka tanami, semangat mereka tidak surut. Lahan seluas lebih kurang setengah hektar tersebut selesai dalam waktu kurang dari dua jam.

Foto bersama saat istirahat siang setelah kegiatan penanaman
Foto bersama saat istirahat siang setelah kegiatan penanaman

Lepas istirahat dan makan siang kegiatan penanaman dilanjutkan di lahan yang berbeda dengan metode yang lebih kurang sama, kecuali panas matahari yang semakin membakar. Namun tetap, semangat tetap membara bersama bara matahari di langit. Menjelang sore, kegiatan penanaman selesai dan semua kembali ke kediaman masing-masing.

Demikianlah cerita singkat kegiatan penghijauan di Desa Nanga Yen ini. Semoga bisa bermanfaat dan barangkali bisa menginspirasi rekan-rekan dan kami sendiri untuk tetap menjaga alam dan lingkungan agar tetap lestari dan bisa memanfaatkannya secara bijaksana dan berkelanjutan.

Oleh: Janiarto Paradise

Please follow and like us:
error0