Azri Achmad di sela- sela mengikuti pelatihan SLA di Wagi Malang

Personel PRCF Ikuti Pelatihan Sustainable Livelihood Approach di Wagi Malang

Pontianak (PRCF) – Tak hanya memberdayakan masyarakat, PRCF Indonesia juga terus meningkatkan kapasitas kemampuan. Pada pelatihan Sustainable Livelihood Approach (SLA) yang digelar oleh Dial Foundation dan East Java Ecotorism Forum (EJEF), PRCF mengirimkan satu personelnya, Azri Achmad. Pelatihan tersebut digelar di Pendopo Kembang Kopi Glagah Ombo Sumbersuko Kecamatan Wagir Kabupaten Malang Jawa Timur.

“Pelatihannya sangat bermanfaat. Tentunya apa yang saya dapatkan dalam pelatihan akan diterapkan di Nanga Lauk,” kata Program Specialist for Livelihoods PRCF Indonesia, Azri Achmad S Hut, Senin (24/2/2020).

Dijelaskan Azri, pelatihan Sustainable Livelihood Approach ditujukan pada mereka yang bergelut pada bidang pemberdayaan masyarakat. PRCF Indonesia memiliki program pemberdayaan ini di Nanga Lauk. Fasilitator harus memiliki pengetahuan luas di bidang pemberdayaan masyarakat.

Adapun materi yang diberikan adalah meliputi Sustainable Livelihood Approach (SLA), pengggalian data informasi, penyusunan Renstra (Rencana Strategi), MEL, pengorganisasian masyarakat, dan refleksi fasilitator. Pelatihan ini mengusung tema yakni “Membangun tanpa memahami apa yang akan dibangun adalah penghancuran”.

Pelatihan diadakan di Pendopo Kembang Kopi yang diselenggarakan oleh Dial Foundation dan East Java Ecotorism Forum (EJEF). Fasilitator pelatihan berasal dari koperasi fasilitator Nusantara.

Pelatihan ini sendiri sudah dilaksanakan sejak tahun 2017, sampai dengan saat ini sudah ada tiga angkatan. Terdapat lima seri tema yang dilakukan setiap dua bulan sekali dengan tujuan mengembangkan praktik-praktik pendampingan dan pembangunan masyarakat (community development).

Total ada sebanyak 30 peserta dalam giat inovatif ini. Mereka berasal dari Jawa Timur, Malang Raya, DIY, Papua, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. “Dari Kalbar kebetulan saya sendiri yang diutus oleh PRCF Indonesia,” tambah Azri.

Peserta kesehariannya adalah pelaku pembangunan di desa, dari aktifis LSM, perguruan tinggi dan komunitas yang akan mengembangkan program pembangunan kelompok masyarakat, masyarakat desa atau suatu wilayah tertentu.

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan skill fasilitator, agar bisa menjalankan dampingan dan fasilitasi di lokasi tugas masing-masing.

Sementara hasil yang diharapkan adalah peserta mampu menjalankan fasilitasi setelah melakukan tahapan : pengamatan, pengkajian, penghitungan (kalkulasi) atas potensi, aset dan modal pada masyarakat itu sendiri.

Selama seminggu, puluhan peserta terlihat antusias hingga pelatihan berakhir. Hal ini karena penerapan metode partisipan oleh fasilitator pemateri kepada peserta. Di mana seluruh peserta diberi kebebasan melakukan sharing wacana, sharing pengalaman, dan konsultasi.

“Kami merasa bersyukur karena giat berjalan sukses dengan menerapkan metode partisipasi dan egaliteris. Sehingga antar peserta dan fasilitator pemateri tidak ada batas agar bebas berinteraksi sharing info, wawasan dan pengalaman,” cerita Azri. (ros)