Saat Patroli Hutan Desa Ketemu dengan Pohon Raksasa

Pohon kawi raksasa yang ditemukan tim patroli LPHD Lauk Bersatu, 29 Oktober 2019

Pontianak (PRCF) – Patroli hutan yang dilakukan LPHD Lauk Bersatu sudah menjadi tugas rutin. Setiap bulan, lembaga yang selalu didampingi Yayasan PRCF Indonesia itu melakukan patroli hutan desa maupun hutan produksi terbatas. Pada 29 Oktober 2019 lalu, tim patroli hutan kembali menjalankan tugas. Satu hal menarik dari patroli kali ini menemukan pohon dengan ukuran sangat besar.

“Saat kami terus masuk ke kawasan hutan desa, secara tidak sengaja bertemu beberapa pohon kawi, Ukurannya sangat besar. Bisa dikatakan pohon raksasa. Tentunya ini menjadi aset besar bagi hutan desa Nanga Lauk,” cerita Yadi Purwanto perwakilan PRCF Indonesia yang mendampingi tim patroli hutan LPHD Lauk Bersatu.

Penemuan pohon kawi raksasa tersebut merupakan kabar gembira bagi tim patroli LPHD. Sebab, pohon raksasa itu sebagai indikator bahwa hutan desa yang dimiliki warga Nanga Lauk masih terjaga dengan baik. Bisa dikatakan, adanya pohon raksasa menjadi ikon tersendiri bagi hutan desa.

Pohon kawi raksasa merupakan indikasi bahwa hutan desa Nanga Lauk masih terjaga dengan baik

Berdasarkan cerita dari warga Nanga Lauk, dulunya kawasan hutan di sekitar desa menjadi incaran warga. Maksudnya, pohon yang bernilai tinggi menjadi sasaran untuk ditebang untuk dijual. Untung saja, muncul kesadaran warga sehingga aksi pembalakkan hutan bisa cepat dihentikan. Adanya pohon raksasa yang baru saja ditemukan tim patroli mengindikasikan bahwa kawasan hutan desa masih tetap lestari.

“Dugaan saya, pasti tidak ada lagi pohon dengan ukuran besar. Soalnya, dulu kawasan ini menjadi ajang pembalakan. Ternyata, dugaan saya salah. Pohon besar masih banyak ditemukan. Ini menjadi kabar gembira buat tim patroli. Kita akan berusaha sekuat tenaga, pohon-pohon besar yang kita temukan dijaga sebaik mungkin dari aksi pembalakan liar,” jelas Yadi.

Hutan desa Nanga Lauk seluas 1.430 hektare merupakan harta karun. Tidak hanya untuk warga Nanga Lauk itu sendiri, melainkan harta karun dunia. Sebab, dari hutan desa tersebut bisa menghasilkan 4.731 ton stok karbon. Dengan potensi besarnya itu, PRCF Indonesia selalu memberikan pendampingan agar hutan desa dapat terjaga dengan baik. (ros)

 

Please follow and like us:
error0