Fasilitator PRCF Indonesia, Rio Afiat dan Yadi Purwanto ambil bagian dalam pelatihan Susutainable Livelihood Approach (SLA) atau Pendekatan Penghidupan Lestari. Lokasinya di Dusun Ngemplak Desa Sumbersuko Kecamatan Wagir Kabupaten Malang Jawa Timur. Acara ini berlangsung dari 30 September sampai 5 Oktober 2020.

“Alhamdulillah, baru nyampe di Bandara Juanda,” pesan Yadi Purwanto saat pesawatnya mendarat dari Bandara Juanda Surabaya Jawa Timur, Selasa (29/9/2020).

Pelatihan SLA bukan baru pertama diikuti oleh fasilitator PRCF Indonesia. Pelatihan kali ini adalah untuk Angkatan ke-3 Seri 1. Rio sendiri adalah Program Manager PRCF Indonesia yang sehariannya bersentuhan langsung dengan masyarakat binaan. Begitu juga dengan Yadi Purwanto, Program Conservation PRCF Indonesia. Karena sering bersentuhan dengan masyarakat terutama di Desa Nanga Lauk, mereka juga harus memiliki kemampuan Pendekatan Penghidupan Lestari.

“Pelatihan ini sangat diperlukan dalam melakukan kegiatan perhutanan sosial di masyarakat. Itu sebabnya, PRCF selalu mengirimkan fasilitator untuk mengikuti kegiatan ini. Harapannya agar pendekatan program kerja terhadap masyarakat menjadi lebih mudah diterima,” kata Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut.

Rio Afiat dan Yadi Purwanto berada di Bandara Supadio sebelum bertolak ke Wagir Malang

Tujuan pelatihan SLA adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan Pengkajian Penghidupan Lestari masyarakat sebagai dasar penyusunan kerangka Rencana Strategi Kelompol/Lembaga bahkan Pemerintahan Desa (yang dikembangkan menjadi RPJM Desa) dan kerangka kegiatan tahunan (RKP Desa). Output pelatihan, mengenal dan paham tantang SLA dan prinsip-prinsip Partisipasi, mengenal dan paham mentusun Rencana Strategi Kelompok/Masyarakat dan RPJM Desa.

Materi SLA

Dalam pelatihan SLA ada sejumlah materi yang ditransfer kepada seluruh peserta. Di antara materi tersebut Konsep Pengkajian Penghidupan Lestari (Sustainable Livelihood Appraisal), Metode penggalian data, Perinsip-prinsip partisipasi, Analisa Kerangka Logis, Pemantauan Penilaian dan Pembelajaran, dan Pengorganisasian Masyarakat.

Satu hal menarik dari pelatihan SLA ini, lokasi bukan di perkotaan melainkan di dusun. Peserta tidak menginap di hotel, melainkan home stay atau rumah penduduk. Pesertanya tidak hanya dari Kalbar, melainkan dari berbagai daerah di Indonesia.

“Kurang lebih seminggu Yadi dan Rio mengikuti pelatihan tersebut. Kita berharap, mereka bisa menyerap seluruh materi dan bisa diaplikasikan di Nanga Lauk,” harap Imanul. (ros)