Tenun ikat dayak semakin populer di dunia salah satunya promosi yang gencar dilakukan oleh Fifiyati Hoesni dan Windi Irani Suci

Tenun Ikat Dayak untuk Konservasi Hutan

Tenun ikat Dayak semakin banyak dikenal oleh masyarakat. Dulunya hanya dikenal di kampung, sekarang malah mendunia. Hal ini tidak lepas dari upaya Galeri Tenun Ikat Dayak yang rutin melakukan promosi di setiap ajang pameran baik dalam dan luar negeri.

“Kita baru saja mengikuti Pameran UMKM Karya Kreatif Indonesia tahun 2020 di Pendopo Kantor Gubernur Kalbar. Inilah bagian dari upaya kita untuk mempromosikan kain tenun ikat. Bukan kali ini saja kita ikut pameran, setiap tahun kita ikut pameran baik di dalam negeri maupun luar negeri,” kata pengelola Galeri Tenun Ikat Dayak, Fifiyati Hoesni di kantornya, Senin (7/9/2020).

Fifiyati yang Koordiantor Pemberdayaan Perempuan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat PRCF Indonesia menjelaskan, tenun ikat dayak produk yang dihasilkan oleh masyarakat lokal yang tinggal di pinggiran hutan. Masyarakat lokal ini menjaga hutannya dengan baik dan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu untuk menambah pendapatan keluarga.

“Ketika orang luar membeli kain tenun ikat, secara otomatis ikut mendukung upaya konservasi hutan baik yang dilakukan masyarkat lokal maupun lembaga yang peduli terhadap hutan. Itu sebabnya, kita sering menggelar pameran tenun ikat dayak, sekaligus menyampaikan pesan konservasi hutan ke seluruh dunia,” papar Fifiyati yang didampingi Windi Irani Suci.

Lismaryani saat mengujungi stand Galeri Tenun Ikat Dayak dalam Pameran UMKM di Pendopo Gubernur Kalbar (sumber: Tribun Pontianak)
Lismaryani saat mengujungi stand Galeri Tenun Ikat Dayak dalam Pameran UMKM di Pendopo Gubernur Kalbar (sumber: Tribun Pontianak)

Lanjutnya, keikutsertaan dalam Pameran UMKM di Pendopo Gubernur sebagai bukti betapa aktif pihaknya dalam mempromosikan tenun ikat dayak ke masyarakat luas. Apalagi ada keinginan dari Dekranasda Kalbar didukung Bank Indonesia untuk mendigitalisasi pasar terhadap produk asli dari masyarakat Kalbar. “Kita jelas sangat senang akan hal itu,” ujarnya.

Setiap tahun Galeri Tenun Ikat ini menggelar pameran di Jakarta. Bahkan, sampai keluar negeri seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. Sebagai bukti, pada tahun 2019 lalu, pihaknya ikut ambil bagian dalam Festival of Art & Culture (FAC) di Kuching Sarawak Malaysia,

“Tenun ikat yang kita display sangat terkenal di luar negeri. Tidak hanya di Malaysia, tapi juga di Filipina dan Brunei. Bahkan, di Jepang juga mulai dikenal. Karena kita pernah menggelar pameran di sana,” tambah Fifi.

Peningkatan Ekonomi

Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Immanul Huda menambahkan, tenun ikat merupakan produk yang dihasilkan masyarakat lokal di sekitar hutan. Mereka sangat arif dalam memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. Tentunya ini sangat penting bagi peningkatan ekonimi.

“Tenun ikat ini sangat upaya peningkatan ekonomo melalui pengembangan hasil hutan bukan kayu dan pelestarian budaya masyarakat. Bukan hanya tenun ikat, ada eberapa produk lainnya seperti madu dan tengkawang dikelola oleh galeri ini. Semua bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan,” jelas Imanul. (ros)