Fifiyati Hoesni (kanan) dan Wiwin Irani Suci memamerkan kain tenun ikan di Festival Art and Culture di Kuching Sarawak Malaysia

Tenun Ikat Tampil Elegan di Festival of Art & Culture

Pontianak (PRCF) – Mendengar tenun ikat, bagi orang Kalbar, ingatan pasti tertuju pada tenun khas Dayak dari Kabupaten Sintang. Tenun ikat sudah menjadi ikon utama produk kerajinan Provinsi Kalbar. Ketenaran tenun ini sudah tak asing lagi. Tak hanya terkenal di daerah, melainkan sudah ke mancanegara. Sebagai contoh, pada Festival of Art & Culture (FAC) di Kuching Sarawak Malaysia, Galeri Kerajinan Tenun Ikat Dayak di bawah binaan PRCF Indonesia ikut ambil bagian. Festival tersebut digelar Plaza Merdeka & the Old Courthouse Kuching pada 19-23 November 2019.

“Keikutsertaan kita dalam festival itu bukan kali ini saja, melainkan sudah beberapa kali. Tenun ikat yang menjadi andalan kita sangat diminati,” kata Fifiyati Hoesni, Koordiantor Pemberdayaan Perempuan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat PRCF Indonesia.

Fifiyati Hoesni memperlihatkan berbagai jenis kain tenun ikat

Pada festival tersebut, tidak hanya Kalbar ambil bagian. Ada juga perwakilan dari Filipina, Brunei Darusalam, dan Malaysia sendiri. Bukan sekadar memajang hasil kerajinan, pada festival tersebut juga saling tukar pengetahuan terkait kerajinan tradisional yang dihasilkan oleh perempuan. Yang lebih penting lagi, bertukar pikiran bagaimana membangun jaringan bisnis kerajinan antarnegara.

“Tenun ikat yang kita display sangat terkenal di luar negeri. Tidak hanya di Malaysia, tapi juga di Filipina dan Brunei. Bahkan, di Jepang juga mulai dikenal. Karena kita pernah menggelar pameran di sana,” tambah Fifi didampingi Windi Irani Suci.

Kerajinan tenun ikat merupakan khazanah seni dari leluhur Kalbar. Tenun ini sudah lama ada. Sekarang, tenun tersebut masih tetap eksis. Namun, eksistensi itu bisa hilang, bila tidak ada kepedulian untuk mempromosikannya. PRCF Indonesia memiliki kepedulian terhadap tenun ikat ini. Tujuannya agar tenun ikat tetap eksis, dan kesejahteraan pelaku kerajinan meningkat.

Adanya promosi dengan mengikuti berbagai pameran baik dalam negeri maupun luar negeri, menjadikan tenun ikan terkenal. Terkenal tidak hanya namanya, melainkan permintaan akan tenun ikat itu sendiri. Apabila permintaan meningkat, tentu tingkat produksi juga meningkat. Apabila produksi meningkat, pendapatan para pengerajin juga meningkat. Coba bayangkan apabila permintaan rendah, produksi pasti lesu. (ros)