Guna meningkatkan kapasitas LPHD Lauk Bersatu dan pengelola rumah baca Desa Nanga Lauk, empat pengurusnya berkunjung ke Perpustakaan Bahagia Mendawai, Kampung Caping Mendawai di Pontianak, 29 Mei 2023 lalu. Mereka didampingi oleh Rio Afiat, PRCF Indonesia.

“Ini bagian dari upaya kita agar pengelola rumah baca di Nanga Lauk bisa belajar soal manajemen pengelolaan perpustakaan. Harapannya, perpustakaan Nanga Lauk bisa dikelola dengan baik dan bisa menghadirkan kegiatan-kegiatan yang dapat mencerdaskan anak bangsa,” harap Rio Afiat di kantornya, Selasa (6/6/2023).

Saat berkunjung ke Perpustakaan Bahagia Mendawai itu, mereka disambut oleh Sinta Devianti beserta pengurus lainnya. Sementara dari pihak LPHD ada Hariska, Ketua LPHD, Lija Sari bendahara, Indra Seksi Kesekretariatan, Putriati Seksi Pendidikan dan Latihan dan Pengelolaan Perpustakaan. Dalam pertemuan terjadi sharing pengalaman antara LPHD dan Perpustakaan Bahagia Mendawai tentang tata kelola rumah baca atau perpustakaan.

Suasana dialog antara pengurus LPHD Lauk Bersatu dengan pengurus Perpustakaan Bahagia Mendawai

Sinta Devianti menceritakan, pengalaman sejak merintis perpustakaan di Kampung Mendawai sejak 2019. Awal dibentuk pengurus berjumlah 20 orang. Namun, seiring berjalannya waktu, pengurus yang masih bertahan lima orang. namun saat ini berkat perjuangannya, pengurus dan anggota Perpustakaan Bahagia Mendawai semakin ramai.

“Pembelajaran yang didapatkan dari berkurangnya pengurus yaitu bagaimana menjadikan perpustakaan sebagai pusat kegiatan masyarakat. Ini terutama pemuda dan anak-anak menjadi tempat yang nyaman, ceria dan bahagia dengan mengadakan even-even yang inovatif dan kreatif,” cerita alumni Untan ini.

Atas perjuangan Sinta dan pengurus lainnya, pada tahun 2021 Perpustakaan Bahagia Mendawai menjadi pemenang juara 1 lomba perpustakaan nasional. Penghargaan itu tidak didapat begitu saja, melainkan kerja keras semua pengurus.

Pembelajaran Didapat

Dari kunjungan ke Perpustakaan Bahagia Mendawai, pihak LPHD Lauk Bersatu mendapatkan sejumlah pembelajaran. Pertama, tekad dari kelompok pemuda, secara sadar dan ikhlas mewujudkan bangsa yang cerdas dimulai dari rumah, komunitas kecil, desa sampai pada masyarakat luas.

Kedua, melakukan kegiatan yang inovatif dan kreatif, sehingga perpustakaan bukan hanya sebagai ruang baca, atau gudang buku namun menjadi pusat kreativitas. Ketiga, kolaborasi dengan multipihak, membangun jejaring dan menambah teman dengan yang satu frekuensi, misi yakni mencerdaskan bangsa. Keempat, pengelola perpustakaan atau rumah baca harus bergabung dengan komunitas sejenis baik di kabupaten, provinsi maupun di tingkat nasional. (rio/ros)