Agroforestri

Agroforestri Solusi Untuk Pencegahan Hutan dan Lahan dari Kebakaran

Semenjak masuknya PRCF Indonesia ke Kapuas Hulu, agroforestri semakin masif dikenalkan ke masyarakat. Diawali di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir, agroforesti dikenalkan sejak tahun 2019 lalu. Sampai sekarang, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) masih menjadikan agroforestri sebagai program utama.

Desa Nanga Lauk salah satu desa yang memiliki hutan desa di Kapuas Hulu. Hutan desa tersebut harus selalu dijaga dari deforestasi maupun degradasi hutan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah kebakaran hutan. Kebakaran hutan dan lahan sering terjadi bila musim panas. Tidak hanya di Kapuas Hulu, hampir merata di Provinsi Kalimantan Barat. Bila terjadi kebakaran hutan dan lahan, bencana asap pun tiba. Ketika bencana asap tiba, pasti memukul aktivitas masyarakat Kalimantan Barat secara keseluruhan.

Personel dari LPHD Lauk Bersatu foto bersama usai menyiapkan bedeng untuk bibit tanaman
Personel dari LPHD Lauk Bersatu menyiapkan bedeng untuk bibit tanaman sebagai implementasi program agroforestri

Semua sudah tahu, penyebab bencana asap muncul karena banyaknya kebakaran lahan dan hutan. Lantas, apa solusinya? Agroforestri bisa dijadikan salah satu solusi untuk mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Dengan agroforestri lahan-lahan kosong bisa dimanfaatkan secara optimal. Kemudian, hutan-hutan bisa terjaga dengan baik.

Berdasarkan teori, agroforestri sebagai alternatif bentuk penggunaan lahan memiliki fungsi dan dan peran yang lebih dekat kepada hutan, baik dalam aspek biofisik, sosial maupun ekonomi. Selain itu dapat mempertahankan hasil pertanian secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi sangat penting terhadap jasa lingkungan dan sering dipakai sebagai contoh dari sistem pertanian sehat. Adanya  agroforestri bisa memelihara fisik dan kesuburan tanah, mempertahankan fungsi hidrologi kawasan, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mempertahankan keanekaragaman hayati.

Nanga Lauk Sudah Mulai

Desa Nanga Lauk sudah mulai melakukan agroforestri berkat dampingan dari PRCF Indonesia. Agroforestri pertama kali dilakukan dengan menanam bibit pohon pakan lebah madu hutan. Desa Nanga Lauk sendiri terkenal dengan madu hutannya. Agar produksi madu terjaga dengan baik, pakan lebah juga harus tersedia banyak di hutan. Lewat program agroforestri, bibit pohon penghasil pakan lebah madu hutan ditanam di celah-celah hutan. Ada ribuan bibit pohon pakan lebah ini sudah ditanam.

Personel dari LPHD Lauk Bersatu menyiapkan bedeng untuk bibit tanaman sebagai implementasi program agroforestri
Pengangkutan bibit tanaman dari Nanga Pinoh menuju Nanga Lauk

Setiap tahun, program agroforestri ini diimplementasikan di Nanga Lauk. Tahun ini, LPHD Lauk Bersatu sudah mendatangkan 7.000 bibit tanaman yang dipesan dari Persemaian Semi Permanen Melawi Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Kapuas di Nanga Pinoh Kabupaten Melawi. Bibit itu sudah tiba di Nanga Lauk, 15 Juli 2022 dan sekarang dalam pengkondisian sebelum ditanam pada 18-30 Juli 2022.

Bibit pohon itu akan ditanam di lahan masyarakat yang sudah lama kosong atau terbiarkan. Lahan kosong itu apabila tidak diberdayakan atau ditanami pohon sangat berpotensi terjadinya kebakaran bila musim panas. Adanya pohon durian, petai, rambutan dan jengkol menjadikan lahan akan terjadi dengan baik. Sebab, pohon-pohon itu bisa menghasilkan buah bernilai ekonomi. Apabila sudah bernilai ekonomi pasti akan dijaga oleh masyarakat. Apabila sudah dijaga, sangat kecil kemungkinan terjadi Karhutla. (ros)

Continue Reading
Kunjungan Belajar

Analisis SWOT Ekowisata Nanga Lauk

Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats) atau Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman sering digunakan untuk mengetahui kekuatan maupun kelemahan sebuah lembaga atau organisasi. PRCF Indonesia pada pertengahan tahun 2020 lalu mendatangkan East Java Ecotourism Forum (EJEF) untuk melakukan penilaian (assessment) terhadap KUPS Ekowisata Desa Nanga Lauk Kapuas Hulu.
Dengan adanya analisis SWOT tersebut pihak KUPS Nanga Lauk mengetahui secara objektif tentang kekuatan maupun kelemahan. Dari analisis ini juga bisa dijadikan bahan evaluasi untuk perbaikan dan kemajuan ekowisata di Nanga Lauk. Berikut ini analisis SWOT oleh EJEF yang diketuai oleh Agus Wiyono.
Harapan Ekowisata
Dalam proses fasilitasi perumusan visi “sederhana” dilakukan menggunakan bahasa reframe “apa yang diimpikan di masa depan oleh KUPS Ekowisata “Nanga Lauk River Village Tourism” terhadap Subjek lain (wisatawan)?” Terhadap bingkai tersebut partisipan menyepakati bahwa : 1) mimpi jangka panjangnya adalah produk ekowisata mereka dikenal oleh wisatawan, secara berurutan (Kalimantan, dalam negeri, luar negeri); 2) mimpi jangka menengah adalah produk ekowisata mereka terjual; 3) mimpi jangka pendek mereka adalah amenitas yang dimiliki diperbaiki; sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan Warga Desa Nanga Lauk.
Partisipan menyepakati inventarisasi aset yang dimiliki meliputi :
1. Struktur kepengurusan KUPS Ekowisata “Nanga Lauk River Village Tourism” : 1) ketua; 2) sekretaris; 3) bendahara; 4) seksi kuliner; 5) penjaga bamboo house; 6) pemasaran; 7) pemandu wisata; 8) motoris; 9) periung.
2. Fasilitas yang dimiliki : 1) shelter orang utan; 2) bamboo house; 3) menara api; 4) perahu; 5) alat komunikasi; 6) sekretariat; 7) alat keselamatan; 8) papan jalan tracking; 9) homestay.
3. Objek yang dimiliki : 1) Danau (tunggal dan kematian); 2) Hutan Desa; 3) HPT; 4) HPL; 5) Sungai (Palin, Lauk, Temuru, Tunggal);
4. Atraksi yang dimiliki : 1) pengawasan satwa; 2) pengamatan burung; 3) penelitian; 4) susur sungai; 5) tracking; 6) mancing; 7) proses panen madu; 8) proses panen rotan.

Narasi Kualitatif
Terhadap ruang lingkup aset yang disepakati partisipan menyepakati beberapa narasi kondisi kualitatif yang ada sebagai berikut :
1. Jumlah Pengurus Kurang, hanya 50% dari kepengurusan yang aktif dan/atau jabatan yang ada telah terisi personil;
2. Belum ada Program Kerja, Pengurus belum pernah menyusun Rencana Strategis kelembagaan
sehingga tidak dapat dilakukan breakdown hingga menjadi program kerja tahunan;
3. Belum Ada Aturan Kerja, Pengurus belum memiliki Standart Operational Procedure kerja kelembagaan KUPS Ekowisata “Nanga Lauk River Village Tourism”;
4. Kekurangan Infrastruktur, pada evaluasi terkait infrastruktur didapati bahwa setidaknya : 1) rumah bambu memerlukan renovasi dan redesign; 2) papan jalan yang digunakan untuk tracking sekaligus pengamatan orang hutan mengalami kerusakan; hingga 3) belum dimilikinya peralatan pancing untuk penyediaan paket wisata memancing di Desa Nanga Lauk.
5. Persoalan Sampah, di Desa Nanga Lauk yang notabene berada di bantaran anak Sungai Kapuas dengan alirannya yang aktif sepanjang tahun, persoalan sampah menjadi problematika tersendiri, sampah terbawa sejak dari hulu sungai melalui kampung Nanga Lauk, ditambah lagi hingga saat ini desa belum memiliki sistem pengelolaan sampah mandiri yang mapan. Di sungai pula sebagian warga melakukan aktivitas domestik MCK (mandi cuci kakus);
6. Atraksi yang laku baru sebagian, memang sudah ada paket wisata yang dijual selama ini namun demikian hanya sebagian dari paket tersebut yang punya pengalaman “pernah laku”.

Stakeholders
Dalam pertemuan ini Partisipan menyepakati terkait stakeholders yang berkaitan dengan kegiatan KUPS Ekowisata “Nanga Lauk River Village Tourism” adalah :
1. Stakeholders Lingkup Dalam : PRCF, Pemerintah Desa Nanga Lauk, Masyarakat di luar aktivitas Ekowisata, Desa Palin, Desa Nanga Nyabau;
2. Stakeholders Lingkup Luar (dalam jangkauan relasi di sekitar Putussibau) : KPH, Pemda meliputi : Bupati, Dinas PU dan Binamarga, Bappeda, BPMD, Muspika, Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata., PLN, Bank Kalbar, Indosat (operator telepon), PT Annisa Surya Kencana (Perusahaan kayu pemegang ijin pemanfaatan hutan).
3. Stakeholders Lingkup Terluar (dalam jangkauan relasi di luar Putussibau) : Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, PT Cargill, Lestari Capital, dll.
Dalam ruang lingkup sebagaimana telah dibahas sebelumnya, partisipan kemudian menyepakati berbagai kondisi yang ditimbang dan disandingkan dalam sajian analisa SWOT sebagai berikut :
Kekuatan
Partisipan menghitung hal sebagai berikut sebagai kekuatan yang dimiliki oleh
Penyelenggaraan Ekowisata Desa Nanga Lauk :

Kekuatan produk :
1. Satu-satunya LPHD di Indonesia yang mendapat sertifikat Plan Vivo;
2. Nanga Lauk memiliki aset dan potensi atraksi yang beragam, aktifitas cukup padat sehingga dapat membuat orang memiliki alasan yang kuat untuk menginap di desa ini;
3. Memiliki produk madu hutan yang kualitasnya lebih bagus dan kuantitasnya lebih banyak
dibandingkan dengan desa palin dan Desa Nanga Nyabau, bahkan untuk produk madu ini proses pemanenan sudah menggunakan prinsip “berkelanjutan”;
4. Ikan berlimpah, sudah ada budidayanya (dalam keramba) hingga pada produk olahan;
Kekuatan kelembagaan :
5. Banyak anggota muda yang memiliki keunggulan kualitatif (pendidikannya tinggi, energik /
lincah, komunikatif, dan adaptif terhadap teknologi);
6. Sumber pendanaan lembaga kuat (pembiayaan program dari PT Cargill mencapai 25 tahun);
7. Lembaga memperoleh dukungan dari banyak pihak;
8. Kuatnya dukungan masyarakat baik yang terlibat langsung maupun yang tidak terlibat dalam penyelenggaraan Ekowisata Desa Nanga Lauk;
9. Keterlibatan anggota pada kegiatan lembaga terhitung masih solid;
10. Dengan adanya keterlibatan anggota muda maka menunjukkan sebenarnya proses regenerasi pada lembaga masih berjalan, hal ini merupakan satu unsur jaminan pada keberlanjutan program pengembangan Ekowisata Desa Nanga Lauk;

Kekuatan terkait fasilitas penyelenggaraan praktek ekowisata :
11. Fasilitas penyelenggaraan terhitung lengkap dan dalam keadaan bagus, meskipun ada beberapa catatan terkait jumlah, ketepatan fasilitas dan kebutuhan, maupun kebutuhan atas perbaikan;
Kekuatan lain :
12. Objek yang dikelola memiliki alas hak yang kuat yakni staus hutan desa yang didapat melalui skema perhutanan sosial;
13. Kualitas pelayanan dinilai sendiri dalam taraf “sedang”;
14. Hampir 50% varian produk yang ada sudah pernah laku terbeli.

Kelemahan
Kelemahan kelembagaan :
1. Jumlah personil aktif hanya separuh;
2. Kelompok Usaha ekowisata belum memiliki program kerja;
3. Kelompok usaha ekowisata belum memiliki aturan kerja tertulis;
4. Kurangnya pengalaman dan pengetahuan tentang usaha ekowisata;
5. Pemasaran tidak maksimal karena tidak ada orang dan terkendala jaringan internet;
Kelemahan peralatan :
6. Alat pancing untuk paket wisata memancing belum dimiliki;
7. Papan jungle track pengamatan orang utan mengalami kerusakan;
8. Rumah bambu perlu renovasi dan penataan ulang;
9. Ketiadaan sistem pengelolaan sampah;
10. Shelter pengamatan orang utan secara global membutuhkan perbaikan;
11. Amenitas objek kurang;
Kelemahan lain :
12. Jaringan telekomunikasi lemah;
13. Aturan pengelolaan pengunjung belum ada.

Kesempatan
Kesempatan pasar :
1. Penjualan paket wisata untuk pasar Kalimantan Barat dengan terintegrasi pada paket wisata Kapuas Hulu;
2. Penjualan oleh-oleh lokal dan/atau berbahan lokal yang sesuai selera pasar;
3. Ada peluang menjual untuk pasar educational group dan/atau escapist wisatawan asal Malaysia;
4. Peluang menjual paket edukasi untuk pasar Pontianak.

Ancaman
Ancaman penyelenggaraan :
1. Saingan produk wisata serupa dan/atau berbeda dari desa tetangga seperti Palin dan Nanga
Nyabau yang bahkan aksesnya lebih mudah;
2. Ancaman munculnya produk serupa di tempat lain;
3. Citra jelek Kota Lain yang berimbas pada Nanga Lauk;
4. Dukungan pemerintah Desa melalui kebijakan yang dapat berdampak secara langsung ataupun tidak, hal ini sangat dipengaruhi pula oleh iklim politik yang sedang terjadi di Desa Nanga Lauk terutama setelah pemilihan;
5. Ancaman beroperasinya kembali kerja perusahaan kayu di Hutan Produksi.

Continue Reading
Pengurus LPHD

Pengurus LPHD Lauk Bersatu 2022-2025 Terbentuk

Pengurus LPHD Lauk Bersatu Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu akhirnya terbentuk. Terbentuknya pengurus LPHD periode 2022-2025 ini telah melewati serangkaian seleksi.

Pasca pemilihan langsung ketua LPHD pada 18 Maret lalu, PRCF Indonesia memfasilitasi penyeleksian calon pengurus. Dalam seleksi calon pengurus itu ikut terlibat ketua terpilih, Hariska S Hut, Pemerintah Desa Nanga Lauk. Calon pengurus tersebut akan mengisi struktur kepengurusan di dalam LPHD itu sendiri. Berikut ini kepengurusan LPHD Lauk Bersatu periode 2022-2025 berdasarkan hasil seleksi:

Ketua : Hariska, S. Hut

Sekretaris : Sariatun

Bendahara : Lija Sari

Kabid Penguatan Kelembagaan dan SDM : Dadang Kurniawan

Seksi Pendidikan dan Latihan  : Salina

Seksi Kesekretariatan dan Penanganan Pengaduan : Dina Mardiana

Kabid Perlindungan dan Pengawasan : Andi Abdul Ahmad

Seksi Patroli   : Suryanto

Seksi Rehabilitasi  : Sandi

Kabid Pemanfaatan Hasil Hutan dan Pengembangan Usaha : Arsad

Para pengurus tersebut dinilai mampu untuk menjalankan tugas dan kewajibannya. Usai terbentuk, PRCF akan kembali mendampingi untuk rapat pengurus. Rapat tersebut akan membahas rencana kerja berikutnya. Rapat ini juga sekaligus menyatukan kekuatan seluruh pengurus dalam menggerakkan LPHD.

Pengurus LPHD
Suasana seleksi calon pengurus LPHD Lauk Bersatu di Kantor Desa Nanga Lauk

“Pengurus sudah terbentuk. Sekarang, tinggal rapat pengurus untuk langsung bertugas menjalankan visi dan misi LPHD. PRCF tetap mendampingi agar LPHD semakin mandiri dan kuat dalam organisasi,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat.

PRCF Indonesia yakin di bawah kepemimpinan Hariska, LPHD Lauk Bersatu akan semakin maju. Hariska yang sarjana kehutanan tentu sudah memahami apa tugas dan kewajiban yang diemban. “Harapan kita, Hariska bisa mensolidkan seluruh pengurus. Karena solid atau kompak sangat dibutuhkan untuk menggerakkan LPHD,” harap Rio.

Peran Wanita

Terpilihnya Hariska sebagai Ketua LPHD Lauk Bersatu membuktikan bahwa masyarakat Nanga Lauk tidak lagi mempermasalahkan gender. Siapa pun dia, apakah laki-laki atau wanita, bila dinilai layak memimpin LPHD, akan dipilih warga secara jujur. Hariska menjadi wanita pertama di Provinsi Kalbar menjadi Ketua LPHD yang selama ini didominasi laki-laki.

Sekarang tinggal menunggu gebrakan dari Hariska dengan seluruh pengurusnya. Sebagai sarjana kehutanan, tentu ia sangat memahami soal konservasi, agroforestry, patroli hutan, maupun livelihood. (ros)

Continue Reading
Hujan hujan tripis

Stratifikasi Areal dan Pendugaan Biomassa

Sebelumnya telah dibahas apa itu cadangan karbon serta metode pengukurannya, cara pembuatan plot,  kali ini merupakan kelanjutan dari materi sebelumnya. Membahas tentang stratifikasi areal  cadangan karbon dan pendugaan biomassa. 

Melakukan Stratifikasi Areal

1. Buat stratifikasi berdasarkan kelas kerapatan pohon:

  • – Rapat
  • – Sedang 
  • – Jarang 
  • – Terbuka

Membuat kelas kerapatan pohon dengan metoda NDVI (contoh seperti yang telah dibuat Erik Munandar di HD Nanga Lauk dan NDVI yang dibuat Gunawan Wibisono Desa Tanjung Patroli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.  Pada masing-masing kelas stratifikasi dibuat 5 buah plot pengukuran karbon. Kegiatan ini sebagai pre assessment (pendugaan awal) untuk mengetahui apakah jumlah plot yang dibuat sudah mencukupi atau masih kurang. Jika kurang masih bisa dilakukan penambahan plot.

Menentukan Jumlah Plot

Mengacu pada SNI Pengukuran Cadangan Karbon, tidak menyebutkan secara khusus banyaknya jumlah plot yang dibutuhkan, namun Standard Error maksimal yang diperbolehkan adalah 20%. Cara menghitung banyaknya plot pengukuran karbon

1  Buat stratifikasi kerapatan pohon

2  Stratifikasi menjadi 4 kelompok

  • – Penutupan Hutan Rapat
  • – Penutupan Hutan Sedang
  • – Penutupan Hutan Jarang
  • – Nin Hutan

3 Pada tahap Pre Assessment, buat sebanyak 5 plot pengukuran karbon (20 m x 50 m) masing-masing pada kelas kerapatan hutan, yaitu: 5 plot pada penutupan hutan rapat, 5 plot pada penutupan hutan sedang dan 5 plot pada penutupan hutan jarang. Kemudian buat 3 plot pada kelompok non hutan. Dari Pre Assessment akan diketahui berapa jumlah plot yang diperlukan

4 Data yang diolah adalah kandungan karbon atas permukaan, khususnya untuk tingkat pohon saja (diameter ≥ 20 cm) pada plot 20 m x 20 m saja atau luas=0.004 ha

Hasil perhitungan kandungan karbon tingkat pohon pada masing-masing strata

Data-data di dalam table dimasukan ke dalam Tabel Winrock dengan catatan:

  • – Total luas harus 10.000 Ha sesuai dengan total areal yang dihitung karbonnya
  • – Tentukan level of error (menurut SNI maksimum 20%)
  • – Confidence level bisa: 90%, 95%, atau 99%.
  • – Lakukan perhitungan standard deviasi dari data karbon pada plot di masing masing-stara
  • – Input pada Kalkulator Winrock.
  • – Hasilnya adalah:Kalkulator Winrock menunjukan bahwa jumlah plot yang perlu dibuat lagi untuk masing-masing strata

Cara Pengukuran Biomassa

1 Pengukuran Biomassa di atas Permukaan

Pengukuran biomassa di atas permukaan (Above Ground Biomass) di lahan mineral dilakukan pada pohon, semai dan tumbuhan bawah. Cara pengukurannnya sama dengan yang dilakukan pada pengukuran biomaasa di lahan gambut

– Pengukuran pohon.  Biomassa pohon didekati dengan melakukan pengukuran diameter pohon setinggi dada (± 1.3 m) pada plot ukuran 20 m x 20 m (untuk pohon berdiameter ≥ 20 cm); jika diperlukan  maka dilakukan pengukuran pada plot 20 m x 50 m (untuk pohon berdiameter ≥ 30 cm. Alat yang digunakan Diameter tape

– Pengukuran tiang. Biomassa tiang didekati dengan melakukan pengukuran diameter setinggi dada (± 1.3 m) pada plot ukuran 10 m x 10 m (untuk pohon berdiameter ≥ 10 cm dan < 20 cm) Alat yang digunakan Diameter Tape

– Pengukuran pancang.  Biomasssa pancang didekati dengan melakukan pengukuran diameter pancang setinggi dada (± 1.3 m) pada plot ukuran 5 m x 5 m (untuk pohon berdiameter ≥ 2.5 dan < 10 cm. Alat yang digunakan Caliper

– Pengukuran semai dan tumbuhan bawah. Potong semua semai (anakan pohon berdiameter < 2.5 m) tanpa mengikutkan bagian akar yang terdpat dalam plot ukuran 2 m x 2 m, timbang berat basahnya, catat berat basah total. Ambil sampelnya  seberat 250-300 gram, masukan ke dalam platik dan beri label. Potong semua tumbuhan bawah (selain ankan pohon) yang terdapat pada plot ukuran 2 m x 2 m, timbang berat basahnya, catat berat basah total, ambil sampelnya 250-300 gram, masukan ke dalam platik dan beri label. Bawa masing-masing sampel tersebut ke laboratorium, lakukan pengeringan oven contoh di lapangan dengan suhu 85° C selama 24 jam. Timbang masing-masing berat kering dari sampel semai dan tumbuhan bawah. Lakukan analisis kandungan karbon organic masing-masing untuk semai dan tumbuhan bawah

2  Pendugaan Biomassa di Atas Permukaan

  • – Pendugaan biomassa untuk hujan tropis (untuk tingkat pohon, tiang, dan pancang) dapat menggunakan persamaan allometric Chave et.al., (2014). Dapat mengggunakan 2 persamaan, tersedia data tinggi dan tidak tersedia data tinggi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendugaan kandungan karbon atas permukaan C-bap =TAGB x C organic Serapan CO₂ = (44/12) x c-bap

– Pendugaan Biomassa Semai dan Tumbuhan Bawah

 

– Pendugaan Biomassa Nekromas

(1)  Pohon Mati. Biomassa dihitung menggunakan persamaan allometric seperti pengukuran biomassa pohon hidup

Ln (TABG) = c + a ln (D)

TAGB =e x Ln (TABG)

Biomasssa pohon mati : Biomassa x factor koreksi

Total Biomassa pohon mati dalam plot: no 1+ no 2+ no 3…= ..ton/ha

Jika diketahui C-organik = 47% maka kandungan karbon pohon mati (C-pm) adalah

C-pm = B x % C organic = ..ton/ha

(2)  Kayu Mati

 

Vkm = 0.25 3.14 (dp+du/2 x 100)² x p

Biomassa kayu mati;

Bkm = Vkm x Bj

Total biomassa kayu mati = Bkm 1 + Bkm 2+ Bkm 3+…. = …ton/ha

Jika diketahui C-organik = 47%, maka kandungan karbon kayu mati (C-km) adalah:

(C-km) = B x % C-organik = …ton/ha

– Serasah

Pengamatan serasah dan tumbuhan bawah pada plot ukuran 2 m x 2 m

Jika diketahui C-organik = 47%

Maka kandungan karbon serasah (c-seraasah) adalah:

                        C-serasah = Total Berat Kering x 0.47 = ….ton/ha

– Biomassa akar

C-akar = Total Biomassa akar x 0.47

– Biomassa Tanah

Perhitungan biomassa tanah diambil hingga kedalaman 30 cm.

 Ct = Kd x p x % C organic (g/cm²)

Kedalaman 0-5 cm, kedalaman 5-10 cm, kedalaman 10-20 cm, kedalaman 20-30 cm

Perhitungan Total Karbon

Cplot = (Cbap+Cbbp+Cserasah+Ctban bawah+Ckm+Cpm+C tanah)

Source reference:

Irawan, U.S. dan Purwanto, E., 2020. Pengukuran dan Pendugaan Cadangan Karbon pada ekosistem Hutan Gambut dan Mineral, Studi Kasus di Hutan Rawa Gambut Pematang Gadung dan Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan. Yayasan Tropenbos Indonesia. Bogor dalam Panduan Pengukuran dan pendugaan Cadangan Karbon pada Ekosistem Hutan Gambut dan Mineral Studi Kasus di Hutan Rawa Gambut Pematang Gadung dan Hutan Lindung Sungai Lesan, Kalimantan

Continue Reading
Kemandirian

Pelatihan Pembuatan Biochar di Desa Sri Wangi

Pelatihan pembuatan Biochar sukses digelar di Desa Sri Wangi Kecamatan Boyan Tanjung Kabupaten Kapuas Hulu, 13-15 Maret 2022. Dari pelatihan ini diharapkan masyarakat bisa memanfaatkan limbah organik menjadi pupuk.

“Pelatihan ini pertama kali kita gelar di Desa Sri Wangi. Para peserta sangat antusias mengikutinya. Harapan kita agar bisa diaplikasikan setelah pelatihan,” kata penanggung jawab Pelatihan Biochar, Syarif Yus Hadinata, Selasa (15/3/2022).

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh PRCF Indonesia dengan dukungan Pusat Informasi Lingkungan (PILI). Iwan Setiawan sebagai pakar Biochar dihadirkan sebagai narasumber. Tidak kurang 85 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Para peserta berasal dari utusan LPHD Desa Sri Wangi dan Nanga Jemah.

Iwan setiawan
Iwan Setiawan sedang menjelaskan proses pembuatan biochar

Iwan Setiawan, pemateri pelatihan menjelaskan apa itu Biochar atau Biomassa Charcoal. Adalah arang padat kaya karbon hasil dari pengolahan limbah organik (Biomasa). Limbah ini dihasilkan melalui pembakaran tidak sempurna atau suplai oksigen terbatas (Pirolisis). Biochar memang merupakan istilah yang terdengar asing bagi masyarakat desa. Namun, pada implementasinya di sekitar masyarakat desa sesungguhnya sudah tak asing lagi dengan kehidupan sehari-hari.

“Terlebih lagi pada masyarakat desa hutan dengan mata pencaharian bertani dan berkebun. Kebanyakan masih menerapkan pola ladang berpindah. Ada di antaranya masih menggunaan pola membakar ladang,” jelas Iwan.

Dengan biochar ini sebagai alternatif untuk menyuburkan lahan. Jadi, tidak perlu lagi membakar lahan. Biochar dapat digunakan untuk hampir semua jenis atau tipe tanah. Bahan untuk membuat biochar itu sangat mudah ditemukan dan diolah.

Biochar suatu instrumen penting dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan, terutama pada daerah-daerah dengan karakteristik lahan marjinal.  Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan biochar dalam pengelolaan tanah adalah karakter sifat fisik dan kimia. Biochar yang dihasilkan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dalam pengelolaan tanah.

“Misalnya biochar dangan pH lebih tinggi  akan lebih sesuai untuk digunakan pada tanah dengan tingkat keasaman tinggi dan begitu pula sebaliknya,” tambah Iwan.

Usai memberikan teori, Iwan langsung melakukan praktik pembuatan biochar. Dengan praktik tersebut, para peserta menjadi cepat menguasai. Iwan hanya berpesan, usai pelatihan agar segera dipraktikkan.

Tanggapan Peserta

Salah satu peserta, Usman menyatakan, setelah mendapatkan pengetahuan dan mempraktikan pembuatan dan penggunaan biochar, ia merasa senang. “Saya baru tahu tentang penbuatan biochar ini. Ternyata sangat bermanfaat bagi kami yang sejak dahulu hingga sekarang masih sering membakar ladang untuk persiapan lahan pertanian dan perkebunan,” ujarnya.

Peserta pelatihan pembuatan biochar
Peserta pelatihan pembuatan biochar dari utusan Desa Sri Wangi dan Nanga Jemah

Dia dan kawan-kawannya segera mempraktikkan hasil dari pelatihan biochar tersebut. Bahan-bahan untuk membuat biochar mudah didapatkan. “Segera akan coba membuatnya,” kata Iwan.

Sistem pengolahan lahan di Desa Sri Wangi dan Nanga Jemah masih membakar lahan. Cara ini memang cepat dan lahan bisa subur. Namun, dampaknya bisa menyebabkan kebakaran lahan dalam skala besar.

Dengan adanya pelatiahan pembuatan biochar menjadi alternatif dalam meningkatkan mutu dan kualitas tanah. Tanah menjadi subuh tanpa harus membakar, cukup dengan biochar. Kalau tanah subur tentu bisa produktif. Dengan biochar dapat memaksimalkan potensi sumber daya alam di desa tersebut. Limbah organik dari hasil hutan atau perkebunan masyarakat setempat berupa sisa-sisa kayu, ranting pohon,  dan bahan-bahan organik lainnya yang sulit terurai atau terdekomposisi bisa dijadikan biochar. (ros/alfikri).

Continue Reading

PRCF Indonesia Memperpanjang Masa Rekrutmen Tenaga Asisten Teknis Program Imbal Jasa  Ekosistem Berbasis Masyarakat

PRCF Indonesia memperpanjang masa rekrutmen Tenaga Asisten Teknis untuk Program Imbal Jasa Ekosistem Berbasis Masyarakat. Lokasi program ini di Kabupaten Kapuas Hulu. Semula deadline rekrutmen 25 Februari 2022, sekarang diperpanjang sampai 4 Maret 2022. PRCF Indonesia mengajak seluruh penggiat konservasi di mana pun berada bisa bergabung dalam program ini. Berikut persyaratannya:

 

 

Continue Reading
Bibit nanas

Lahan Agroforestry 1 Hektare Akan Ditanami 1.200 Nanas

Lahan agroforestry seluas 1 hektare di Sungai Putat Desa Nanga Lauk Kapuas Hulu akan ditanami 1.200 tunas nanas. Bibit nanas tersebut didatangkan dari Dusun Karya Dua Desa Kuala Dua Kabupaten Kubu Raya.

“Kita sangat serius dalam mengimplementasikan program agroforestry di Nanga Lauk. Kali ini kita mencoba menanam nanas di lahan seluas 1 hektare. Bibit sudah siap untuk dibawa dan mudahan tidak ada gangguan pengirimannya dari Desa Kuala Dua sampai ke Nanga Lauk,” kata Specialist Program Konservation dan Agroforestry PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut di kantornya, Sabtu (26/2/2022).

Dijelaskan alumni Fakultas Kehutanan Untan ini, program agroforestry sudah berjalan dari tahun 2020 lalu. Program agroforestry sebelumnya lebih banyak menanam bibit pohon pakan lebah madu hutan. Sudah ribuan bibit pohon ditanam di lahan terbuka.

“Kali ini kita mencoba menanam bibit nanas lokal dari Kuala Dua Kubu Raya. Bibit nanas lokal biasanya akan mudah tumbuh di daerah Kapuas Hulu. Nanas sendiri termasuk tanaman yang tidak cerewet dalam perawatannya,” jelas Yadi.

Selama ini memang ada warga di Desa Nanga Lauk menanam nanas, cuma terbatas. Hanya untuk konsumsi sendiri. Sementara upaya penanaman dalam jumlah besar, baru kali ini dilakukan. Untuk sementara, 1.200 tunas nanas. Bila dalam perkembangannya memberikan nilai ekonomi yang bagus, tentu akan dikembangkan lebih besar.

Bibit nanas
Bibit atau tunas nanas dari Desa Kuala Dua Kubu Raya siap dibawa ke Nanga Lauk Kapuas Hulu

“Lahan kosong yang selama ini telantar dan tidak produktif di Sungai Putat, sudah dibersihkan. Begitu tunas nanas ini tiba, segera ditanam. Kita berharap begitu ditanam bisa tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bagus,” ujar Yadi.

Semangka dan MPTS

Selain menanam nanas di lahan agroforestry, LPHD Lauk Bersatu yang didampingi oleh PRCF Indonesia juga akan menanam semangka. Tanaman ini dikirakan mudah tumbuh subur di Sungai Putat. Selain itu, buahnya memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Sama dengan nanas, semangka bila buahnya sudah masak, bisa langsung dijual. Artinya, memiliki nilai ekonomi tinggi. Semoga nanti bisa sesuai harapan,” harap Yadi.

LPHD Lauk Bersatu juga akan menanam tanaman MPTS ( Multy Purpose Tree Species). Sesuai dengan pernyataan Permenhut (2012), jenis tanaman serbaguna MPTS adalah jenis tanaman yang menghasilkan kayu dan bukan kayu (getah, buah, daun, bunga, serat, pakan ternak, dan sebagainya). Sehingga bisa di dapatkan lebih dari satu manfaat dari tanaman MPTS tersebut dan bernilai ekonomi.

MPTS adalah sistem pengelolaan lahan dimana berbagai jenis kayu ditanam dan dikelola, tidak saja untuk menghasilkan kayu, akan tetapi juga daundaunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan ataupun pakan ternak. Jenis – jenis tanaman MPTS mempunyai fungsi ganda sejak memasuki umur produktif, selain hutan non kayu berupa buah-buahan, getah, nira, sabut dan sebagainya, setelah dewasa dan tidak produktif lagi pohonnya dapat ditebang dan dimanfaatkan kayunya untuk dijual. (ros)

Continue Reading
Family gathering

Family Gathering PRCF Indonesia ke Kota Singkawang

Family gathering (pertemuan keluarga) pertama kali digelar PRCF Indonesia pada 18-19 Desember 2021. Seluruh pengurus dan karyawan beserta keluarga mengikuti kegiatan tersebut di Kota Singkawang.

“Ini merupakan family gathering pertama kita gelar. Tujuannya tidak lain untuk lebih memperkuat silaturahim dan mengakrabkan hubungan antarpengurus atau karyawan. Bahkan, anggota keluarga seperti istri, suami dan anak juga ikut,” kata Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut di Hotel Dangau Resort Kota Singkawang, Minggu (19/12/2021).

Dijelaskan Imanul, selama ini para pengurus atau karyawan terlibat aktif melakukan konservasi hutan dan pendampingan masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu. Pelaksanaan tugas ini bisa memakan waktu hingga satu bulan di lapangan, jadi sering berpisah dengan keluarga. Jadi momen ini dimanfaatkan untuk penyegaran suasana dan bisa saling mengenal antarkeluarga di PRCF Indonesia.

“Tidak ada salahnya bila kita bangun suasana kebersamaan bagi seluruh pengurus beserta anak dan istrinya untuk menikmati liburan ke Kota Singkawang. Hal terpenting lagi, kita menjadi saling mengenal antarkeluarga. Masing-masing bawa anak dan istri kalau pengurus lakiga-laki. Begitu juga pengurus perempuan, bawa suami dan anak. Kita menjadi keluarga besar PRCF Indonesia,” ungkap Imanul yang juga membawa istri dan anak-anaknya.

Imanul berharap, dengan adanya family gathering tersebut bisa lebih meningkatkan motivasi dan semangat seluruh pengurus dalam mengimplementasikan program konservasi. Sebab, tahun 2022 agenda akan lebih padat. Semua akan bisa terwujud apabila seluruh pengurus memiliki motivasi dan semangat kuat untuk mewujudkannya.

Dua Hari di Singkawang

Tidak kurang 61 orang mengikuti family gathering PRCF Indonesia. Sabtu pagi (18/12/2021), rombongan sudah berangkat menuju kota yang dijuluki Kota Amoy itu. Mereka sudah booking Hotel Dangau sebulan sebelumnya. Saat menuju Singkawang, rombongan tidak langsung masuk (check in) ke hotel, melainkan masuk ke kawasan wisata Pasir Panjang 2 atau biasa disebut Paklotai.

Family gathering
Acara makan malam bersama dengan seluruh keluarga PRCF Indonesia

Di Pasir Panjang, mereka melakukan sejumlah kegiatan, diantaranya memperkenalkan keluarga. Selebihnya menggelar sejumlah games atau permainan. Games ini melibatkan seluruh anggota rombongan. Semua happy dengan penuh kegembiraan.

Family gathering
Acara makan malam bersama

Setelah cukup bermain di Pasir Panjang, sore harinya barulah mereka check ini di Hotel Dangau. Di hotel mereka istirahat sebentar. Setelah magrib, mereka makan bersama di salah satu kafe ternama. Keakraban sangat terasa, semua happy. Usai makan, dilanjutkan acara keluarga. Ada yang berkeliling Kota Singkawang. Ada juga yang kembali ke hotel.

Di hari kedua (19/12/2021), setelah istirahat semalaman, pagi harinya mandi di kolam renang hotel. Hampir seluruh anggota rombongan nyebur di kolam. Anak-anak mereka begitu riangnya mandi di kolam yang airnya sangat jernih. Puas mandi di kolam, sekitar pukul 11.30, rombongan check out dari hotel. Saatnya makan siang. Salah satu rumah makan di tengah kota jadi pilihan.

Setelah makan siang, dilanjutkan pergi ke tempat wisata Tanjung Bajau masih di wilayah Kota Singkawang. Ada beberapa wahana di sini. Di situlah para pengurus bisa memanjakan anak-anaknya. Puas menikmati Tanjung Bajau, mereka kembali ke Kota Pontianak. Tiba di Kota Pontianak malam hari dan semua dalam keadaan selamat dan sehat walfiat. (ros)

Continue Reading
Yadi Purwanto

Hutan Desa Bukit Belang Tanjung Miliki Potensi 198,5 Juta Ton Carbon

Hutan Desa Bukit Belang di Desa Tanjung Kapuas Hulu memiliki potensi stock carbon 198,5 juta ton carbon (tC). Hal ini berdasarkan perhitungan yang dilakukan PRCF Indonesia. Potensi karbon ini tetap harus dipertahankan dengan cara menjaga hutan desa terjaga dengan baik.

“Kita mencoba melakukan perhitungan stock carbon untuk hutan desa Bukit Belang. Ini yang pertama kita lakukan. Semoga ini menjadi referensi untuk perhitungan stock carbon di hutan desa lainnya,” kata Fasilitator Konservasi Hutan PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut di kantornya, Kamis (2/12/2021).

Dipaparkan Yadi, jumlah stock carbon di Hutan Desa Bukit Belang 198.523,550 tC. Jumlah ini didapat dari penutupan lahan tahun 2019 yang terdiri dari belukar luasnya 102.523 hektare stock carbon 307.569 tC. Hutan lahan kering sekunder 18.963.905 hektare dengan stock carbon 181.202.006 tC. Pertanian lahan kering 236.584 hektare dengan stock carbon 236.584 tC. Pertanian lahan kering campur 5.567.271 hektare dengan stock carbon 16.701.814 tC dan Tanah terbuka 302.304 hektare dengan stock carbon 75.576 tC.

Peta stock carbon
Peta stock carbon Hutan Desa Bukit Belang Desa Tanjung Kapuas Hulu

“Data tersebut diperoleh dari perkalian antara luas tutupan lahan tahun 2019 dari KLHK yang ada dalam hutan desa dengan C FREL Nasional,” ungkap alumni Fakultas Kehutanan Untan ini.

Jadi Tenaga Ahli

Untuk menghitung karbon tidak bisa sembararngan. Ada metodologi sendiri dan biasa dilakukan mahasiswa Fakultas Kehutanan. Yadi Purwanto merupakan alumni dari Fakultas Kehutanan harus mengikuti pelatihan lagi untuk bisa menghitung karbon. Dengan kemampuannya menghitung karbon tersebut mendapatkan apresiasi dari Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut.

“Alhamdulillah sudah bisa menghitung potensi karbonnya. Terima kasih Yadi. Ya artinya kalau ada tawaran yang terkait hal ini kita siap mengawalnya. Karena kemungkinan beberapa pengusul program PES ke Lestari Capital memerlukan tenaga ahli, dan kita bisa mengambil peran sebagai tenaga ahli penghitungan karbon,” kata Imanul saat memberikan apreasi yang sudah bisa menghitung karbon di hutan desa. (ros)

Continue Reading