Kata konservasi seketika jadi buah bibir di kalangan masyarakat Kapuas Hulu. Pemicunya adalah sambutan Bupati Kapuas Hulu Fransiskus Diaan di ajang Pembukaan Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir, Kapuas Hulu, Senin (7/8/2023).

Sis, sapaan akrab Fransiskus Diaan mengatakan bahwa konservasi sudah dapat dinikmati oleh masyarakat dalam skala kecil melalui bantuan pendampingan CSO. Hanya saja, dalam skala lebih luas di kabupaten, dia mengaku belum dapat merasakan apa-apa.

Menurut Sis, Kapuas Hulu telah mendedikasikan dirinya sebagai kabupaten konservasi melalui Perda Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 20 Tahun 2015 tentang Penetapan Kabupaten Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi. Namun apa yang didapatkan dari kebijakan konservasi ini belum sepenuhnya dirasakan oleh pemerintah kabupaten.

Bupati Kapuas Hulu, Fransiskus Diaan (tiga dari kiri) bersama perwakilan Lestari Capital, PRCF, dan Pemerintah Desa Nanga Lauk usai membuka Pekan Konservasi Nanga Lauk

Minimal, di mata Sis, kebijakan itu dapat mendongkrak pendapatan asli daerah sebagai “buah” dari upaya menjaga dan melestarikan hutan. Secara spontan, dia pun meminta bantuan Yayasan PRCF Indonesia untuk melakukan kajian yang lebih komprehensif.

Sesungguhnya, tidak sulit untuk menjawab kegundahan dari orang nomor wahid di Kapuas Hulu ini. Berbagai pendekatan ilmu pengetahuan dapat dilakukan. Satu di antaranya dengan menghitung valuasi ekonomi sumber daya alam dan lingkungan secara menyeluruh.

Metode ini adalah sebuah instrumen yang menggunakan teknik valuasi, untuk mengestimasi nilai moneter dari barang dan jasa yang diberikan oleh sumber daya alam dan lingkungan (Garrod dan Willis, dalam Pirngadi, 2017). Desa Nanga Lauk, boleh jadi merupakan miniatur alam yang mewakili ekosistem rawa gambut mumpuni, baik dari sisi kekayaan flora maupun faunanya, untuk kesejahteraan masyarakat.

Teramat sulit bagi warga untuk melanjutkan kehidupannya tanpa sungai, tumbuh-tumbuhan, dan ragam satwa. Dari sanalah sumber penghidupan mereka bermula. Di sana pula tabungan untuk anak cucu mereka bersemayam. Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk 2023 mungkin hanya lelatu. Namun ia dapat menyalakan api semangat bagi warga untuk tetap setia hidup berdampingan dengan alamnya secara berkelanjutan.

Seperti apa wujud dari Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk yang dihelat oleh Pemerintah Desa Nanga Lauk, KPH Kapuas Hulu Utara, LPHD Lauk Bersatu, serta Yayasan PRCF Indonesia, redaksi Kolase.id menurunkan Indah Chandika untuk merekam pesta rakyat di jantung Kalimantan itu. Berikut ulasannya:

Deru mesin tempel 15 Paardenkracht (Pk) meraung memecah sunyi Sungai Palin. Longboat segera bertolak meninggalkan Dermaga Nanga Nyabau. Kendati kekuatan mesin setara dengan 15 tenaga kuda (horse power), namun motoris memilih tidak menggunakan seluruh kekuatan itu.

Kondisi air sungai sedang dangkal akibat kemarau. Kayu-kayu yang tumbang dan melintang menjadi penghambat jalur longboat. Perjalanan di atas air akhirnya ditempuh sekitar dua jam sebelum sampai ke Desa Nanga Lauk. Padahal jarak tempuh normal hanya 1,5 jam.

Di desa berpenduduk 757 jiwa (2023) inilah, cerita tentang relasi manusia dengan alamnya bermula. Kampung kecil, dengan dua dusun terpisah, Lauk Kanan dan Lauk Kiri, disatukan oleh Sungai Palin. Peradaban sungai telah menautkan dua kampung menjadi satu. Begitulah geografi Desa Nanga Lauk.

Di sana, sekumpulan orang mencoba merenda impian. Berpikir bersama, bagaimana mengelola sumber daya alam agar tetap lestari dan memberikan kehidupan bagi warga dengan layak. Di sana pula, rakyat menghelat pesta konservasi alam untuk pertama kalinya.

Berbagai pembelajaran dapat dipetik di balik pesta sederhana itu. Dari lomba kuliner kampung, mewarnai tingkat anak-anak, lomba bercerita, dan lomba kano. Lomba kuliner melibatkan kaum perempuan, sedangkan lomba lainnya adalah anak-anak. Khusus kaum remaja dan dewasa yang mewakili generasi Z dan milenial dilibatkan dalam Sekolah Konservasi.

Promosi Kuliner Tradisional Berbahan Dasar dari Hutan Desa

Lomba kuliner tradisional dalam rangkaian Pekan Konservasi melibatkan kaum perempuan di Desa Nanga Lauk. Mereka wajib mengikuti lomba memasak dengan budget Rp50 ribu dan menggunakan bahan utama yang bersumber dari Desa Nanga Lauk.

Para peserta lomba masak (kiri) sedang mempresentasikan hasil kepiawaian memasak mereka kepada para juri. Bahan dasar yang digunakan untuk memasak adalah Hasil Hutan Bukan Kayu seperti umbut rotan dan sayur-sayuran.

Terdapat delapan kelompok dalam lomba memasak ini. Mereka menyajikan berbagai macam kreasi masakan. Kebanyakan bahan utama yang digunakan adalah ikan toman dan biawan yang banyak dijumpai di Desa Nanga Lauk, baik dari olahan yang berkuah sampai yang dibakar.

Salah satu kelompok dengan nama Bunga Melati bahkan memasak tanpa menggunakan minyak. Yanti, perwakilan Kelompok Bunga Melati menjelaskan bahwa kelompoknya memasak ikan asam kunyit rebus.

“Saya memasak ikan asam kunyit tanpa minyak karena teringat zaman dahulu kita kesusahan minyak, jadi hanya campuran kunyit, serai, daun kanis untuk memberi rasa asam, bawang putih, dan bawang merah yang langsung dimasak di air rebusan,” jelas Yanti.

Manajer Program Rimba Pakai Pengidup – PRCF Desa Nanga Lauk, Rio Afiat mengatakan alasannya dalam menentukan budget sebesar Rp50 ribu yang digunakan untuk memasak per kelompok. Yakni, nilai tersebut sudah dapat digunakan sehari-hari di rumah untuk memenuhi kebutuhan.

“Beberapa bahan yang dibawa dari tiap kelompok mereka bawa dari rumah, sehingga kami hanya mematok pengeluaran dari hasil masakan setiap kelompok dikonversikan Rp50 ribu,” ucap Rio.

Selain dengan budget yang telah ditentukan, para peserta juga diharuskan mendapatkan bahan dari Hutan Desa Nanga Lauk untuk menambah pesan konservasi sebagai tema utama gelaran kegiatan pekan konservasi ini. Juga untuk menambah pesan bahwa panganan yang didapat sehari-hari berasal dari hutan desa.

Berikut adalah pemenang dari lomba memasak tradisional:

Juara 1 : Nyaman Magang

Juara 2 : Nyaman Bonar

Juara 3 : Merak Jingga

Juara 4 : Ah Mantap

Juara 5 : Bunga Melati

Memupuk Kesadaran Lingkungan Anak dengan Lomba Bercerita

Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk adalah ajang untuk mengembangkan kreativitas dan kesadaran akan lingkungan bagi anak anak usia 10 -15 tahun. Satu di antara pendekatan yang dilakukan adalah lomba bercerita yang dihelat pada 6 Agustus 2023. Anak-anak wajib menceritakan kisah mereka sehari-hari di Desa Nanga Lauk.

Hardiyanti, salah satu dewan juri dari lomba bercerita mengatakan bahwa bercerita menjadi salah satu media yang tepat bagi anak-anak. Melalui media ini, mereka akan memahami betapa penting dan berharganya desa mereka.

“Anak-anak mungkin tidak sadar dengan apa yang mereka alami sehari hari karena selalu melakukannya. Tetapi dengan adanya lomba bercerita ini, bisa saja membuat mereka sadar bahwa hutan desa mereka terlihat lebih spesial,” ujar Hardiyanti.

Putri, salah satu perserta penyadartahuan, menjelaskan rancangan harapannya untuk Desa Nanga Lauk dalam 15 tahun ke depan, melalui sebuah gambar di kertas plano.

Kendati masih ada beberapa anak yang gaya berceritanya deskriptif, di mana dia menjelaskan seperti sedang membaca teks, namun ada juga yang sudah mengikuti gaya berceritanya sendiri.

“Memang ada anak-anak yang gaya berceritanya masih deskriptif dan tekstual. Tetapi beberapa di antaranya sudah ada yang memiliki gaya berceritanya sendiri. Misalnya, dia bercerita tentang pekerjaan orang tuanya yang seorang pemancing. Dia ceritakan ikan hasil pancingan orang tuanya. Bahkan bertanya bagaimana dengan kelestarian ikan, jika banyak yang mancing dengan cara yang merusak sungai,” jelas Hardiyanti.

Hardiyanti juga mengatakan bahwa tujuan penyampaian konservasi kepada anak-anak melalui lomba bercerita ini adalah cara yang cukup efektif untuk mereka memahami bahwa mereka harus selalu melestarikan hutan desa tempat mereka tinggal.

Berikut adalah pemenang lomba bercerita tingkat SD kelas 4-6:

Juara 1 : Hesti

Juara 2 : Kayla

Juara 3 : Ulfi

Pemenang lomba bercerita tingkat SMP:

Juara 1 : Heni

Juara 2 : Lola

Juara 3 : Narsih

Mengenalkan Wisata Sungai Melalui Lomba Kano

Desa Nanga Lauk dikenal dengan peradaban sungainya. Desa itu terbagi menjadi dua wilayah dusun, masing-masing Lauk Kiri dan Lauk Kanan. Sungai Palin menyatukan dua kampung terpisah melalui peradaban sungai.

Tidak mengherankan jika Pekan Konservasi memperkenalkan wisata kano kepada masyarakat luar. Termasuk melatih anak-anak usia sekolah, baik SD maupun SMP untuk ikut serta dalam lomba kano yang dihelat pada 5 Agustus 2023.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu Hariska mengatakan bahwa lomba kano ini untuk memperkenalkan wisata di Desa Nanga Lauk kepada masyarakat luar.

“Sebenarnya kano ini adalah salah satu even wisata di Desa Nanga Lauk. Selain itu, masyarakat juga tinggalnya di tepi sungai. Maka diadakanlah lomba kano ini,” ujar Hariska.

Selain sebagai wisata, Kano juga diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini, agar mereka paham bahwa selain menggunakan sampan, mereka juga bisa menggunakan kano. Dengan demikian, anak-anak akan paham bahwa mereka sesungguhnya lahir dari peradaban sungai dan berkewajiban untuk melestarikannya.

Berikut Pemenang Lomba Kano Tingkat SD Putra:

Juara 1 : Jayadi

Juara 2 : Ramadan

Juara 3 : Bima

Pemenang Lomba Kano Tingkat SMP Putra:

Juara 1 : Marvel

Juara 2 : Rio

Juara 3 : Marvel

Pemenang Lomba Kano Tingkat SMP Putri:

Juara 1 : Heni

Juara 2 : Nengsih

Juara 3 : Elis

Warna-Warni Hutan Desa Nanga Lauk

Mengasah kreativitas dan mengenalkan sumber utama hidup kepada anak anak TK dan SD di Desa Nanga Lauk menjadi bagian dari instrumen Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk. Bentuk kegiatannya adalah Lomba Mewarnai Tingkat Anak yang digelar pada 5 Agustus 2023.

Pada lomba ini, anak-anak dituntut berkreasi dengan warna melalui gambar yang sudah disiapkan oleh panitia. Adapun gambar yang dipilih adalah objek bertema konservasi hutan desa, seperti fauna dan flora yang berasal dari Hutan Desa Nanga Lauk.

Suasana Desa Nanga Lauk kala malam

Ketua LPHD Lauk Bersatu, Hariska mengatakan bahwa tujuan dari lomba mewarnai ini adalah untuk mengenalkan kepada anak-anak apa saja yang ada di hutan desa mereka.

“Kami memilih gambar-gambar sesuai dengan apa yang ada di HD Nanga Lauk seperti ikan yang khas dengan sungai tempat kita tinggal atau tumbuhan yang didapat dari hutan desa,” ucap Hariska.

Anak-anak terlihat senang dan antusias saat mewarnai gambar yang telah disiapkan oleh panitia. Mereka fokus dengan gambar yang mereka warnai, sambil tertawa bersama teman-teman di sebelahnya.

Berikut Juara Lomba Mewarnai Tingkat TK-PAUD

Juara 1 : Yuyun

Juara 2 : Julia

Juara 3 : Al-Hafis

Juara SD Kelas 1-3

Juara 1 : Akila

Juara 2 : Fauzi

Juara 3 : Nana

Memandang Konservasi dari Tiga Sudut

Pekan Konservasi Desa Nanga Lauk sejatinya telah memberikan pembelajaran penting tentang hakikat dari konservasi itu sendiri. Pesan dari agenda yang melibatkan masyarakat di seluruh lini usia ini, juga sudah terang benderang mengikat relasi antara manusia dan alamnya.

Lomba memasak, mewarnai, bercerita, dan lomba kano, adalah potret sebuah semiotika. Serangkaian agenda tersebut tentu tidak lahir begitu saja. Ia diilhami oleh kekayaan sumber daya alam yang ada di hutan desa, di “halaman rumah” mereka sendiri.

Bahwa konservasi alam, tidak dapat dipandang hanya dari sudut kepentingan ekonomi semata, alias kacamata kuda. Sebab, masih ada dua sudut pandang lainnya, yakni sosial dan lingkungan, juga perlu disejajarkan dalam kontek pembangunan. Kombinasi tiga sudut itu yang mendorong agar perspektif konservasi menjadi lebih paripurna.

Penulis: Indah Chandika Anisyavira.
Editor: Andi Fachrizal (kolase.id/media parter)