Desa penepian raya

Desa Penepian Raya Lokasi Kerja Pertama Kunjungan PRCF International

Desa Penepian Raya Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu  menjadi lokasi kerja pertama kunjungan PRCF International. Kunjungan ini dipimpin langsung oleh Presiden Direkturnya, Dr Luis Fernando Potes Sanchez.

Berangkat dari Pontianak pada pagi pukul 07.00 WIB (4/9), rombongan tiba pukul 20.30. Anggota rombongan PRCF ini selain Fernando, ada Sinan Serhadli (staf Pengembangan Program di Sumatera Utara, berpaspor Jerman), Nguyen Thuy (Direktur Keuangan PRCF, berdomisili di Vietnam), dan Nguyen (staf Pengembangan Usaha Masyarakat, berdomisili di Vietnam). Sementara Fernando sendiri berdomisili di Bangkok, Thailand.

Mereka didampingi oleh Imanul Huda (Direktur PRCF Indonesia), Aam Wijaya (Manager Keuangan PRCF Indonesia), Abroorza Ahmad Yusra (staf Manajemen Komunikasi dan Pengetahuan), serta Muhammad Yudhy (fasilitator PRCF Indonesia untuk Desa Penepian Raya).

Kegiatan berlangsung pada pagi keesokan harinya (5/9). Rombongan berkeliling desa untuk melihat beberapa fasilitas yang dimiliki oleh LPHD Bumi Lestari untuk KUPS madu juga bantuan dari program-program konservasi lain seperti Millenium Challenge Account-Indonesia (MCAI) dan Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan. Kegiatan berlanjut dengan pertemuan bersama pemerintah desa, LHPD Bumi Lestari, dan masyarakat umum.

Kepala desa penepian raya
Kades Penepian Raya, , Rahmad Sarbaini saat menjelaskan kondisi desanya di hadapan rombongan PRCF International

Kades Penepian Raya, Rahmad Sarbaini menyambut baik kehadiran rombongan. Dia berharap keberadaan PRCF memungkinkan berlanjutnya program-proram kehutanan di desa.

Hal yang sama dituturkan oleh Junaidi, Ketua LPHD Bumi Lestari. Dia berharap PRCF tidak bosan membimbing pengurus LPHD. Junaidi juga mempresentasikan pelatihan-pelatihan yang sudah diterima, standar operasional kegiatan-kegiatan yang sudah dibuat, dan rencana agenda ke depannya yang dibagi dalam beberapa triwulan. Salah satunya adalah rencana pembangunan pos patroli.

Ketua LPHD Bumi Lestari
Ketua LPHD Bumi Lestari, Junaidi menjelaskan peta lokasi hutan desa Penepian Raya

Keterlibatan Perempuan

Dalam diskusi, Fernando mengajukan beberapa pertanyaan. Salah satu fokus utama yang disasar oleh Fernandao adalah keterlibatan perempuan. “Apakah ada perempuan di dalam komite pemilihan calon penerima beasiswa dan berapa presentasi laki-laki dalam perempuan dalam kegiatan KUPS, juga penerima beasiswa?” tanya Fernando.

“Program kita, harus selalu melibatkan perempuan. Dalam jangka panjang, kami berharap bisa seimbang,” sambung Fernando usai menerima jawaban bahwa tidak banyak perempuan yang terlibat dalam KUPS di Penepian Raya.

Salah satu peserta perempuan yang merupakan anggota KUPS Ikan, Surami menyatakan, kurangnya keterlibatan perempuan karena banyak yang pendidikannya kurang. “ Jadi, kurang percaya diri,” ujarnya.

Upaya untuk melibatkan perempuan sebenarnya juga sudah dilakukan oleh pemerintah desa. “Kami sering undang mereka, tapi jarang mau datang. Apalagi sudah berkeluarga. Kami pelan-pelan mengundang perempuan (di program pendampingan PRCF) agar setidaknya di LPHD ada perwakilan perempuan. Kalau kegiatan majelis pengajian, posyandu, mereka mau,” tutur Kepala Desa.

Sementara itu, Sinan Serhadli menitikberatkan perhatiannya pada keberadaan hutan desa. Kepala Desa menjelaskan bahwa kawasan yang kini menjadi hutan desa awalnya adalah hutan lindung.

“Lalu, masyarakat ingin kawasan itu terpelihara, karena di sana ada madu. Sebelumnya, itu kawasan illegal loging, penebang dari berbagai desa, bukan hanya desa ini,” jawab Kades.

Fernando juga mengkritisi banyaknya sampah plastik. Ia berharap, kebiasaan membuang sampah masyarakat bisa dihilangkan. Tercetus juga ide agar membuat program yang berkaitan dengan penanganan sampah.

“Kita harus bisa bikin kampung bersih. Tidak mungkin ekowisata bisa berkembang kalau banyak sampah,” ujar Fernando.

Pasca diskusi, rombongan berkunjung ke wilayah hutan desa dengan menggunakan speed boat. Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan ke desa lain yang juga menjadi wilayah dampingan PRCF Indonesia. (roj/ros)