Pemasangan kamera trap

Dua Kamera Trap Mulai Dipasang di Hutan Desa Nanga Lauk

Dua kamera trap atau kamera jebakan telah dipasang di hutan desa Nanga Lauk sejak 19 September 2022 lalu. Diperkirakan minggu depan, hasil dari kamera tersebut bisa dilihat.

“Sudah terpasang dua kamera trap. Kita pasang di hutan yang memungkinkan satwa lewat. Dipasang selama dua minggu. Dikirakan minggu depan hasilnya bisa dilihat apakah memang ada satwa yang tertangkap kamera atau tidak,” kata Specialist Program Conservation PRCF Indonesia, Erik Munandar S Hut, Jumat (23/9/2022).

Kenapa harus memasang kamera trap? Alumni Fakultas Kehutanan Untan ini menjawab, di hutan desa Nanga Lauk ada beberapa kali terjadi perjumpaan dengan orangutan. Bahkan, ada orangutan muncul dekat kawasan pemukiman warga. Belum lagi perjumpaan dengan sejumlah burung.

“Dengan adanya kamera trap itu, kita ingin membuktikan bahwa ada satwa yang dilindungi menjadikan hutan desa sebagai habitatnya. Cuma, untuk sementara kita belum bisa melihat hasilnya, karena kamera masih terpasang,” jawab pria kelahiran Ketapang ini.

Sebenarnya, pemasangan kamera trap ini sudah pernah dilakukan sebelumnya. Cuma, kamera lama hasilnya tidak maksimal dan sering error.  Melihat kondisi kamera seperti itu, tahun ini dibelikan yang baru. Dua kamera yang dipasang itu merupakan pembelian terbaru dengan versi terbaru juga. Pemasangan kamera trap ini semata-mata ingin membuktikan bahwa di hutan desa Nanga Lauk ada satwa yang dilindungi.

Lokasi hutan desa
Lokasi hutan desa Nanga Lauk yang menjadi tempat pemasangan kamera trap

“Apabila nanti hasil kamera trap itu memperlihatkan ada satwa yang lewat, tentu itu sangat menggembirakan. Namun, apabila nanti tidak ada, ada kemungkinan kita akan memindahkan ke titik lain. Titik yang ada kemungkinan satwa lewat,” info Erik.

Apa Itu Kamera Trap

Kamera Trap jenis kamera  dilengkapi sensor gerak dan sensor panas dan atau termal. Kamera ini dapat digunakan untuk merekam keberadaan satwa liar yang ada di kawasan tertentu. Sensor kamera trap ini akan aktif jika ada objek bergerak dan atau yang memiliki suhu berbeda dengan lingkungan area cakupan sensor. Penggunaan kamera jebakan ini juga bisa digunakan untuk mengetahui keanekaragaman berbagai jenis satwa, salah satunya yaitu mamalia yang ada di suatu kawasan tertentu. Selain itu juga bisa digunakan untuk mengetahui Indeks Kelimpahan Relatif (RAI/Relative Abundance Index) satwa, terutama satwa yang dapat diidentifikasi secara individual melalui tanda-tanda alami yang ada pada satwa, seperti loreng pada harimau. Penggunaan kamera jebakan ini memiliki kelebihan pada data yang dihasilkan, karena data yang dihasilkan dari kamera jebakan ini berupa gambar-gambar satwa yang terekam. Hal ini bisa membuktikan bahwa pada suatu wilayah terdapat aktivitas keseharian yang biasa dilakukan oleh satwa liar di alam bebas. (ros)