Tutup tahun tinggal menghitung hari. Di ujung tahun ini, LPHD Bumi Lestari Desa Penepian Raya, Kapuas Hulu menggelar patroli hutan desa, Rabu 20 Desember 2023 lalu. Sebanyak 10 personel tim dan dua staf LPHD terlibat dalam patroli tersebut.

“Patroli hutan desa merupakan kegiatan rutin. Walaupun tahun sebentar lagi berganti menjadi tahun baru, patroli tetap dilakukan. Semuanya demi menjaga hutan tetap lestari,” kata Muhammad Yudhy Octoarie, Fasilitator Desa Penepian Raya, PRCF Indonesia, Rabu (20/12/2023).

Dijelaskannya, ada 10 personel dan ditambah dua dari staf LPHD melakukan patroli rutin ini. Meskipun hanya berlangsung satu hari, patroli ini dijalankan dengan efisien dengan pembagian dua tim untuk menjelajahi jalur patroli yang berbeda.

“Tim pertama ditugaskan untuk menuju kawasan Bukit Tang. Tujuannya, pemasangan kamera trap dan melakukan pengamatan intensif terhadap keadaan hutan. Sementara itu, tim kedua melanjutkan patroli ke arah Danau Tang dan Suak Peramu untuk mengumpulkan data tinggi muka air tanah gambut,” ungkap Yudhy, sapaan akrabnya.

Menurutnya, patroli hutan ini merupakan langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan melibatkan pemasangan kamera trap sebagai bentuk inovasi teknologi dalam pengawasan hutan. “Kamera trap ini sangat penting untuk melihat satwa yang ada di hutan. Kita menjadi tahu satwa apa saja yang ada di hutan desa itu,” tambah Yudhy.

Langkah Konkret

Langkah-langkah yang diambil oleh LPHD Bumi Lestari ini memiliki dampak positif. Tidak hanya untuk desa tersebut tetapi juga untuk ekosistem hutan Kapuas Hulu secara keseluruhan. Dengan adanya pengamatan terperinci dan pengumpulan data yang akurat, diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih baik terkait kondisi hutan dan potensi ancaman terhadap keberlanjutan lingkungan.

Patroli hutan yang rutin merupakan bagian dari komitmen mereka menjaga hutan. Hutan desa bisa dikatakan harta karun milik Desa Penepian Raya yang harus dijaga sebaik mungkin. Jangan sampai hutan itu rusak oleh tangan yang tidak bertanggung jawab.

“Generasi akan datang tetap bisa melihat hutan. Kita tidak menginginkan hutan menjadi sebuah cerita. Kita terus menjaganya dan berharap masyarakat yang lain ikut menjaga dengan cara tidak merusaknya,” harap Yudhy. (ros)