KUPS Silvofishery

KUPS Silvofishery Nanga Jemah Budidayakan Ikan Dewa

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Silvofishery Desa Nanga Jemah Kecamatan Boyan Tanjung Kapuas Hulu sedang membudidayakan Ikan Semah (Tor Sp). Untuk sementara, ada  1.200 ekor ikan yang dijuluki Ikan Dewa ini dibudidayakan dalam kolam besar.

“Kita memang sedang membudidayakan ikan semah. Bibit ikan ini dibeli dari warga lokal di sini. Kebetulan ikan semah ini salah satu penghuni sungai-sungai yang ada di Desa Nanga Jemah,” kata Hizbullah, Fasilitator Desa Nanga Jemah dari PRCF Indonesia, Kamis (9/6/2022).

Dijelaskannya, tidak hanya ikan dewa tersebut, KUPS Silvofishery juga membudidayakan ikan nila, bawal dan paten. Jumlah ikan bawal 6.000 ekor, paten 6.000 ekor, ikan nila 18.000 ekor dan semah 1.200 ekor. Saat ini semua benih ikan sudah dilepas di kolam besar. Tinggal menunggu besarnya saja.

“Mudah-mudahan dalam proses membesarkan ikan ini sampai siap panen, tidak ada halangan. Bila nanti bisa panen, inilah panen perdana dari KUPS Silvofishery. Semoga pasar bisa menyerap hasil panennya nanti,” harap Hizbullah.

KUPS Silvofishery sendiri bagian dari Lembaga Pengelola Perhutanan Sosial (LPHD) Nyai Peningun. Lembaga ini di bawah binaan PRCF Indonesia sejak tahun 2021 lalu. Salah satu usaha dalam pembinaan tersebut budidaya ikan. Desa Nanga Jemah sendiri memiliki potensi cukup besar dalam budidaya ikan air tawar.

KUPS Silvofishery sedang membudidayakan ikan semah
Bibit ikan semah yang sudah dilepas ke kolam oleh KUPS Silvofishery Nanga Jemah

Ikan semah ini memiliki harga jual tinggi. Menurut Hizbullah, saat ini saja untuk bibit per ekornya sudah mencapai Rp1.200,-. Sementara bila ukurannya sudah besar, di pasaran Kapuas Hulu per kilo bisa mencapai Rp1,3 juta. Karena harganya mahal ini membuat KUPS Silvofishery memiliki semangat kuat untuk pembudidayaannya.

Mengenal Ikan Semah

Nama latin ikan semah adalah Tor sp. Banyak ditemukan di sejumlah daerah di Indonesia. Di Jawa Barat, dipanggil ikan Kancra, di Jawa Tengah dan Timur dikenal ikan Tombro, di Sumatera dan Kalimantan dipanggil ikan Semah. Sebutan ikan semah ada yang menyebutnya ikan Batak, ikan Curong, ikan Lempon, ikan Ihan, ikan Sepan, ikan Kelah, ikan Masheer, ikan Torsoro dan ikan Dewa.

Nama sebutan terakhir di atas yakni ikan Dewa belakangan memang yang dipopulerkan untuk digunakan memanggil ikan dengan nama latin Tor soro . Nama Dewa ini muncul diduga karena jenis ikan konsumsi yang memiliki harga mahal ini sejak dulu sering ditemukan menghuni kolam dan telaga larangan yang dikeramatkan oleh masyarakat. Ikan Dewa yang dikeramatkan tersebut, tidak boleh ditangkap sembarangan, namun harus melalui ritual khusus.

Selain dikeramatkan, jenis ikan dari keluarga ikan karper dari suku Cyprinidae ini juga tergolong langka. Satu lagi, di dalam wadah budidaya ikan ini juga tergolong lambat pertumbuhannya. Untuk mencapai ukuran konsumsi diperlukan waktu setahun lebih. Boleh jadi karena itulah ikan ini memiliki harga mahal, ratusan ribu rupiah sekilonya. Pada saat tahun baru Imlek, harganya (konon) bahkan bisa mencapai jutaan rupiah sekilonya. (ros)