Sebelumnya diperkenal secara singkat Desa Nanga Lauk dari kondisi wilayah sampai sejarahnya. Tak ketinggalan tempat bersarangnya lebah yang disebut dengan tikung. Kali ini membahas cara panen madu hutan Desa Nanga Lauk (Denala) di kawasan hutan desa.

Pemanenan madu dilakukan selama dua kali dalam setahun. Pemanenan madu tidak selalu tepat waktu, tergantung dari ketersediaan pakan dari jenis bunga yang ada di wilayah tersebut. Petani madu melakukan pembersihan pohon tikung sebelum bunga bermekaran. Ini supaya lebah yang berdatangan betah dan menghasilkan madu yang banyak.

Sebelum panen, dilakukan dulu sejumlah persiapan, di antaranya:

  1. – Memeriksa sarang lebah sebelum memulai pemanenan.
  2. – Mempersiapkan pengamanan atau perlindungan, seperti waren (jaring-jaring), topi, sarung tangan dari bahan karet.
  3. – Mempersiapkan ember, tempat madu, wadah madu waktu diambil dari sarang, tebaok
  4. (bahan untuk pengasapan), pisau stainless.
  5. – Membawa wadah tertutup seperti ember atau baskom yang tertutup, terpal untuk menutup wadah hasil panen yang akan dibawa pulang.

Pada saat panen, petani madu menyepakati bahwa pemanenan harus dilakukan dengan bersama-sama dengan petani lain. Ketua kelompok menentukan kapan waktu pemanenan akan dilaksanakan. Waktu yang ditetapkan ditaati oleh anggota petani lain. Sebelum  ditetapkannya  waktu  pemanenan,  terlebih  dahulu  beberapa  petani  meninjau  ke kawasan danau untuk melihat sarang yang berisi madu. Apakah sarang lebah sudah siap dipanen atau tidak. Bila ciri -ciri lebah tersebut sudah tersusun dengan rapi di sarang tandanya ada mengandung madu.

Tebaok atau bahan yang digunakan terbuat dari akar atau kulit pohon. Membuat tebaok terlebih dahulu akar atau kulit pohon  tersebut dipukul-pukul sampai pecah. Selanjutnya, dikeringkan dengan pengasapan dan diikat dengan rotan. Tebaok ini dibakar dahulu sebelum petani (periau) memanjat pohon. Tebaok dibawa bersama petani ke atas, asap yang dihasilkan tidaklah berbahaya bagi lebah. Itu hanya mengusir lebah sesaat dari sarang yang berisi madu pada saat panen.

Panen Lestari

Teknik pemanenan lestari yang dimaksud adalah pemanenan dilakukan pada siang atau malam hari. Sarang yang berisi madu tidak diambil semua. Hanya ditinggalkan sekitar 2 – 3 cm agar lebah kembali lagi bersarang di tempat yang sama.

Ruang lingkup penanganan pasca panen madu hutan meliputi beberapa hal, yakni penyaringan, proses pengurangan kadar air, pengemasan, dan penyimpanan.

Penyaringan pada madu bertujuan untuk memisahkan partikel atau kotoran yang tidak diinginkan tercampur ke dalam madu. Penyaringan madu dilakukan dengan cara ditiris di atas kain kasa yang berwadah ember. Proses ditiris bertujuan untuk memisahkan sarang dengan madunya dengan catatan harus menggunakan sarung tangan dan tidak dengan memeras madu.

Madu hutan yang telah disaring selanjutnya didiamkan dalam tempat tertutup berbahan stainlisteel atau wadah plastik bermutu baik (bahan polyethilen). Umumnya peroses stabilisasi madu dari buih ini memakan waktu 3-4 Jam. Setelah madu terlihat jernih dan meninggalkan sedikit buih, selanjutnya buih yang tertinggal diambil dengan alat penyaring dan siap untuk diproses pengurangan kadar air.

Dalam proses proses pengurangan kadar air ada beberapa langkah yang mesti dilakukan, di antaranya:

  1. Bangunan atau ruangan penurunan kadar air madu yang dilengkapi dengan AC sebagai ruangan penurunan kadar air madu atau menggunakan etalase kaca berukuran 200cm x120cm sebagai ruang penurunan kadar air.
  2. Penggunaan alat dehumidifier menggunakan listrik sebagai sumber energi. Ini berfungsi menurunkan kelembapan  udara dengan  cara  mengkondensasi  air. Di dalam  ruangan dehumidifie dengan suhu ruangan 25°C di mana ruangan 40% kondisi tertutup rapat.  Proses menurunkan kadar air madu ini berdasarkan prinsip hubungan keseimbangan antara kelembapan udara dan kadar air. Semakin rendah kelembapan udara ruangan, emakin besar kandungan air dalam madu yang dikeluarkan.
  3. Gunakan refrektormeter kadar air madu untuk mengukur kadar air pada madu.
  4. Gunakan rak  penyimpan  untuk  meletakan  wadah  penympanan  madu  pada  proses dehumidifikasi. Bahan yang digunakan sebaiknya terbuat dari bahan yang tidak mengkontaminasi madu.
  5. Penggunaan wadah    penyimpan    madu    yang    terbuat    dari    bahan    yang    tidak mengkontaminasi madu seperti plastic atau stainless steel. (bersambung)