Hendri (kiri) saat mengikuti pelatihan organic youth camp di Mojokerto Jawa Timur

Aliansi Organik Indonesia (AOI) kembali melaksanakan pelatihan pertanian organik.  Kegiatan  ini dilaksanakan di Desa Pacet Kecamatan Terawas Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur. Waktu pelaksanaan 21 – 24 Februari 2023. LPHD Lauk Bersatu telah mengirimkan ketua KUPS Ikan Muara Abadi, Hendri.

“Hendri sebagai perwakilan dari LPHD Lauk Bersatu. Beliau telah mengikuti pelatihan tersebut. Kita berharap, apa yang telah didapatkan bisa diaplikasikan di Desa Nanga Lauk,” kata Specialist Program Livelihood PRCF Indonesia, DM Zainuddin S Hut di kantornya, Senin (27/2/2023).

Hendri mengenakan pakaian teluk belanga saat bersama peserta lain

Hendri bisa dikatakan wakil dari Provinsi Kalimantan Barat. Saat pelatihan, Hendri bersama utusan  provinsi Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera. Total jumlah peserta 25 orang, terdiri dari 16 peserta laki-laki dan 9 orang peserta wanita. Kegiatan ini diadakan dalam konsep bootcamp yang diharapkan dapat mempererat hubungan petani muda di seluruh Indonesia. 

Bermacam materi didapatkan oleh peserta dalam pelatihan ini, antara lain :

1.Dasar-dasar pertanian organik

2. Ekosistem dan ekologi tanah, nutrisi dan asupan

3. Teknis budidaya pertanian organik

4. Pengolahan peroduk organik dan Legalitas Usaha

5. Bisnis Model Canvas dan Pemasaran Produk Organik

6. Penjaminan dan standar Produk Organik

Selain materi dalam kelas, peserta juga dibekali dengan praktek lapangan berupa praktek budidaya pertanian organik,  penggunaan bahan-bahan organik untuk tanaman pertanian, pembuatan pupuk dan pestisida organik. Nara sumber yang dilibatkan sebagai penyampai materi merupakan professional pada bidang masing-masing khususnya pertanian organik serta beberapa diambil dari kelompok atau organisasi masyarakat yang mendalami bidang pertanian organik.

Hasil dari pelatihan ini diharapakan dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan wawasan yang dapat dibawa dan diterapkan di Desa Nanga Lauk. “Pelatihan seperti ini bagian dari upaya PRCF dalam penguatan SDM personel lembaga. Konservasi hutan desa tidak melulu soal perlindungan hutan beserta flora dan faunanya, tapi meningkatkan SDM dari lembaga yang melakukan konservasi itu sendiri,” tambah Zainuddin.

Setiap tahun, PRCF Indonesia mengirimkan peserta untuk mengikuti pelatihan tersebut. Peserta yang dikirim diharapkan bisa memberikan nilai tambah bagi pengelolaan hutan desa. Apabila hutan desa bisa dikelola dengan baik, pasti memberikan manfaat besar bagi warga di sekitar hutan. (ros)