PRCF Indonesia memiliki pengalaman dalam bidang forestri. Hal inilah yang dilihat oleh Fakultas Kehutanan Untan menjadikan PRCF sebagai salah satu sumber dalam kegiatan Sekolah Sosial Forestri (Sesore), 11 November 2023.

“Kita diminta berbagi pengalaman dalam menerapkan forestri di desa dampingan. Kita memberikan edukasi soal itu kepada mahasiswa Fakultas Kehutanan. Harapan kita, para mahasiswa memiliki ketertarikan untuk mengembangkan forestri saat mereka sudah selesai kuliah nanti,” kata Muhammad Nur Karim, perwakilan PRCF Indonesia yang menjadi salah satu narasumber di acara Sesore, Sabtu (11/11/2023).

PRCF Indonesia Imanul Huda
Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda (paling kiri) saat menghadiri kegiatan Sesore Fakultas Kehutanan Untan

Dijelaskannya, PRCF selama ini memang aktif dalam mendukung kegiatan di hutan desa bersama LDPH seperti di Desa Nanga Lauk, Nanga Betung, Nanga Jemah, Sri Wangi, Tanjung, dan Penepian Raya untuk untuk kelola kawasan, kelola usaha, dan kelola kelembagaan. Kisah – kisah itu perlu diceritakan agar para mahasiswa bisa termotivasi untuk terjun ke dunia forestri.

“Kita juga menceritakan dalam dunia forestri, tidak hanya berbicara konservasi, melainkan juga memperkuat kelembagaan seperti LPHD dan KUPS yang ada di desa itu. Kemudian, mendampingi lembaga itu membuat produk dari hasil kayu bukan hutan. Didampingi dari perencanaan bisnis, pengolahan, sampailah pemasaran ke masyarakat,” urai Nur Hakim.

Mahasiswa kehutanan akan kembali ke masyarakat. Mereka memang diarahkan untuk menjadi seorang forester sejati. “Forester yang berdedikasi untuk menjaga hutan, memberdayakan masyarakat di sekitar hutan,” ujar Nur Hakim.

Kegiatan Sesore

Dalam kegiatan itu, Fakultas Kehutanan Untan tidak hanya menghadirkan mahasiswa, melainkan juga mitra kerjanya. Di antara mitra yang ikut hadir, selain PRCF Indonesia ada juga Pesona Kalbar Hijau, Institute Hasil Hutan Bukan Kayu, Sylvaprenership.

“Kita melihat kegiatan ini sangat bagus untuk dilaksanakan selain sebagai wadah promosi bagi lembaga juga dapat memberikan edukasi kepada mahasiswa perkembangan bidang Kehutanan saat ini,” tambah Nur Hakim.

Di hadapan mitra, ada sejumlah mahasiswa mempresentasikan produk yang telah mereka hasilkan. Sebagai contoh, ada mahasiswa memperkenalkan produk For E-Enzim. Misi dari membuat produk ini untuk memanfaatkan limbah menjadi bermanfaat, mengelola menjadi bernilai, dan mengurangi sampah. Sebagian masyarakat memanfaatkan limba tangga sebagai eco-enzime adalah masyarakat di perkotaan. Tercipta ide For E-Enzime dengan sudut pandang bahwa masyarakat di sekitar hutan belum memanfaatkan dan mengelola limbah buah-buahan dikarekan kurangnya  informasi dan pengetahuan. Dengan For E-Enzime limbah buah-buahan bisa dimanfaatkan menjadi eco-enzime, disenfektan ciaran pembersih, pestisida organik, pupuk organik cair, dan pewangi ruangan.

Ada juga mahasiswa mempresentasikan pemanfaatan daun jeruju sebagai teh herbal dan biopestisida bagi masyarakat pesisir pantai. Daun endemik Kalbar itu mudah ditemukan dan ternyata bisa dimanfaatkan untuk kesehatan dan penunjang produktivitas petani. Dengan presentasi di hadapan mitra, mereka berharap dukungan pendanaan untuk penelitian lebih lanjut dan bisa diproduksi massal. (ros)