Mengawali awal tahun 2024, PRCF Indonesia meluncurkan dua buku di Hotel Mercure Pontianak, Kamis (18/1/2024). Dua buku itu berjudul “Panduan Penyelenggaraan Program Payment Ecosystem Services dan Rimba Pakai Pangidup Nanga Lauk.” Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Kalbar, Ir Adi Yani MH orang perdana mendapatkan dua buku itu.

“Saya mengapresiasi atas peluncuran dua buku dari PRCF Indonesia ini. Buku ini sangat penting dan bisa menjadi panduan mengelola program Payment Ecosystem Service terutama bagi mitra pemerintah lainnya,” kata Adi Yani usai membuka Workshop Hasil Penulisan Buku Panduan Penyelenggaraan Program Imbal Jasa Ekosistem atau Payment for Ecosystem Services (PES) di Hotel Mercure Pontianak.

Usai membuka workshop itu, Adi Yani mendapat penyerahan dua buku itu dari Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut. Buku tersebut juga akan dibagikan kepada seluruh undangan yang banyak dari unsur NGO atau penggiat lingkungan hidup di Kalbar. Sebelum penyerahan itu dilakukan workshop dengan menghadirkan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Pemberdayaan Masyarakat (RPM) DLHK Kalbar, Setiyo Haryani S Hut  M Erv.

Buku itu disusun oleh Muhammad Nur Karim. Isi utama dari buku tersebut pengalaman PRCF Indonesia dalam mengelola Program Imbal Jasa Ekosistem atau PES. Kemudian, hal lebih penting membuat panduan dalam menjalankan program tersebut. PES menjadi instrumen kunci yang menggabungkan kepentingan konservasi alam dengan keberlanjutan ekonomi, menciptakan suatu model yang dapat memberdayakan masyarakat lokal sambil melindungi dan memulihkan ekosistem yang penting bagi kehidupan masyarakat.

“Buku ini bukan hanya menjadi sumber informasi yang berharga, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi para pemangku kepentingan, pelaku industri, dan komunitas lokal yang ingin mengembangkan dan mengimplementasikan program PES dengan tepat. Dengan dukungan dan kolaborasi yang kuat antara sektor publik, swasta, dan masyarakat sipil, bersama-sama tujuan pembangunan berkelanjutan yang bersandarkan pada keseimbangan alam dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan,” kata penyusun buku itu, Muhammad Nur Karim.

Rimba Pakai Pangidup

Dalam workshop itu dihadirkan penyusun buku PES, Muhammad Nur Karim, Kabid RPM Setiyo Haryani, Manajer Program Imba Jasa Ekosistem Ir Ali Hayat, dan Manajer Program Rimba Pakai Pangidup Nanga Lauk, Rio Afiat, serta Denni Nurdwiansyah dari Bentang Kalimantan Tangguh.

Workshop PES
(Dari kanan) Ali Hayat, Rio Alfiat, Setiyo Haryani, Denni Nurdwiansyah, Muhammad Nur Karim, dan Azri Ahmad (moderator) dalam Workshop Hasil Penulisan Buku Panduan Penyelenggaraan Program Imbal Jasa Ekosistem atau Payment for Ecosystem Services (PES) di Hotel Mercure Pontianak.

“Dalam buku ini berisi kisah  pengelolaan hutan desa di Desa Nanga Lauk dari awal sampai tahun 2023. Kisah-kisah itu dengan harapan bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi lembaga dalam mengelola hutan desa,” kata Rio Afiat.

Sementara Setiyo Haryani juga mengapresiasi terhadap terbitnya dua buku dari PRCF Indonesia. Ia minta agar buku itu diperbanyak kemudian dibagikan kepada desa yang memiliki LPHD maupun NGO yang ikut mendampingi desa dalam mengelola hutan.

Narasumber berikutnya, Denni Nurdwiansyah dari Bentang Kalimantan Tangguh. Ia berbagi pengalaman dalam mengelola dan mendapatan dana PES. Banyak hal yang dipelajari untuk bisa mendapatkan donor dari pihak ketiga. NGO nya sedang berusaha mendapatkan dana itu.

Ali Hayat sendiri lebih banyak bercerita dalam mendampingi LPHD dalam mengelola program imbal jasa lingkungan di Desa Nanga Jemah, Nanga Betung, Sri Wangi, Tanjung, dan Penepian Raya.

Workshop itu dipandu oleh Azri Ahmad yang juga personel SASCI+ yang bekerja sama dengan PRCF Indonesia.  (ros)