Imanul Huda saat memimpin rapat evaluasi di lantai 2 Kantor PRCF Indonesia yang baru saja direnovasi

Rapat Evaluasi di Kantor Baru Setelah Renovasi

Pontianak (PRCF) – Menjelang berakhirnya tahun 2019, ada pemandangan berbeda dengan PRCF Indonesia. Selama ini pertemuan bulanan dan kerja lebih sering dilakukan di rumah kediaman Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda di Jalan Danau Sentarum. Mulai akhir tahun 2019 lalu, rapat atau pertemuan kembali pindah ke kantor PRCF di Jalan Wahidin Pontianak. Artinya, pengurus PRCF seperti mendapatkan semangat baru untuk mewujudkan program kerja yang telah dirancang.

“Sebenarnya kantor PRCF di Jalan Wahidin ini sudah lama. Cuma, kita renovasi agar lebih maksimal. Sejak akhir tahun lalu, kita kembali pindah setelah renovasi. Bahkan, pada 30 Desember 2019 lalu, untuk pertama kalinya kita melakukan rapat evaluasi di sini,” kata Imanul di Kantor PRCF Indonesia, Kamis (2/1/2020).

Menurut Imanul, renovasi memang belum keseluruhan. Ada beberapa bagian yang belum tuntas. Termasuk juga mobiler nya juga belum lengkap. Seiring waktu, beberapa kekurangan itu akan ditambahkan. Untuk saat ini, sudah sangat memadai untuk rapat maupun kerja dari personel PRCF.

Kantor PRCF Indonesia bukan hanya sekadar untuk tempat bekerja para pegawainya. Melainkan juga sebagai etalase atau galeri produk hasil binaan PRCF. Selama ini, PRCF banyak melakukan pembinaan warga desa. Misal pembinaan pengrajin tenun ikat di Sintang, pengrajin anyaman rotan, petani madu, ikan, dan lain-lain. Produk-produk tersebut dipajang di Kantor PRCF dengan harapan bisa dijual untuk mereka yang berminat.

Memasuki tahun 2020, PRCF Indonesia sudah sepenuhnya berkantor di Jalan Wahidin Pontianak. Selain di Pontianak, PRCF Indonesia juga memiliki kantor di Putussibau Kapuas Hulu. Di sana sifatnya tentatif. Apabila personel PRCF ke Kapuas Hulu, mereka akan berkantor di sana.

“Kita juga sedang membangun Kantor LPHD Lauk Bersatu di Desa Nanga Lauk. LPHD sendiri adalah binaan kita. Apabila kantor LPHD rampung, apabila ke sana, kita juga akan jadikan sebagai tempat persinggahan sekaligus kerja selama di sana,” papar Imanul.

Pada saat rapat evaluasi 30 Desember 2019 lalu, hadir Imanul Huda, Rio Afiat, Azri, Yadi, Awaluddin, dan Nia serta Rosadi. Masing-masing melaporkan apa yang telah dikerjakan dan rencana untuk tahun 2020. Secara keseluruhan sudah menjalankan apa yang menjadi tanggung jawabnya. Semua sepakat untuk lebih meningkatkan kinerja di tahun baru 2020. (ros)

Continue Reading
pemandangan sungai yang menawan di Nanga Lauk

Analisis  Perubahan Tutupan Lahan Desa Nanga Lauk

Pontianak (PRCF) – Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu menjadi role model konservasi. Hutan desa dan hutan produksi terbatas yang dimiliki Nanga Lauk banyak menyedot perhatian dunia. Hutan desa Nanga Lauk sudah mendapatkan izin pengelolaan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pemerintahan Desa Nanga Lauk difasilitas PRCF Indonesia telah membentuk Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu. PRCF Indonesia sendiri mendapat dukungan dari Capital Lestari dan Cargill.

Tutupan lahan yang ada di Desa Nanga Lauk sejauh ini belum ada analisisnya. Untuk itulah dari tanggal 27-28 Desember 2019, PRCF mengundang konsultan di bidang perhutanan untuk melakukan analisis Perubahan Tutupan Lahan Desa. Ada tiga konsultan yang didatangkan.

“Kita mendatangkan tiga konsultan yang memang kompeten di bidangnya. Mereka diharapkan bisa melakukan analisis terhadap perubahan tutupan lahan di Nanga Lauk. Saat ini, ketiga konsultan tersebut sedang menuju Nanga Lauk,” kata Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut di kantornya.

Berdasarkan jadwal, pada 27 Desember 2019, tim konsultan tiba di Putussibau Kapuas Hulu pukul 13.30 WIB. Begitu tiba, mereka istirahat dulu di ibukota Kabupaten Kapuas Hulu. Sekitar pukul 15.00, tim konsultan didampingi PRCF Indonesia bergerak menuju Nanga Nyabau. Dari sini mereka terus melanjutkan perjalanan menuju Nanga Lauk.

“Malam harinya, saat sudah di Nanga Lauk, tim konsultan akan melakukan pertemuan dengan tim dari LPHD untuk merencana melakukan ground truth atau analisis di lapangan esok harinya,” tambah Imanul.

Pada 28 Desember, tim konsultan didampingi PRCF dan LPHD Lauk Bersatu akan melakukan pengumpulan data di lapangan. Rencananya akan dibagi tiga titik, yakni tiga titik di wilayah timur, dan tiga titiknya di wilayah barat. Apabila seluruh data yang diperlukan sudah didapatkan, tim kembali ke Nanga Lauk. Data itu diambil dari hutan desa Nanga Lauk.

“Usai melakukan pengambilan data di lapangan, malam harinya, tim konsultan dan PRCF serta LPHD akan melakukan evaluasi. Kita berharap, data yang akan diambil berjalan lancar,” harap Imanul.

Pada 29 Desember, tim konsultan tersebut kembali ke Putussibau. Selanjutkan bertolak menuju Kota Pontianak menggunakan pesawat. Analisis terhadap perubahan tutupan lahan ini, pertama kali dilakukan. (ros)

Continue Reading
Imanul Huda, Direktur Eksekutif PRCF Indonesia sedang mempresentasikan komitmennya dalam program konservasi hutan desa Nanga Lauk

Komitmen PRCF Indonesia di Hadapan Cargill dan Lestari Capital

Pontianak (PRCF) – Komitmen dalam konservasi hutan dan pemberdayaan untuk PRCF Indonesia, tidak bisa diragukan. Komitmen tersebut diungkapkan PRCF di hadapan lembaga donor Cargill dan Lestari Capital. Bahkan, di hadapan media massa dan media online ternama juga.

“Yayasan PRCF Indonesia memiliki komitmen kuat dalam membangun program konservasi hutan. Selain itu juga memberdayakan masyarakat yang bergantung pada hutan.  Sejak 20 tahun silam, kita sudah berupaya mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pengelolaan hutan yang lestari. Dengan harapan akan memberi manfaat langsung bagi masyarakat secara berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif PTCF Indonesia, Imanul Huda ST M Hut di Penang Bistro Pakubuwono Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Komitmen PRCF Indonesia tersebut tertuang dalam acara Proyek 25 Tahun Perlindungan dan Restorasi Hutan Desa Nanga Lauk, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Cargil sebagai perusahaan berkomitmen mendukung pembiayaan jangka panjang dalam upaya konservasi di hutan desa Nanga Lauk. Sementara Lestari Capital adalah pihak yang mengembangkan skema pembiayaan konservasi dan mempertemukan antarpihak Cargil dan proyek konservasi di hutan desa Nanga Lauk.

Imanul melanjutkan, program konservasi dan pemberdayaan masyarakat diterapkan di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu. Program tersebut dinamakan Community Based Forest Management (CBFM) atau Perhutanan Sosial sebagai pendekatan program utama.  Skema pengelolaan hutan oleh masyarakat yang difasilitasi adalah skema hutan desa.  Desa Nanga lauk telah mendapatkan Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 685 tahun 2017 seluas 1.430 ha. 

Paska mendapatkan hak kelola, hampir semua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) menghadapi kendala utama, yaitu pembiayaan untuk melaksanakan kegiatan. Begitu pula LPHD Lauk Bersatu, Desa Nanga Lauk.  Dalam rencana kelolanya, LPHD akan memperkuat kelembagaan organisasi itu sendiri.

“Melakukan konservasi hutan dan keanekaragaman hayati melaui patroli dan rehabilitasi hutan. Kemudian, penyadartahuan masyarakat tentan konservasi hutan. Terakhir bagaimana LPHD dapat mengembangkan potensi hutan dan hasil hutan yang ada,” papar Imanul.

Imanul melanjutkan, kebutuhan atas pembiayaan jangka panjang terhadap pengelolaan hutan desa di Desa Nanga Lauk akhirnya dapat terpenuhi.  Lestari Capital telah mengembangan Mekanisme Konservasi Komoditas Berkalanjutan (SCCM).  SCCM adalah mekanisme keuangan  konservasi yang membantu perusahaan pengelola komoditas tertentu untuk memenuhi persyaratan keberlanjutan sebagai anggota RSPO. 

Sementara Lestari Capital telah mempertemukan proyek konservasi yang dilakukan oleh masyararakat Desa Nanga Lauk dengan pihak Cargill Tropical Palm (CTP).   Melaui dukungan Pendanaan dari CTP akan berkontribusi pada kelayakan finansial jangka panjang dari proyek hutan komunitas Desa Nanga Lauk, dan memungkinkan masyarakat lokal untuk memaksimalkan manfaat yang mereka terima dari upaya mereka untuk melindungi sumber daya hutan mereka

“Proyek konservasi yang akan dilaksanakan selama 25 tahun ini, memungkinkan masyarakat mengambil kendali yang lebih besar atas pengelolaan hutan. Hutan akan menjadi mata pencaharian mereka tentunya dengan melakukan pelatihan terhadap pengelolaan potensi hutan. Kita sudah melakukan pelatihan bagi masyarakat bidang keterampilan bisnis dasar, pemasaran dan pengembangan bisnis, pengelolaan dan pengolahan sumber daya alam seperti rotan, karet, madu liar; olahan ikatn dan ekowisata,” jelas Imanul.

Agar pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan semakin terberdayakan, PRCF memfasilitasi pembembentukan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). KUPS ini di bawah kendali LPHD dan bersinergi dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dengan KUPS ini masyarakat bisa mendapatkan sisa hasil usaha.

“Sampai pada kesimpulan, kita berkomitmen mengajak masyarakat desa Nanga Lauk untuk melestarikan hutan desa dan hutan produksi. Dijaga sebaik mungkin agar jangan terjadi degradasi maupun deforestasi. Kemudian, kita juga berkewajiban untuk memberdayakan masyarakat agar bisa meningkatkan sumber pendapatan. Hutan tetap terjaga, dan masyarakatnya menjadi sejahtera,” tutup Imanul.

Dalam kesempatan itu ikut hadir Ir. Untat Dharmawan, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, Richard Low, Chief Executive Officer Cargill Tropical Palm, Gabriel Eickhoff, Chief Executive Officer Lestari Capital, dan Rusman, tokoh masyarakat Nanga Lauk. Sementara dari media yang hadir perwakilan dari Agrofarm.co.id, Agro Indonesia, Antaranews.com, Bisnis Indonesia Daily, Cogencis.com, Elshinta Radio, Hortus Magazine, InfoSAWIT Magazine, Investor Daily, Kompas.com, Kontan, Mongabay.com, Sawit Indonesia, Sindonews.com, SWA Magazine, Tabloidsinartani.com, dan Tribun News (ros)

Continue Reading

Diusulkan Anggaran Patroli Hutan Masuk Anggaran Desa

Peserta saat mengikuti Musrenbangdes Nanga Lauk, 4 November 2019.

Pontianak (PRCF) – Patroli hutan yang dilakukan LPHD Lauk Bersatu difasilitasi PRCF Indonesia secara rutin terus berjalan. Jangan sampai program untuk menjaga kelestarian hutan ini tidak berjalan, diusulkan anggaran patroli masuk anggaran desa. Hal ini terungkap dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) Nanga Lauk, 4 November 2019.

Musrenbangdes tersebut dihadiri oleh Sekretaris Kecamatan Embaloh Hilir. Sementara dari pihak Pemerintahan Desa Nanga Lauk diwakili oleh pelaksana tugas (Plt) mengingat kepala desa sudah demisioner. Sementara dari PRCF Indonesia juga hadir, diwakili Yadi Purwanto dan Rio Afiat. Musrenbangdes sendiri digelar di Kantor Desa Nanga Lauk.

Satu hal menarik menjadi catatan penting PRCF Indonesia, warga yang tergabung dalam LPHD Lauk Bersatu mengusulkan adanya anggaran patroli masuk dalam anggaran desa. Selama ini, anggaran hanya disediakan oleh PRCF Indonesia. Bagi PRCF usulan warga tersebut sangat bagus. Bila anggaran tersebut memang dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Biaya Desa (APBDes) tentu semakin memperkuat keberadaan patroli hutan selama ini.

“Pada prinsipnya kita tidak masalah warga mengusulkan anggaran patroli masuk anggaran desa. Tentunya itu lebih baik. Keberadaan patroli hutan sendiri juga semakin kuat. Dengan adanya usulan tersebut, warga menganggap patroli hutan menjadi penting. Coba kalau tak penting, tentu mereka tidak mau mengusulkan,” kata Yadi Purwanto perwakilan PRCF yang ikut dalam Musrenbangdes itu.

Pihak kecamatan dan pemerintahan desa Nanga saat memimpin Musrenbangdes

Yadi menjelaskan, ada tiga jenis patroli yang biasa dilakukan LPHD Lauk Bersatu yang difasilitasi PRCF Indonesia. Pertama, patroli hutan desa dilakukan satu hari dalam satu bulan. Kedua, patroli hutan produksi terbatas dilakukan tiga hari per tiga bulan. Ketiga, patroli batas desa dilakukan setahun sekali.

“Seandainya anggaran itu diakomodir dalam anggaran desa, tentu intensitas patroli bisa ditingkatkan. Misalkan, biasanya dalam sebulan satu hari ada patroli hutan desa, bisa ditingkatkan menjadi dua kali. Begitu juga dengan patroli yang lain. PRCF sangat mengapresiasi adanya usulan anggaran patroli tersebut,” dukung Yadi yang menangani masalah pengawasan, perlindungan dan konservasi PRCF Indonesia. (ros)

Continue Reading

Evaluasi Bulanan, PRCF Indonesia On the Track

 

Imanul Huda (kanan) didampingi Yadi Purwanto saat memimpin rapat evaluasi bulanan PRCF Indonesia

Pontianak (PRCF) – Semangat untuk memberdayakan warga Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu yang diperlihatkan Yayasan PRCF Indonesia masih terus menyala. Tak sekadar memberdayakan, tapi juga semangat untuk melakukan konservasi lingkungan tetap terjaga dengan baik. Hal ini terungkap dalam rapat evaluasi bulanan PRCF Indonesia, Sabtu (9/11/2019).

“Rapat evaluasi bulanan rutin kita lakukan. Tujuannya, untuk melihat apa saja program yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan. Hal yang lebih penting mengevaluasi dari kegiatan apa saja kendala di lapangan. Semuanya untuk dicarikan pemecahan masalahnya secara bersama,” kata Direktur Eksekutif Yayasan PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut saat memimpin rapat evaluasi bulanan di kediamannya.

Yayasan PRCF Indonesia salah satu lembaga yang intensif melakukan pemberdayaan warga Nanga Lauk dalam beberapa tahun terakhir. Bukan hanya pemberdayaan, melainkan kampanye pada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan desa maupun hutan produksi terbatas yang ada di sekitar desa. Flora dan fauna yang ada di hutan dilindungi sebaik mungkin. Sehingga tidak ada kerusakan hutan.

“Banyak pihak lain ingin melakukan kerja sama dengan kita. Ada pihak ingin kita mengelola hutan di Sebubus Sambas, di Sintang, dan beberapa daerah lain di Kapuas Hulu itu sendiri. Pihak tersebut tentu sudah melihat reputasi atau apa yang telah kita lakukan di Nanga Lauk. Semoga apa yang kita lakukan selama ini menjadi rule model bagi pengelolaan perhutanan sosial di Kalbar,” harap Imanul.

Rio Afiat (kanan) disampingi Suhartian saat mempresentasikan kegiatan yang telah, sedang, akan dilaksanakan

Dalam rapat evaluasi itu juga hadir Koordinator Program, Rio Afiat. Dia memaparkan apa saja dibuat selama bulan Oktober. Dia ikut mendampingi Ketua LPHD Lauk Bersatu mengikuti Kewirausahaan Wisata Alam yang diselenggarakan Direktorat Bupsha Kementerian LHK. PRCF Indonesia sudah melatih warga Nanga Lauk memanfaatkan keindahan alamnya terutama sungai, danau, dan hutan sebagai ekowisata. Dari pihak Bupsha menyarankan untuk mempromosikan ekowisata Nanga Lauk untuk bergabung di akun gomodo. Tentu ini sebuah tawaran menarik agar potensi wisata di Nanga Lauk bisa banyak dikenal masyarakat luas.

Putra asli Jawai Sambas ini juga menjelaskan pemberdayaan petani karet Nanga Lauk. Rencana untuk mempertemukan petani karet dengan pihak perusahaan karet sukses dilakukan. Petani karet dikumpulkan. Sementara pihak perusahaan karet yakni PT New Kalbar Processor (NKP) menghadirkan ahli karet dan petani teladan. Pihak perusahaan siap membeli karet dengan harga tinggi asal sesuai standar.

“Dalam kesempatan itu, kita simulasi menghitung keuntungan karet dijual ke perusahaan dan ke kecamatan yang biasa selama ini dilakukan petani karet. Hasilnya, menjual karet ke PT NKP jauh lebih besar untungnya. Para tertarik untuk menjual ke NKP. Sekarang kita menunggu realisasinya saja. Tentunya ini bagian dari upaya kita memberdayakan petani karet,” jelas Rio yang baru saja tiba dari Nanga Lauk.

Imanul Huda menimpali. Karet yang mau dibeli perusahaan harus sesuai standar. Di sini perlu quality control agar karet yang dihasilkan petani benar-benar sesuai standar perusahaan. Jangan sampai, karet dihasilkan justru tak sesuai standar dan itu bisa merusak citra petani itu sendiri.

“Untuk sementara pihak perusahaan akan melakukan pembelian ujian coba selama lima kali. Artinya, perusahaan sudah memberikan ketentuan kualitas karet yang akan dibeli. Lima kali beli itu, perusahaan tidak melakukan sortir. Bila sesuai tentunya terus berlanjut. Pada pembelian keenam nanti, barulah dilakukan sortir apakah untuk memastikan kualitas karet apakah sesuai standar atau tidak,” jawab Rio.

Apa yang telah dilaporkan Rio, tentu angin segar buat petani karet di Nanga Lauk. Mempertemukan petani dengan perusahaan sebuah kemajuan besar. Upaya ini akan terus dikawal agar benar-benar terwujud secara nyata.

Giliran Yadi Purwanto, Program Specialist for Conservation Yayasan PRCF Indonesia. Ia juga baru pulang dari Nanga Lauk bersama Rio. Selama ini di sana, ia bersama tim patroli hutan di bawah LPHD Lauk Bersatu melakukan patroli hutan desa, hutan produksi terbatas, dan batas desa. Semua dilakukan sesuai standar operasi.

Suasana rapat evaluasi bulanan PRCF Indonesia

Patroli hutan merupakan kegiatan yang menjadi perhatian besar PRCF Indonesia. Tujuannya, memastikan secara berkala hutan desa maupun hutan produksi Nanga Lauk terjaga dengan baik. Tidak ada eksploitasi atau perusakan hutan di sana.

“Selain patroli, kita juga menyerahkan bantuan satu unit alat pemadam kebakaran. Selanjutnya, kita juga melakukan simulasi cara menggunakan alat pemadam tersebut serta cara memadamkan api. Ini baru pertama dilakukan, dan tentu akan terus kita tingkatkan kemampuan warga dalam memadamkan api,” jelas Yadi.

Berikutnya giliran Rosadi, Manager Pengembangan Pengetahuan dan Infomasi. Selama ini lebih banyak mengelola website dan channel youtube resmi PRCF Indonesia. Terjadi peningkatan kunjungan ke website prcfindonesia.org. Hal ini terjadi karena semakin aktifnya dalam upadating tulisan terkait kegiatan PRCF itu sendiri. Begitu juga dengan akun youtube PRCF Indonesia sudah memiliki 235 subscriber.

“Untuk ke depannya, kita usahakan setiap hari updating tulisan di website dan upload video baru di youtube. Itu menandakan bahwa PRCF Indonesia aktif. Saya juga merencanakan untuk menulis buku. Minimal dalam setahun bisa menerbitkan beberapa buku dari kegiatan PRCF,” jelas Rosadi.

Setelah itu giliran Suhartian, bagian keuangan PRCF Indoensia. Persoalan administrasi keuangan dan laporan soal keuangan dijelaskan secara rinci. Semua sudah mengikuti standar operasional. Terakhir Iwan, arsitek yang akan membangun kantor LPHD dan Rumah Rotan di Nanga Lauk. Direncanakan Desember 2019 mulai dibangun kantor tersebut.

Rapat evaluasi bulanan seperti itu akan dilakukan pada awal Desember depan. Ini merupakan kegiatan rutin untuk memastikan seluruh anggota PRCF Indonesia bekerja sesuai bidangnya, sekaligus memastikan program kerja terealisasi sesuai rencana. (ros)

 

Continue Reading

Pemberdayaan Petani Karet dengan Cara Koneksi ke Perusahaan Karet

Petani karet Nanga Lauk saat dibawa studi banding ke salah satu daerah di Kapuas Hulu tentang cara bertani karet yang benar

Pontianak (PRCF) – Yayasan PRCF Indonesia berusaha memberdayakan petani karet di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu. Caranya, mengoneksikan antara petani karet dengan perusahaan karet. Karet yang dihasilkan petani langsung dibeli oleh perusahaan.

Azri Achmad, S Hut, program specialist fo livelihoods PRCF Indonesia menjelaskan, pihaknya sudah mempertemukan antara petani dan perusahaan karet. Petani karet yang dimaksud adalah warga Nanga Lauk yang memiliki kebun karet. Sementara dari pihak perusahaan adalah PT New Kalbar Processors, sebuah perusahaan karet yang cukup besar di Indoensia.

Pihak perusahaan di hadapan petani karet menjelaskan masalah standar karet yang harus diikuti. Standar perusahaan tentu adalah pengolahan karet yang baik dan benar. Bila seluruh standar sudah diikuti, karet yang dihasilkan oleh petani bisa langsung dibeli oleh perusahaan.

Bagaimana soal harga? Tentu harga kompetitif dan tidak merugikan petani. Harga yang ditetapkan juga berdasarkan kurs dolar Singapura. Cuma, sedikit kendala soal pengangkutan karet dari Nanga Lauk ke pihak perusahaan. Pihak perusahaan tentu tidak setiap hari datang untuk menjemput karet dari petani. Butuh beberapa hari baru bisa dijemput atau dibeli. Kemudian, pihak perusahaan juga akan belum karet dari petani dalam jumlah atau partai besar.

Selama masa penjemputan tersebut, butuh beberapa hari. Sementara petani kadang butuh uang cepat. Maunya begitu karet selesai diolah, langsung dijual dan dapat duit. Untuk mengatasi hal tersebut, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu telah membentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) di bidang karet. Pihak Yayasan PRCF Indonesia telah menyediakan dana bergulir untuk dimanfaatkan KUPS untuk membeli karet petani dulu. Tujuannya agar petani karet bisa langsung menikmati hasilnya. Kalau harus menunggu kedatangan pihak perusahaan tentu harus menunggu beberapa hari.

KUPS lah bisa dikatakan sebagai pihak pengempul. Ketika karet sudah terkumpul dalam jumlah besar, pihak KUPS di bawah LPHD segera mengontak pihak perusahaan. Pihak perusahaan akan menjemput karet itu dan membeli seluruh karet yang sudah terkumpul.

Kenapa harus KUPS yang mengumpulkan karet dari petani? KUPS adalah lembaga di bawah LPHD Lauk Bersatu. Lembaga ini murni beranggotakan warga Nanga Lauk itu sendiri. Sementara Yayasan PRCF Indonesia sebagai fasilitator.

“Ada dua keuntungan yang bisa didapat oleh petani karet. Pertama, karet yang dijual bisa dijual dengan harga kompetitif, tentu lebih mahal dari harga selama ini. Kedua, petani karet juga bisa mendapatkan Sisa Hasil Usaha (SHU) dari KUPS yang dikelola oleh LPHD,” papar Azri.

Semula direncanakan antara pihak LPHD dan perusahaan dilakukan penandatanganan MoU. Cuma, ada beberapa kendala yang mesti diselesaikan dulu. Walaupun MoU belum ditandatangani, pihak perusahaan sudah bersedia membeli karet dari petani.

“Tujuan kita tidak lain, petani karet di Nanga Lauk bisa mendapatkan kesejahteraan dari karet yang mereka tanam. Bagaimana harga karet yang selama ini menjadi keluhan petani bisa teratasi,” tambah Azril. (ros)

Continue Reading

Dirjen PSKL KLHK Berencana Datang ke Nanga Lauk

Dirjen PSKL, Bambang Supriyanto (kiri) bersama Imanul Huda usai mengikuti Pertemuan Nasional Mitra Program Setapak 2 di Hotel Harris Vertu Jakarta

Pontianak (PRCF) – Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan (PSKL KLHK), Bambang Supriyanto berencana datang ke Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu. Ia ingin melihat secara langsung pengelolaan hutan di bawah bimbingan Yayasan PRCF Indonesia.

“Saya cerita sama Pak Dirjen bahwa Desa Nanga Lauk yang telah mendapatkan HPHD. Saat ini mendapat dukungan pembiayaan untuk program konservasi dalam jangka panjang oleh pihak ke tiga selama 25 tahun.  Dia senang dan berencana untuk datang ke Desa Nanga Lauk,” kata Direktur Eksekutif Yayasan PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut usai mengikuti Pertemuan Nasional Mitra Program Setapak 2 di Hotel Harris Vertu Jakarta Pusat, Selasa (29/10/2010).

Dijelaskan Imanul, ia bercerita terkait program Yayasan PRCF Indonesia di Nanga Lauk. Mulai dari penguatan kelembagaan LPHD Lauk Bersatu, program perlindungan dan konservasi, sampai pada pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan.

“Mendengar cerita saya, makanya beliau berencana datang ke Nanga Lauk. Tentunya ini sebuah apresiasi tinggi terhadapa apa yang telah dan akan kita kerjakan di sana. Kapan waktunya, sampai sekarang memang belum ada kepastian. Paling tidak kita siapkan dulu untuk kedatangan beliau. Seandainya semua sudah siap, kita akan undang secara khusus untuk datang ke Nanga Lauk,” papar Imanul.

Suasana Pertemuan Nasional Mitra Program Setapak 2 di Hotel Harris Vertu Jakarta

Dalam pertemuan itu, Bambang Supriyanto menjadi salah satu narasumber utama. Beliau banyak menceritakan pencapaian perhutanan sosial di Indonesia. Perhutanan Sosial merupakan program kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pengelolaan/pemanfaatan kawasan hutan. Tentunya melalui upaya pemberian akses legal kepada masyarakat setempat atau sekitar hutan dalam lima skema yakni pengelolaan hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan adat, hutan tanaman rakyat serta kemitraan kehutanan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian sumber daya hutan.

“Berbeda dengan pendekatan pengelolaan hutan konvensional yang hanya fokus pada kayu atau konservasi alam saja, perhutanan sosial berusaha menyeimbangkan manfaat dan fungsi-fungsi hutan untuk perlindungan, konservasi, sosial dan ekonomi,” jelas Bambang.

.Bambang menambahkan, dalam kesempatan rapat terbatas pada 21 September 2016, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa “Hutan sebagai sumber penghidupan warga masyarakat pedesaan, harus dioptimalkan fungsinya secara sosial, supaya dapat membantu mengurangi dan mengatasi kemiskinan. “Untuk itu, diperlukan kebijakan perhutanan sosial yang memberikan akses pengelolaan sumber daya hutan bagi warga masyarakat di dalam dan di sekitar hutan,” jelasnya.

Kemudian, disampaikan juga oleh Presiden Jokowi bahwa ada 25.863 desa di dalam dan sekitar kawasan hutan, di mana 71% menggantungkan hidupnya dari sumber daya hutan. Ada 10,2 juta orang miskin di dalam kawasan hutan yang tidak memiliki aspek legal terhadap sumber daya hutan.  Akses legal pengelolaan hutan untuk masyarakat di dalam hutan dan sekitar hutan Pemerintah Indonesia, khususnya era Pemerintahan Jokowi cukup serius menjadikan perhutanan sosial sebagai bagian dari program nasional.

“Tidak tanggung-tanggung, Pemerintah berani menetapkan alokasi perhutanan sosial sebesar lebih dari 20% dari total luasan kawasan hutan Indonesia. Pemerintahan Jokowi melalui Peraturan Presiden No. 2 tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) mematok target luas hutan yang akan dicadangkan untuk Hutan Kemasyarakatan (HKm), Hutan Desa (HD), Hutan Tanaman Rakyat (HTR), Hutan Adat (HA), dan kemitraan dari data dasar 500.000 pada tahun 2014 menjadi seluas 12,7 juta hektar secara kumulatif pada tahun 2019,” papar Bambang.

Tentu saja, penetapan ini disambut baik oleh banyak pihak dan menunjukkan komitmen keberpihakan pemerintah untuk membuka akses pengelolaan hutan oleh masyarakat dimana pada periodeperiode sebelumnya, akses pengelolaan oleh masyarakat masih di bawah 5% sementara akses pengelolaan untuk swasta dibuka secara besarbesaran. Kebijakan Perhutanan Sosial diharapkan memberikan solusi-solusi terhadap pengangguran, kemiskinan, konflik lahan, rehabilitasi lahan dan pemulihan bentang alam, dan menyediakan rasa aman dan kedamaian kepada masyarakat dengan memberi mereka akses legal terhadap sumber daya hutan dan kawasan hutan. (ros)

Continue Reading

30 Judul Buku Baru untuk Koleksi Perpustakaan Pandai Membaca Nanga Lauk

Sebanyak 30 judul buku baru akan menjadi koleksi Perpustakaan Pandai Membaca Nanga Lauk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pontianak (PRCF) –  Yayasan PRCF Indonesia tidak melulu masalah konservasi lingkungan, melainkan fokus juga masalah pemberdayaan masyarakat. Salah satunya dengan meningkatkan minat baca bagi generasi muda masyarakat Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu.

Belum lama ini, PRCF Indonesia melalui lembaga partnership for forest membelikan 30 judul buku baru. Buku tersebut dihadiahkan untuk koleksi Perpustakaan Pandai Membaca. Perpustakaan ini sendiri sudah berdiri sejak tahun 2017 dan dikelola oleh siswa SMP di Nanga Lauk.

“Buku sudah kita belikan. Begitu nanti sudah tiba di Nanga Lauk, segera kita serahkan ke pengelola perpustakaan. Tujuannya tidak lain untuk menambah koleksi perpustakaan, sekaligus menjadi daya tarik masyarakat untuk rajin ke perpustakaan. Lebih utama lagi, mengajak masyarakat untuk rajin membaca,” kata Direktur Eksekutif Yayasan PRCF Indonesia, Imanul Huda.

Perpustakaan Pandai Membaca adalah tempat belajar masyarakat Nanga Lauk, terutama anak-anak. Di perpustakaan tersebut, anak-anak secara rutin dari Senin-Jumat pukul 15.00 – 17.00 berkumpul untuk membaca buku, belajar menggambar, bercerita dan melakukan aktivitas edukasi lainnya.

Pada tahun 2019, perpustakaan itu mendapatkan penghargaan Juara II sebagai Perpustakaan Terbaik di Kabupaten Kapuas Hulu. Salah satu indikatornya, anak-anak sangat antusias ke perpustakaan. Di sini mereka banyak melakukan berbagai aktivitas positif.

Semangat belajar anak-anak di desa tersebut menjadi alasan perpustakaan tersebut didukung oleh Yayasan PRCF Indonesia dalam pengelolaan,pengembangan dan menambah koleksi buku, referensi ilmu baik buku tentang agama, lingkungan, bisnis, sosial kemasyarakatan dan lain lain.

Salah satu kegiatan yang dilakukan perpustakaan yaitu lomba mewarnai, bercerita dan menulis dengan tema konservasi hutan desa pada tahun 2018 dan September 2019.

Untuk meningkatkan semangat belajar masyarakat, LPHD Lauk Bersatu melalui program konservasi hutan desa menambah koleksi buku yang dibeli langsung dari Jakarta. Pembelian buku tersebut didanai oleh lembaga Partnership for Forest melalui Yayasan PRCF Indonesia pada Oktober 2019 ini.

Berikut 30 judul buku baru yang telah dibeli untuk disumbangkan ke Perpustakaan Pandai Membaca:

  1. Dasar-dasar Agonomi
  2. Analisis Lanskap Agroforestri
  3. Agroforestri (solusi sosial dan ekonomi pengelolaan sumber daya hutan)
  4. Hukum Kehutanan di Indonesia
  5. Berkebun Kopi
  6. Bundel Trubus (bisnis kopi dengan modal hemat)
  7. Berkebun Organik Buah & Sayur
  8. Perkebunan Karet Skala Kecil Cepat Panen
  9. Cara Mudah & Cepat Buat Kompos
  10. Membuat Filet Ikan Patin
  11. Teknik Pengawetan & Pengolahan Ikan
  12. Agribisnis Ikan Patin
  13. Pengolahan Limbah Ternak
  14. Kiat Sukses Budi Daya Jamur Tiram
  15. Membuat Sabun & Sampo
  16. Inspirasi Bisnis Berbasis Komunitas
  17. Ramuan & Khasiat Kulit Manggis
  18. Pisang untuk anak (50 fakta pisang, 10 ide kreatif, & 25 resep pisang untuk anak)
  19. Menggali Harta Terpendam
  20. Alam Harta Tak Terbatas
  21. Mukjizat Nabi Dan Rasul
  22. Ibunda Tokoh Teladan: Kisah Inspiratif Dibalik Orang Hebat
  23. Tafsir Juz ‘Amma
  24. Fikih Akhlak
  25. Dengan Al Qur’an Masuk Islamlah Mereka
  26. Ya Allah Jadikanlah Kami Ahlul Qur’an Seri I
  27. Ya Allah Jadikanlah Kami Ahlul Qur’an Seri II
  28. Akhlak Ulama Pewaris Nabi: Wasiat Imam Al-Ajurri Kepada Para Penuntut Ilmu
  29. Ta’limul Muta’allim: Pentingnya Adab Sebelum Ilmu
  30. Ta’lim Al-Muta’allim: Wasiat Imam Az-Zarnuji Terkait Adab, Akhlak, Dan Metode Mununtut Ilmu

“Kita berharap dengan koleksi buku baru ini, semakin menambah minat terutama anak-anak untuk membaca. Ke depan, kita akan terus menambah koleksi bacaan. Semakin banyak koleksi buku tentu akan lebih banyak ilmu atau pengetahuan bisa didapatkan oleh masyarakat Nanga Lauk,” harap Imanul. (ros/rio)

Continue Reading

Tiga Jenis Patroli untuk Menjaga Kawasan Hutan di Nanga Lauk

Tim patroli LPHD Lauk Bersatu sedang memeriksa hutan desa beserta flora dan faunanya

Pontianak (PRCF) – Sejauh ini kawasan hutan di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu masih terjaga dengan baik. Begitu juga flora faunanya masih sedia kala. Hal ini tak lepas dari upaya dari warga Nanga Lauk sendiri untuk menjaga dan melestarikannya.

Pemerintahan Desa Nanga Lauk difasilitasi Yayasan PRCF Indonesia telah membentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu. Lembaga ini memiliki tim patroli hutan. Tim inilah secara berkala melakukan patroli kawasan hutan.

Yadi Purwanto S Hut, program specialis for conservation PRCF Indonesia menjelaskan, ada tiga jenis patroli hutan yang dilakukan LPHD Lauk Bersatu yang dilakukan secara berkala. Patroli Hutan Produksi Terbatas (HPT). Patroli HPT biasanya dilakukan dengan jumlah personel 20 orang.

Salah satu alat yang digunakan untuk patroli yang berfungsi mendokumentasikan temuan saat patroli

“Biasanya patroli HPT ini dilakukan selama tiga hari. Pagi-pagi berangkat, terus sorenya pulang ke rumah masing-masing. Esoknya juga begitu, sampailah tiga hari. Dalam patroli, kita sudah bekalkan aplikasi atau list secara digital maupun manual. Sudah ada flora dan fauna di dalam list itu. Bila ketemu dan flora fauna yang sudah ada dalam list, tinggal dicentang. Tak lupa untuk mencatumkan data GPS-nya,” jelas Yadi.

Setelah patroli HPT, tim patroli juga melakukan Patroli Hutan Desa (PHD). Patroli ini memang hanya dikhususkan untuk kawasan hutan desa saja. Tentu tidak seluas dengan Hutan Produksi Terbatas. Jumlah personel yang melakukan patroli ini hanya 10 orang saja dan dilakukan satu bulan sekali. Sistem  kerjanya juga sama seperti patroli HPT.

Terakhir, patroli Batas Desa. Dilakukan hanya setahu sekali. Tujuannya, untuk memastikan batas desa tidak berubah. Kemudian, patok-patok desa juga terjaga dengan baik. Apabila ada patok rusak, direkomendasikan untuk diperbaiki.

Tujuan secara dari tiga patroli tersebut, memastikan bahwa kawasan hutan di wilayah desa Nanga Lauk tetap terjaga dengan baik. Memastikan tidak ada pohon ditebang secara sembarangan. Tidak ada ekploitasi flora dan fauna. Kemudian, semua terdokumentasi dengan baik setiap perkembangan yang ada di dalam kawasan hutan tersebut.

Salah satu ancaman terbesar dari kawasan hutan adalah kebakaran. Ketika kebakaran itu terjadi, biasanya sulit untuk dihentikan dengan peralawan seadanya. Yayasan PRCF Indonesia memahami kondisi tersebut. Melewati program SCCM, PRCF akan menyumbangkan satu set alat pemadam kebakaran. Ada mesin pompa, alat semprotnya, dan sejumlah alat pendukung lainnya.

Patroli hutan dengan menggunakan perahu motor

“Bila tidak ada halangan, alat pemadam kebakaran tersebut kita serahkan pada hari Senin, 28 Oktober ini. Bantuan ini dimaksudkan agar tim patroli memiliki alat untuk memadamkan api bila muncul di kawasan hutan. Ini bagian dari upaya kita dalam mendukung kinerja LPHD Lauk Bersatu,” tambah Yadi.

Yadi dan rombongan pada Sabtu, 26 Oktober berangkat menuju Nanga Lauk Kapuas Hulu. Tujuan utama dia dan rombongan, selain mau melakukan patroli hutan, juga menyerahkan bantuan alat pemadam kebakaran. (ros)

Continue Reading

Konsolidasi Bersama LPHD Jelang Sosialisasi SCCM

Immanul Huda sedang melakukan konsolidasi bersama LPHD Nanga Lauk  di kediaman Hamdi, Ketua LPHD Nanga Lauk

Nanga Lauk (PRCF) – Yayasan PRCF Indonesia terus bergerak.  Jelang sosialisasi program Sustainable Commodities Conservation Mecanism (SCCM) atau mekanisme pembiayaan inovatif untuk perlindungan dan restorasi hutan, PRCF melakukan konsolidasi dengan Lembaga Pemberdayaan Hutan Desa (LPHD) Nanga Lauk. Sosialisasi SCCM digelardi Gedung Serba Guna Desa Nanga Lauk, Jumat (27/9/2019).

Pada 25 September 2019, Immanul Huda S Hut M Hut, Direktur Eksekutif Yayasan PRCF beserta timnya menggelar konsolidasi dengan LPHD di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu.  Di hadapan anggota LPHD, Immanul menjelaskan tentang program pengembangan potensi hutan desa melalui SCCM.

Warga Desa Nanga Lauk sedang mengikuti sosialisasi dari PRCF

“Dimulai dari tahun 2016  dengan mengusulkan hak pengelolaan hutan desa ke KLHK. Keluar HPHD pada Februari 2017 berlaku untuk 35 tahun. Pengembangan potensi hutan desa pada awal program didukung oleh KLHK melalui program kerja sama KLHK -ADB. Saat ini PRCF sebagai pendamping LPHD sedang menjalankan program pengembangan hutan desa di dukung oleh pihak ke tiga yaitu SCCM untuk program jangka panjang selama 25 tahun,” jelas Immanul saat sosialisasi di rumah kediaman Ketua LPHD Nanga Lauk, Hamdi.

Dari hal tersebut, PRCF Indonesia mendukung penguatan kelembagaan LPHD, pengembangan usaha berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), dan pengamanan hutan berupa patroli dan rehabilitasi. “Penguatan LPHD, pengembangan HHBK, patroli dan rehabilitasi adalah fokus kita di Nanga Lauk,” papar Pak Im – sapaan akrabnya.

“Saya berharap, pada saat sosialisasi nanti, masyarakat lebih paham terkait program yang akan diterapkan. Kalau masyarakat sudah paham, tentu akan mudah dalam menerapkan program yang sudah direncanakan,” harap Pak Im.

Sementara dari masyarakat Nanga Lauk yang tergabung dalam LPHD mendukung setiap program PRCF. Program yang telah dirancang maupun yang sudah dilaksanakan sangat membantu masyarakat Nanga Lauk. Masyarakat berharap terus mendapatkan pendampingan.

Acara konsolidasi berlangsung malam hari. Suasananya sangat sangat santai tapi serius. Peserta sosialisasi cukup duduk di lantai. Tak menggunakan kursi. Begitulah umumnya sosialisasi di desa yang memang jauh dari keramaian kota.

Kehadiran PRCF di Desa Nanga Lauk memperkuat semangat konservasi. Masyarakat Desa Nanga Lauk bergantung hidup dari hasil alam. Ada tiga komoditas andalan, yakni madu, ikan, dan karet. Khusus madu dan ikan sangat tergantung dari kondisi hutan terutama di daerah aliran sungai. Kehadiran PRCF di desa tersebut ingin memberikan kesadaran akan pentingnya menjaga alam terutama di daerah aliran sungai. Harapannya, segala hasil dari alam tetap menjadi sumber pendapatan masyarakat. (ros)

 

 

Continue Reading