Kamera Jebak Membuka Rahasia Desa Sri Wangi

Ditulis oleh  Rosadi PRCF 02 October 2026
camare trap di hutan desa Sri Wangi

Hutan tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya berbicara dengan bahasa yang tidak selalu terdengar manusia. Jejak kaki, kepak sayap, suara di balik semak, hingga satwa yang melintas dalam gelap adalah pesan bahwa kehidupan terus berlangsung. Di Hutan Desa Sri Wangi, pesan itu mulai terbaca melalui teknologi sederhana, kamera jebak (camara trap).

Pada 27 September 2026, tim Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sri Wangi melakukan pemantauan biodiversitas menggunakan camera trap. Empat orang pelaksana, seluruhnya laki-laki, bekerja pada titik koordinat latitude 10.4733411 derajat, longitude 112.4894048 derajat, altitude 92.69999694824219 meter di atas permukaan laut, dengan accuracy 99.935 meter.

Angka-angka tersebut bukan sekadar data teknis. Di baliknya ada upaya untuk mengetahui siapa saja penghuni hutan yang selama ini lebih sering bersembunyi dari pandangan manusia.

Hasilnya mengagumkan. Kamera jebak merekam beragam fauna, antara lain beruang madu, beruk, burung sempidan, landak, musang belang, tikus, trenggiling, kancil, dan tupai. Setiap rekaman menjadi bukti bahwa Hutan Desa Sri Wangi memiliki kekayaan biodiversitas yang patut dijaga.

Kamera jebak juga mengajarkan satu hal penting dalam konservasi: menjaga hutan membutuhkan data. Hutan yang terlihat hijau belum tentu diketahui kondisi ekologisnya. Kehadiran satwa memberikan informasi penting tentang habitat dan kehidupan yang masih berlangsung di dalamnya.

Namun perjalanan konservasi tidak selalu mulus. Memori pada camera trap satu mengalami kerusakan sehingga data tidak dapat terbaca. Tim tidak berhenti. Memori yang rusak segera diganti agar pemantauan berikutnya dapat berjalan lebih baik.

Masalah teknis itu justru menjadi pelajaran. Ke depan, perangkat perlu diperiksa sebelum pemasangan, data dicadangkan secara berkala, lokasi dicatat secara konsisten, dan pemantauan dilakukan berulang. Dengan begitu, foto satwa tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat menjadi basis informasi untuk pengelolaan hutan desa.

Di balik kegiatan ini terdapat kerja kolaboratif. Kamal Najib F, mahasiswa magang dari PRCF Indonesia, menyusun laporan kegiatan. Laporan tersebut ditinjau Novia Wulandari selaku Ketua LPHD, Yayan Hisbullah selaku Fasilitator Desa, dan Yadi Purwanto selaku Fasilitator Spesialis.

Inilah wajah konservasi yang sesungguhnya: masyarakat, pendamping, generasi muda, dan lembaga bekerja bersama menjaga rumah kehidupan.

Sri Wangi memberi pesan sederhana. Untuk menjaga hutan, kita harus mengenalnya terlebih dahulu. Data melahirkan pengetahuan, pengetahuan menumbuhkan kepedulian, dan kepedulian harus diwujudkan dalam tindakan.

Hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah rumah bagi beruang madu, trenggiling, kancil, burung, dan ribuan makhluk lainnya. Menjaganya berarti memastikan kehidupan hari ini tetap tersedia bagi generasi esok.

Rosadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *