Arum jeram tanjung lasa

Personel PRCF  Jajal Arung Jeram di Hutan Desa Tanjung Lasa Putussibau Utara

Potensi arung jeram di sejumlah sungai di Kapuas Hulu cukup banyak. Salah satunya arung jeram di Desa Tanjung Lasa Kecamatan Putussibau Utara. Pihak desa telah menjadikan arung jeram yang ada di sungainya sebagai ekowisata. Beberapa hari lalu, sejumlah personel PRCF Indonesia menjajal arung jeram itu bersama tim dari Besar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum (BBTNBKDS).

“Sudah terbentuk Kelompok Ekowisata di Desa Tanjung Lasa ini. Salah satu potensi ekowisata yang dikelola adalah arung jeram. Kita sudah menjajalnya dan cukup lumayan untuk menikmati keindahan sungai yang dikelilingi hutan lebat,” kata Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut, Senin (12/9/2022).

Kelompok ekowisata tersebut mencoba mempromosikan arung jeram di Sungai Sibau. Desa ini juga memiliki 4.996 hektare. Tentunya ini sebuah potensi besar bila dikelola hutan desa sebaik mungkin. Hutan desa itu tidak sekadar menawarkan ekowisata, melainkan banyak potensi lain yang bisa meningkatkan pendapatan masyarakat desanya.

Pihak PRCF Indonesia siap berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Tanjung Lasa maupun LPHD dalam pengelolaan hutan desa. Beberapa desa yang sudah menjadi dampingan PRCF bisa dijadikan contoh. Apalagi hutan desa Tanjung Lasa itu merupakan penyangga dari Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum.

arung jerang
Fernando (tengah) dan Sinan (kanan) sedang menjajal arung jeram Tanjung Lasa Putussibau Utara Kapuas Hulu

Saat menjajal arung jeram, Imanul tidak sendirian. Ada Fernando Potes asal Colombia, Presiden Direktur PRC Foundation, Sinan Serhadli asal Jerman, staf Pengembangan Program di Sumatera Utara, Nguyen Thuy asal Vietnam, Direktur Keuangan PRC Foundation, Nguyen Nga asal Vietnam staf Pengembangan Usaha Masyarakat,  Fifiyati, anggota Badan Pembina  Tenaga Ahli Pemberdayaan Perempuan dan Usaha Masyarakat. Beberapa diantaranya Warga Negara Asing (WNA). Mereka juga bagian dari PRCF Internasional. Secara tidak langsung mereka pasti akan bercerita soal potensi ekowisata Desa Tanjung Lasa ini. Potensi arung jeram Tanjung Lasa ini perlu dipromosikan secara massif agar banyak orang luar ingin mencobanya.

“Paket wisata arung jeram memang belum di-launching. Mudah-mudahan dengan kehadiran kami menjajal arung jeram itu membuat Tanjung Lasa bisa dikenal luas oleh masyarakat,” tambah alumni Fakultas Kehutanan Untan ini.

Potensi Ekowisata

Setiap desa dengan dampingan PRCF Indonesia salah satu programnya mengelola ekowisata. Terlebih dahulu dibentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Ekowisata. Apabila ini sudah dibentuk, berikutnya memperkuat kelembagaan dan sumber daya manusianya. Seperti dilakukan PRCF di Desa Nanga Lauk, ada KUPS Ekowisata di sana.

Begitu juga di desa lain, bila memiliki potensi ekowisata akan dibentuk KUPS sebagai lembaga resmi yang mengelola potensi tersebut. Semua muaranya untuk menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan. (ros)