Book Appointment Now
Dari Mata Satelit hingga Jejak Kaki di Hutan
Ada sesuatu menarik di kantor LPHD Bumi Lestari, Desa Penepian Raya. Di satu sisi, hutan sedang diverifikasi dengan langkah kaki dan pengamatan langsung. Di sisi lain, sebuah layar komputer memperlihatkan hutan yang sama dari kejauhan, seolah-olah kita sedang melihatnya dari langit.
Di antara kesibukan verifikasi lapangan tersebut, Yadi Purwanto, Koordinator Konservasi PRCF Indonesia, memberikan kuliah singkat tentang penginderaan jauh kepada staf LPHD Bumi Lestari dan mahasiswa magang. Bukan sekadar belajar teknologi, tetapi belajar bagaimana teknologi dapat membantu manusia memahami dan menjaga hutan dengan cara yang lebih cerdas.
Yadi memperkenalkan penginderaan jauh, manfaatnya dalam konservasi, berbagai tools dan platform untuk mengakses citra satelit, hingga bagaimana data tersebut dapat diterjemahkan menjadi informasi yang berguna di lapangan.
Salah satu yang digunakan adalah Citra Sentinel-2A. Dari citra tersebut, peserta diajak melihat kawasan hutan bukan sekadar sebagai hamparan warna di layar, tetapi sebagai data yang bisa dianalisis.
Dengan ArcGIS, dilakukan analisis singkat menggunakan metode supervised classification. Citra yang semula tampak seperti gambar kemudian diolah menjadi informasi mengenai klasifikasi tutupan lahan.
Di sinilah teknologi menjadi menarik. Satelit berada jauh di atas sana. Tetapi hasil pengamatannya justru membantu manusia yang berada di bawah, di tengah hutan, mengambil keputusan dengan lebih baik.
Hasil analisis kemudian diekspor dalam bentuk PDF basemap untuk digunakan melalui aplikasi Avenza. Peta tersebut dapat dibawa ke lapangan sebagai panduan ketika melakukan groundcheck. Artinya sederhana, tetapi sangat penting: apa yang terlihat dari langit harus diperiksa dengan kaki di bumi.
Citra satelit dapat menunjukkan indikasi perubahan. Namun masyarakat dan pengelola hutanlah yang kemudian memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan. Apakah perubahan tutupan lahan? Apakah kawasan masih terjaga? Apakah ada aktivitas manusia? Atau justru terdapat sesuatu yang perlu segera ditindaklanjuti?
Inilah wajah konservasi modern. Teknologi tidak menggantikan manusia. Teknologi justru memperkuat kemampuan manusia. Terlebih bagi LPHD Bumi Lestari, yang mengelola Hutan Desa Penepian Raya di Kalimantan Barat. Sejak memperoleh hak pengelolaan hutan desa sekitar tahun 2015, lembaga ini dipercaya mengelola kawasan hutan lindung seluas kurang lebih 1.285 hektare. Seluas 1.285 hektare bukan angka kecil.
Di balik angka itu terdapat pepohonan, sumber air, keanekaragaman hayati, ruang hidup masyarakat, dan masa depan desa. Karena itu, menjaga kawasan sebesar itu membutuhkan lebih dari sekadar semangat. Dibutuhkan pengetahuan, keterampilan, data, teknologi, dan yang paling penting, manusia yang memiliki kepedulian terhadap hutan.
Rosadi
