Book Appointment Now
Dari Dokumen ke Tengah Hutan, Memastikan Konservasi Benar-Benar Berjalan
Menjaga hutan bukan pekerjaan cukup dilakukan dari balik meja. Tidak cukup hanya dengan membuat laporan, mengumpulkan foto kegiatan, atau menanam pohon lalu selesai. Konservasi sesungguhnya membutuhkan keberanian untuk turun ke lapangan, melihat kondisi hutan dengan mata sendiri, mendengar suara masyarakat, dan memastikan setiap program benar-benar meninggalkan manfaat.
Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan verifikasi tahun ke-4 pendampingan PRCF Indonesia di Desa Nanga Betung, Rabu, 6 Oktober 2026. Nanga Betung merupakan salah satu dari empat desa dampingan yang menjadi lokasi verifikasi oleh Daemeter.
Verifikasi dilakukan secara menyeluruh. Tim tidak hanya memeriksa dokumen dan evidence, tetapi juga mendatangi langsung kawasan hutan desa. Mereka mengecek lokasi bukaan atau ESO loss, meninjau infrastruktur konservasi seperti menara pantau dan pos patroli, serta melihat lokasi restorasi.
Tim kemudian dibagi menjadi dua. Satu orang dari Daemeter melakukan wawancara dengan pemerintah desa, masyarakat, penerima manfaat, tim patroli, dan LPHD. Sementara satu orang lainnya bersama pendamping dan dua anggota LPHD masuk ke kawasan hutan untuk melihat langsung kondisi lapangan.
Cara kerja seperti ini memberikan pelajaran penting, konservasi harus dapat dibuktikan, bukan sekadar diceritakan.
Daemeter merupakan konsultan independen berbasis di Bogor yang sejak 2007 banyak bekerja pada isu pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, kehutanan, lingkungan, konservasi, rantai pasok komoditas, hingga sosial dan tata kelola.
Keahlian mereka mencakup HCV/HCS, keberlanjutan kelapa sawit, pemetaan GIS dan remote sensing, traceability, REDD+, karbon dan perubahan iklim, survei sosial, hak asasi manusia, serta pemberdayaan masyarakat.
Dalam foto, tim terlihat duduk di atas sebuah menara pantau atau menara api. Dari ketinggian itu, bentang hijau hutan Nanga Betung terbentang luas. Menara sederhana tersebut bukan sekadar tempat menikmati pemandangan. Ia menjadi mata membantu manusia mengawasi hutan, melihat perubahan lanskap, mengenali potensi gangguan, sekaligus memahami bahwa kawasan yang dijaga bukanlah sekadar angka dalam laporan.
Menurut Yadi Purwanto, Koordinator Konservasi PRCF Indonesia, verifikasi seperti ini penting untuk memastikan pelaksanaan program di lapangan berjalan sesuai tujuan.
Yang menarik, proses konservasi di Nanga Betung memperlihatkan, masyarakat bukan objek, melainkan pelaku. Pemerintah desa, LPHD, tim patroli, penerima manfaat, pendamping, hingga lembaga independen memiliki peran masing-masing.
Inilah model konservasi layak dicontoh. Ada program, ada masyarakat, ada pemantauan, ada verifikasi, dan ada keberanian membuka kondisi lapangan untuk diperiksa.
Sebab hutan tidak membutuhkan terlalu banyak slogan. Hutan membutuhkan orang-orang mau menjaganya secara konsisten. Dari atas menara pantau Nanga Betung, kita belajar, menjaga hutan berarti menjaga lebih dari sekadar pepohonan. Di dalamnya ada air, udara, satwa, kehidupan masyarakat, dan masa depan generasi berikutnya.
Barangkali, dari menara sederhana itulah kita bisa melihat satu hal dengan lebih jelas: ketika masyarakat ikut menjaga hutan, konservasi bukan lagi proyek, ia menjadi cara mempertahankan kehidupan.
Rosadi
