Book Appointment Now
PRCF Indonesia Membawa Cerita Kalimantan ke Panggung Dunia
Sesuatu yang setiap hari kita makan ternyata menyimpan pelajaran besar tentang masa depan manusia. Makanan bukan sekadar urusan perut kenyang. Di balik sepiring nasi dan sepotong ikan, ada hutan yang dijaga, tanah yang dirawat, pengetahuan leluhur yang diwariskan, serta kehidupan masyarakat yang dipertaruhkan. Dari meja makan, kita sesungguhnya sedang membicarakan masa depan bumi.
Gagasan inilah yang mempertemukan lebih dari 1.500 produsen pangan, koki, peneliti, dan aktivis dari 120 negara dalam Terra Madre Salone del Gusto 2026, di Turin, Italia, pada 24–27 September 2026. Edisi ke-16 pertemuan akbar gerakan Slow Food ini sekaligus menandai 40 tahun berdirinya Slow Food Italia. Lebih dari 600 peserta pameran meramaikan pasar internasional di berbagai sudut kota Turin. Tahun ini juga menjadi momentum emosional karena berlangsung tanpa kehadiran pendirinya, Carlo Petrini, yang telah berpulang.
Imanul Huda, Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, hadir membawa pengalaman konservasi berbasis komunitas dari Indonesia. Kehadirannya menjadi kesempatan untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkenalkan upaya masyarakat dalam menjaga alam dan keberlanjutan kehidupan.
Dalam statusnya, Imanul menulis, sesuatu berawal dari makanan dapat menjadi bahan pemikiran bagi masa depan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Menurutnya, makanan tidak cukup hanya mengenyangkan, tetapi juga harus memiliki nilai Good, Clean, and Fair: baik bagi manusia, ramah lingkungan, dan adil bagi produsennya.
Pesan ini mengajak kita melihat makanan secara lebih mendalam. Pangan murah belum tentu benar-benar murah apabila produksinya merusak hutan, mencemari sungai, atau membuat petani terus hidup dalam ketidakpastian. Pangan yang baik semestinya tidak mengorbankan alam dan martabat manusia.
Tema tahun ini, “Biodiversity. Be Diversity”, mengajak dunia merayakan keanekaragaman hayati dan budaya. Presiden Slow Food, Edward Mukiibi, mengingatkan bahwa lawan keanekaragaman hayati bukan hanya keseragaman, melainkan juga kepunahan. Ketika keragaman alam dan budaya menghilang, masyarakat menjadi semakin rentan.
Mukiibi menyerahkan surat dari petani, nelayan, masyarakat adat, koki, dan peneliti kepada Presiden Italia, Sergio Mattarella. Pesannya menegaskan bahwa perdamaian, keadilan pangan, dan perlindungan keanekaragaman hayati juga merupakan pilihan politik yang menentukan masa depan bersama.
Di sinilah pengalaman PRCF Indonesia menjadi relevan. Sejak 2000, lembaga ini bekerja di Kalimantan dan Sumatra Utara dengan pendekatan konservasi berbasis komunitas. Masyarakat sekitar hutan tidak disingkirkan, tetapi dilibatkan sebagai pelaku utama pelestarian.
Imanul menegaskan, keberhasilan konservasi harus mampu bertahan meskipun suatu hari lembaga pendamping tidak lagi hadir. Masyarakat diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melanjutkan upaya perlindungan alam secara mandiri.
Konservasi yang berhasil bukan sekadar meninggalkan hutan yang lestari, melainkan juga masyarakat yang mampu menjaganya.
Di Turin, pengalaman tersebut bertemu dengan cerita dari berbagai negara melalui konferensi, lokakarya, dan diskusi tentang tradisi pangan, kekeringan, kearifan leluhur, serta produksi berkelanjutan. Perjumpaan ini menunjukkan bahwa petani, nelayan, dan masyarakat adat di berbagai belahan dunia memiliki kepentingan yang sama: mempertahankan sumber kehidupan bagi generasi mendatang.
Kehadiran Imanul Huda dan PRCF Indonesia membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkenalkan pengalaman Indonesia kepada masyarakat internasional.
Pada akhirnya, masa depan bumi tidak hanya ditentukan oleh keputusan di ruang konferensi. Pilihan kita saat membeli makanan, menghargai petani, dan memperlakukan alam juga memiliki arti.
Apa yang kita makan hari ini ikut menentukan dunia yang kita wariskan esok hari. Menjaga pangan berarti menjaga kehidupan. Merawat keanekaragaman berarti memberi masa depan kesempatan untuk terus tumbuh.
Rosadi
