Book Appointment Now
Konservasi Bukan Sekadar Menanam, tetapi Merawat hingga Bertahan
Di tengah hamparan hijau Hutan Desa Nanga Jemah, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tiga orang warga sedang mengerjakan sesuatu tampak sederhana, tetapi menyimpan harapan besar bagi masa depan lingkungan. Di bawah naungan jaring persemaian sementara, mereka merawat bibit-bibit pohon yang kelak diharapkan menjadi bagian dari hutan yang lestari.
Pada 3–4 Oktober 2026, dua laki-laki dan satu perempuan anggota Kelompok Kegiatan Desa Nanga Jemah melaksanakan pemeliharaan bibit melalui Program Rencana Pengelolaan Kehutanan Adaptif (RPKA). Mereka membersihkan gulma, memeriksa pertumbuhan tanaman, dan memastikan bibit dalam polybag tetap terawat.
Pekerjaan ini mengajarkan satu hal penting, konservasi bukan sekadar menanam pohon, melainkan memastikan pohon tersebut mampu bertahan hidup dan tumbuh.
Tantangan pun muncul. Laporan kegiatan mencatat, gulma tumbuh lebih subur dibandingkan bibit yang dipelihara. Persaingan mendapatkan air, cahaya, ruang, dan unsur hara dapat menghambat pertumbuhan tanaman muda. Karena itu, pembersihan gulma, pemantauan kondisi bibit, dan penyiraman sesuai kebutuhan harus dilakukan secara konsisten.
Pengecekan minimal sekali sebulan menjadi langkah dasar untuk memantau perkembangan tanaman. Namun, ketika gulma tumbuh cepat atau cuaca berubah, pemantauan lebih sering diperlukan. Penanaman di lapangan juga perlu mempertimbangkan kesiapan bibit dan kondisi lingkungan.
Di sinilah semangat konservasi diuji. Ketika gulma tumbuh lebih cepat, solusinya bukan menyerah, melainkan meningkatkan ketekunan dan memperbaiki cara pemeliharaan.
Kegiatan ini turut ditinjau oleh Joni Toto dari LPHD Nyuai Peningun, Yayan Hisbullah selaku Fasilitator Desa Sri Wangi dan Nanga Jemah, serta Yadi Purwanto selaku Fasilitator Program Konservasi. Ketiganya menandatangani laporan pada 4 Oktober 2026. Kolaborasi tersebut memperlihatkan pentingnya pendampingan dan evaluasi dalam pengelolaan hutan desa.
Keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang ditanam. Tingkat kelangsungan hidup, pertumbuhan tanaman, dan kesesuaiannya dengan ekosistem juga perlu diperhatikan.
Dari Nanga Jemah, kita belajar, menjaga hutan tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Terkadang, semuanya bermula dari tiga orang yang tekun merawat bibit di bawah jaring sederhana.
Mungkin hari ini mereka hanya membersihkan gulma dan memeriksa tanaman. Namun, bertahun-tahun mendatang, bibit itu berpotensi tumbuh menjadi pohon yang menjaga tanah, mendukung keanekaragaman hayati, dan menopang kehidupan. Merawat bibit hari ini berarti memberi kesempatan kepada hutan untuk tetap hidup esok hari.
Rosadi
