Book Appointment Now
Menjaga Hutan, Merawat Kehidupan, Kisah Empat Desa di Pontianak Biennale 2026
Hutan tidak selalu membutuhkan pahlawan bersenjata. Terkadang, ia hanya membutuhkan warga yang bersedia melangkah menembus belantara, menyusuri jalur-jalur sunyi, dan memastikan pepohonan tetap berdiri untuk generasi mendatang.
Semangat itulah yang dihadirkan PRCF Indonesia dalam Pontianak Biennale 2026 melalui program Beranda Sinema dan Wicara, Rabu, 14 Oktober 2026. Film Payment for Ecosystem Services mengajak penonton menyaksikan perjuangan masyarakat di empat desa di Kabupaten Kapuas Hulu, yakni Nanga Betung, Nanga Jemah, Sri Wangi, dan Tanjung, dalam menjaga hutan yang menjadi bagian penting kehidupan mereka.
Salah satu upaya nyata yang dilakukan masyarakat adalah patroli hutan desa secara rutin. Kegiatan ini bukan sekadar berjalan menyusuri kawasan hutan, melainkan bentuk kepedulian untuk memantau kondisi lingkungan, mencegah ancaman kerusakan, serta memastikan kekayaan alam tetap terjaga.
Di balik setiap langkah patroli, ada kesadaran bahwa hutan bukan hanya kumpulan pepohonan yang indah dipandang. Hutan merupakan penyangga kehidupan, penjaga keseimbangan ekosistem, sumber air, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Perspektif konservasi ini penting dipahami di tengah tantangan pembangunan dan tekanan terhadap sumber daya alam. Melindungi hutan tidak cukup hanya dengan membuat aturan atau memasang papan larangan. Konservasi membutuhkan keterlibatan masyarakat, penguatan kelembagaan desa, serta manfaat ekonomi yang memungkinkan warga menjaga alam tanpa harus mengorbankan kesejahteraan mereka.
Melalui pendekatan Payment for Ecosystem Services, film ini juga membuka ruang untuk memahami pentingnya menghargai jasa ekosistem. Hutan memberikan manfaat besar bagi manusia, sehingga upaya masyarakat yang merawatnya layak mendapatkan perhatian dan dukungan. Pelestarian alam semestinya menjadi tanggung jawab bersama, bukan beban yang ditanggung masyarakat desa seorang diri.
Diskusi akan menghadirkan Imanul Huda, S.Hut., M.Hut., Direktur Yayasan PRCF Indonesia sekaligus aktivis lingkungan; M. Hermayani Putera, pegiat sosial-lingkungan yang aktif di Gerakan Pembaharu (GAHARU) Pontianak; serta Hera Yulita, pegiat lingkungan, sosial, dan budaya.
Pertemuan ini menjadi kesempatan untuk melihat konservasi dari dekat, mendengar pengalaman masyarakat, sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan alam.
Pontianak Biennale 2026 menghadirkan ruang bagi film dan percakapan untuk menumbuhkan kesadaran ekologis. Melalui kisah empat desa di Kapuas Hulu, kita diingatkan bahwa menjaga hutan bukan pekerjaan kecil. Ia adalah investasi bagi masa depan, agar mata air tetap mengalir, satwa liar tetap memiliki rumah, dan generasi berikutnya masih dapat mewarisi alam yang hidup.
Mari hadir bersama di Port 99, Jalan Komodor Yos Sudarso No. 99, Pontianak Barat, pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 19.00–21.15 WIB.
Sebab, hutan yang lestari bukan hanya warisan yang kita terima dari masa lalu, melainkan amanah yang harus kita jaga untuk masa depan.
Rosadi
