Book Appointment Now
Aplikasi Fire Hotspot dari Nanga Lauk Menarik Perhatian Bapperida Pontianak
Inovasi yang lahir dari kebutuhan menjaga hutan desa ternyata mulai menarik perhatian kota. Aplikasi Pantau Api Nanga Lauk, sistem pemantauan titik panas berbasis satelit sebelumnya diperkenalkan untuk wilayah Desa dan Hutan Desa Nanga Lauk, Kapuas Hulu, kini dilirik Bapperida Kota Pontianak.
Teknologi yang awalnya membantu masyarakat pedalaman mengawasi ancaman kebakaran hutan, sekarang mulai membuat pejabat perkotaan penasaran. Rupanya, api tidak mengenal batas administrasi. Ia tidak peduli apakah wilayahnya desa, kecamatan, atau kota. Sekali menyala, asapnya bisa mengundang satu kota untuk ikut batuk berjamaah.
Ketertarikan tersebut disampaikan Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda, ketika mengikuti Focus Group Discussion (FGD) dalam rangka penyusunan Policy Brief Mitigasi Kebakaran Hutan dan Lahan di Kota Pontianak.
Dalam kesempatan itu, aplikasi Fire Hotspot diperkenalkan kepada peserta FGD. Respons dari pihak Bapperida Kota Pontianak cukup menggembirakan. Mereka tertarik mendengarkan penjelasan secara langsung mengenai cara kerja aplikasi tersebut.
“Alhamdulillah aplikasi Fire Hotspot sudah disampaikan dalam kesempatan ini, pihak BAPPERIDA tertarik untuk mendengarkan secara langsung cara kerjanya. Mereka akan menghubungi setelah disampaikan kepada pak walikota,” kata Imanul Huda.
Artinya, pembicaraan tidak berhenti pada sesi presentasi. Ada peluang komunikasi lanjutan setelah informasi mengenai aplikasi tersebut disampaikan kepada Wali Kota Pontianak.
Mengapa aplikasi ini menarik?
Pantau Api Nanga Lauk bukan sekadar peta digital yang memajang titik merah. Sistem ini memanfaatkan data resmi NASA FIRMS melalui satelit VIIRS dan MODIS. Pembaruan dilakukan otomatis setiap tiga jam. Setiap titik panas dianalisis berdasarkan lokasi, kawasan, tutupan lahan, gambut, petak patroli, hingga kondisi cuaca.
Pengguna juga bisa memantau status Aman, Waspada, dan Siaga, melihat riwayat hotspot, serta menghasilkan laporan otomatis lengkap dengan peta, grafik, tabel, dan analisis cuaca.
Bagi Kota Pontianak, pendekatan seperti ini tentu menarik untuk dipelajari. Apalagi, mitigasi kebakaran hutan dan lahan membutuhkan informasi yang cepat, akurat, dan bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Tentu saja, penerapan di wilayah perkotaan perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah, sumber data, kebutuhan pemantauan, dan mekanisme verifikasi lapangan. Teknologi satelit bukan pengganti petugas, tetapi dapat menjadi mata tambahan untuk membantu mereka bekerja lebih terarah.
Di sinilah nilai penting inovasi tersebut. Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan untuk kebutuhan masyarakat desa ternyata berpotensi memberikan manfaat lebih luas. Ini sekaligus membuktikan bahwa inovasi tidak harus selalu lahir dari gedung pencakar langit atau laboratorium berpendingin udara.
Kadang-kadang, solusi besar justru muncul dari kepedulian menjaga hutan di pedalaman.
Jika komunikasi lanjutan dengan Bapperida terealisasi, peluang kolaborasi ini patut dikembangkan. Bukan semata-mata soal mengadopsi sebuah aplikasi, melainkan membangun sistem mitigasi yang lebih berbasis data dan antisipasi.
Sebab, menghadapi karhutla jangan menunggu asap mengepul baru menggelar rapat. Kalau api sudah membesar, rapat koordinasi bisa kalah cepat dengan arah angin.
Dari Nanga Lauk untuk Pontianak. Dari hutan desa menuju kota. Inilah menariknya inovasi konservasi: ketika teknologi yang dikembangkan untuk menjaga satu kawasan ternyata berpeluang membantu melindungi kawasan yang lebih luas.
Rosadi
