Book Appointment Now
Hutan yang Dijaga dengan Hati
Di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, hutan bukan sekadar hamparan hijau yang terlihat indah dari kejauhan. Ia adalah ruang hidup. Di dalamnya ada air, pangan, satwa, sumber penghidupan, sekaligus masa depan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Karena itu, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan melarang orang menebang pohon. Hutan akan jauh lebih kuat ketika masyarakat yang hidup bersamanya memiliki pengetahuan, kemampuan dan alasan untuk menjaganya.
Semangat itulah yang tumbuh melalui Program Rimba Pakai Pengidup dan Rimba Pakai Kemuka Ari yang dilaksanakan PRCF Indonesia. Dua program ini mencakup sekitar 11.725 hektare wilayah hutan desa di Kabupaten Kapuas Hulu. Di dalamnya terdapat enam Lembaga Pengelola Hutan Desa atau LPHD yang menjadi ujung tombak pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
Yang dibangun bukan hanya hutannya, tetapi juga manusianya. Selama beberapa tahun, kapasitas LPHD diperkuat melalui berbagai pelatihan, mulai dari pengelolaan konflik dan keluhan, perpustakaan desa, navigasi darat, keselamatan kerja, pengendalian kebakaran, hingga pengelolaan keuangan dan mata pencaharian.
Hasilnya mulai terlihat. Pada 2025, tingkat kemandirian LPHD berada pada kisaran 66–82. LPHD Pundjung Batara mencapai nilai 82, sementara Bumi Lestari 79 dan Nyuai Peningun serta Tanjung Desak Bukit Belang masing-masing 78. Angka-angka itu bukan sekadar nilai dalam tabel. Ia menggambarkan proses panjang ketika masyarakat perlahan semakin mampu berdiri di atas kaki sendiri untuk mengelola hutannya.
Lalu lihat bagaimana hutan itu dijaga. Masyarakat masuk ke kawasan melalui patroli rutin. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang menggunakan perahu karena wilayah hutannya berupa danau. Dalam patroli tersebut, mereka tidak hanya mencari tanda-tanda gangguan hutan, tetapi juga mencatat kehidupan yang ada di dalamnya.
Burung, mamalia, dan herpetofauna menjadi bagian dari catatan perjalanan mereka. Pada LPHD Bukit Belang, misalnya, patroli mencatat 83 jenis burung, 17 herpetofauna dan 25 mamalia. Di Nyuai Peningun ditemukan 70 jenis burung, 20 herpetofauna dan 25 mamalia. Hutan ternyata bukan hanya kumpulan pohon. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang tak terhitung nilainya.
Ketika sebagian kawasan membutuhkan pemulihan, masyarakat menanam kembali. Pada 2025, 2.996 bibit ditanam di Desa Tanjung. Tahun 2026, restorasi direncanakan diperluas ke seluruh desa dalam Program Rimba Pakai Kemuka Ari.
Tetapi konservasi yang hebat bukan hanya tentang bagaimana hutan dijaga. Ia juga tentang bagaimana masyarakat dapat hidup sejahtera tanpa menghancurkannya. Karena itu, usaha madu, perikanan dan ekowisata terus dikembangkan. Madu liar DéNALA bahkan dibawa ke Terra Madre Asia & Pasifik 2025 di Filipina dan diperkenalkan kepada lebih dari 2.000 delegasi dari 25 negara.
Pada akhirnya, konservasi bukanlah perang antara manusia dan alam. Konservasi adalah ketika manusia menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari alam. Pohon mungkin tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada orang yang menjaganya. Burung tidak akan memberikan piagam penghargaan kepada masyarakat yang melindungi habitatnya. Sungai pun tidak pernah mengirim ucapan selamat kepada mereka yang menjaga daerah alirannya.
Tetapi suatu hari, anak-anak yang tumbuh di desa-desa itu akan berjalan di bawah pepohonan yang hari ini dijaga. Mereka mungkin tidak tahu siapa yang pernah menanamnya. Namun mereka akan merasakan teduhnya.
Mungkin, itulah warisan konservasi yang paling indah: kita menjaga hutan bukan agar nama kita dikenang, tetapi agar kehidupan setelah kita tetap memiliki tempat untuk pulang.
Rosadi
