Nanga Jemah

Nanga Jemah, Nanga Betung dan Sri Wangi Juga Teken MoU dengan PRCF Indonesia

Nanga Jemah, Nanga Betung dan Sri Wangi  mengikuti jejak Desa Penepian Raya menandatangani (teken) MoU dengan PRCF Indonesia. MoU tersebut terkait dengan program Rimbak Pakai Kemuka Ari atau Hutan untuk Masa Depan melalui skema imbal jasa ekosistem.

Untuk Nanga Betung Kecamatan Boyan Tanjung Kabupaten Kapuas Hulu lewat LPHD Pundjung Batara Desa teken MoU dengan PRCF Indonesia pada 19 Januari 2022. Penandatanganan MoU di Kantor Desa Nanga Betung. Setelah dari Nanga Betung, pada tanggal sama, PRCF juga teken MoU dengan LPHD Batang Tau Desa Sri Wangi Kecamatan Boyan Tanjung. Acara tersebut berlangsung lancar dan sukses dengan disaksikan perwakilan warga.

Nanga Betung
Suasana pertemuan antara Pemerintahan Desa Nanga Betung, LPHD dan PRCF sebelum ada penandatanganan MoU

Sementara untuk Desa Nanga Jemah Kecamatan Boyan Tanjung lewat LPHD Nyuai Peningun menandatangani MoU dengan PRCF Indonesia, 20 Januari 2022. Lokasi teken MoU di Kantor Desa Nanga Jemah.

Sri Wangi
Suasana pertemuan antara perwakilan Desa Sri Wangi dengan PRCF sebelum acara penandatanganan MoU

Ketika MoU sudah ditandatangani secara tidak langsung sudah menjadi dokumen penting. Artinya, pihak desa lewat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD)-nya siap didampingi oleh PRCF dalam program konservasi hutan atau lebih spesifik dikenal dengan program Rimbak Pakai Kemuka Ari atau Hutan untuk Masa Depan melalui skema imbal jasa ekosistem.

Nanga Jemah
Pengurus LPHD Nyuai Peningun Nanga Jemah dan PRCF Indonesia usai menandatangani MoU

Selama ini, PRCF Indonesia memiliki kemampuan dan pengalaman dalam program konservasi hutan desa. Sebagai contoh, dari tahun 2019 sampai sekarang, PRCF masih aktif mendampingi LPHD Lauk Bersatu di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu. Apa yang telah dilakukan di Nanga Lauk menjadi role model untuk desa lain. Kemudian, apa yang telah dilakukan PRCF tersebut menimbulkan kepercayaan tinggi bagi pihak donor.

Desa Tanjung Tertunda

Untuk Desa Tanjung Kecamatan Mentebah Kapuas Hulu dijadwalkan 20 Januari, karena ada musibah yang menimpa kepala desanya, ditunda. “Kita usahakan esok malam (21 Januari, red) bisa melanjutkan penandatanganan dengan LPHD Bukit Belang Desa Tanjung,” kata Direktur Eksekutif PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut.

“Berarti sudah empat LPHD dari desa yang berbeda menandatangani MoU dengan kita. Tinggal Desa Tanjung saja yang belum. Mudahan esok semua sudah terlaksana. Kita ucapkan terima kasih kepada LPHD dan perangkat desa yang telah mempercayakan PRCF sebagai pendamping atau fasilitator dalam pengelolaan hutan desa mereka,” tambah alumni Fakultas Kehutanan Untan ini. (ros)

Continue Reading
Patroli hutan

Patroli Hutan Agenda Rutin dalam Program Konservasi

Patroli hutan tidak bisa dipisahkan dari program utama PRCF Indonesia. Setiap ada pendampingan dalam pengelolaan hutan, patroli hutan menjadi agenda rutin. Secara regular program ini selalu dijalankan.

Program pendampingan pengelolaan hutan telah dimulai PRCF sejak tahun 2019 di Desa Nanga Lauk. Program tersebut terus berjalan sampai sekarang. Lewat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu yang dibentuk oleh Pemerintah Desa Nanga Lauk, terbentuklah tim patroli hutan. Personelnya murni dari warga Desa Nanga Lauk itu sendiri.

Untuk menjadi anggota tim patroli hutan sifatnya suka rela. Siapa yang bersedia bergabung, silakan masuk. Tentunya memperhatikan usia dan fisik juga. Terlalu muda juga tidak layak. Apalagi kalau sudah tua. Kisaran umur 20 sampai 40-an tahun.  Hal terpenting adalah kondisi fisik. Tidak mungkin yang sakit-sakitan direkrut menjadi anggota tim. Harus yang memiliki fisik kuat dan sehat.

Medan untuk patroli hutan itu terbilang cukup besar. Hutan desa yang dimiliki Desa Nanga Lauk bukanlah hutan di daratan penggunungan melainkan di rawa-rawa. Sebagian besar lahan hutannya tertutup oleh air. Saat patroli hutan, sebagian besar harus duduk di atas perahu motor. Berkeliling masuk ke celah-celah hutan rawa. Kadang mereka juga harus berjalan di genangan air. Di sini fisik kuat sangat dibutuhkan. Tak bisa kaleng-kaleng. Karena, medannya sangat berat dan memerlukan fisik dan stamina mumpuni.

Medan Lebih Berat

Patroli hutan tidak hanya diterapkan di Desa Nanga Lauk, melainkan di empat desa dampingan lainnya, yakni Desa Nanga Jemah, Nanga Betung, Sri Wangi dan Tanjung. Empat desa ini masih dalam wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. PRCF resmi melakukan pendampingan tahun 2021 lalu. Berarti kurang lebih satu tahun.

Di empat desa ini, medan hutan desanya terbilang lebih berat dibandingkan Nanga Lauk. Letak beratnya karena jarak dengan desa cukup jauh, dan harus jalan kaki. Sementara hutannya berbukit karena di lereng penggunungan. Saking beratnya medan yang mereka tempuh, harus menginap di dalam hutan. Kadang sampai lima hari mereka harus melakukan patroli. Apa yang mereka lakukan sebagai bentuk tanggung jawab memastikan tidak ada kerusakan hutan. Hutan adalah harta terbesar desa mereka yang harus dijaga demi generasi berikutnya (ros)

Continue Reading
Baju seragam

Baju Seragam Patroli Hutan untuk Nanga Betung

Baju seragam salah satu intrumen penting dalam patroli hutan. Sejak September 2021 lalu, tim patroli dari Desa Nanga Beetung tidak lagi mengenakan pakaian biasa, melainkan sudah berpakain seragam lengkap.

“Mereka tim patroli mengucapkan terima kasih telah memberikan perlengkapan patroli berupa baju seragam. Dengan baju seragam pastinya semakin semangat para tim patroli untuk melakukan patroli. Kalau sebelumnya belum berseragam dibandingkan sekarang sudah berseragam terasa lebih kompak,” kata Fasilitator Desa Nanga Betung dan Sri Wangi, PRCF Indonesia, Yayan Hisbullah S Hut, Rabu (13/10/2021).

Yayan selama ini aktif mendampingi tim patroli hutan khusus untuk Desa Nanga Betung dan Sri Wangi. Bukan sekadar mendampingi saja, melainkan mengajarkan bagaimana cara menanamkan semangat untuk melestarikan hutan. Hutan harus selalu dijaga dari segala kerusakan terutama oleh tangan manusia.

“Ke depan, setiap melakukan patroli, tentu semua anggota tim harus mengenakan baju seragam. Fungsinya jelas untuk kenyamanan serta keamanan badan dari segala sengatan serangga atau hal-hal yang tidak diinginkan,” jelas alumni Fakultas Kehutanan Untan ini.

Bukan hanya baju seragam, seluruh anggota tim patroli juga mengenakan sepatu boot. Dengan sepatu boot ini, anggota tim patroli akan semakin nyaman saat melangkah dalam hutan. Banyak serangga, duri, ranting pohon, serta semak belukar yang harus dilalui. Dengan sepatu boot, hal demikian bisa dilalui tanpa khawatir kaki akan cedera.

“Kita juga membekali mereka dengan tas punggung atau ransel. Gunanya untuk membawa segala peralatan dan kebutuhan pribadi yang diperlukan selama patroli. Mereka juga dikasih topi seragam untuk melindungi kepala dari sengatan sinar matahari atau hal yang bisa membayakan kepala,” ungkap Yayan.

Program TFCA Kalimantan

Patroli hutan desa merupaan program penting dari LPHD Desa Nanga Betung dan Sri Wangi. Program ini difasilitasi PRCF Indonesia dengan dukungan TFCA Kalimantan Siklus5. Sejak awal tahun 2021 lalu, program ini mulai dijalankan.

Dengan adanya patroli hutan ini, warga di dua desa tersebut memiliki kewajiban untuk menjaga hutan desanya sendiri dari kewajiban. Tidak hanya menjaga, mereka juga wajib mendokumentasikan flora dan fauna yang ada di dalam hutan. Dengan demikian, hutan menjadi sangat penting bagi perkembangan desa sekarang maupun akan datang. (ros)

Continue Reading