Madu DeNALA

Camat Embaloh Hilir Pesan 50 Botol Madu DeNALA

Camat Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu memesan madu hutan DeNala dari Desa Nanga Lauk. Madu DeNala sendiri produksi Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu binaan PRCF Indonesia. Ada 50 botol Madu DeNala 35 ml yang telah dipesan.

“Ada pesanan madu DeNALA 35 ml sebanyak 50 botol. Ini pesanan Pak Camat, Insyaallah kelompok hari ini ngantar madunya ke Putussibau,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat via WA Grup, Kamis (23/9/2021).

Pesanan dari Camat Embaloh Hilir tersebut membuktikan ada kepedulian dari pemerintah daerah untuk mempromosikan produk madu dari Desa Nanga Lauk. Bagi KUPS Madu sebuah kehormatan dan kepercayaan madu mereka bisa dipesan oleh pihak Kecamatan Embaloh Hilir.

“Alhamdulillah Pak Camat Embaloh Hilir secara tidak langsung ikut mempromosikan madu DeNALA. Dengan memesan madu dari Nanga Lauk secara tidak langsung juga ikut meningkatkan pendapatan masyarakatnya,” tambah pria kelahiran Jawai Sambas ini.

Rio berharap, mudah-mudahan ke depan, pihaknya bisa menawarkan madu DeNALA kepada penyelenggara even di Kapuas Hulu baik instansi pemerintah, swasta, dan sebagainya. “Peluang ke depan misalnya MTQ di Embaloh Hilir, kita akan coba menawarkan ke panitianya untuk menjadikan madu DeNALA menjadi souvernir,” harapnya.

Untuk mempromosikan madu hutan DeNALA tidak bisa hanya mengandalkan dari kemampuan KUPS Madu semata. Kelompok ini perlu dukungan juga dari Pemerintahan Desa, Kecamatan, sampai Pemerintahan Kabupaten. Bila ada kerja sama dan saling mendukung untuk produk asli dari Desa Nanga Lauk, produk apapun bisa dijual secara luas.

Khasiat Madu DeNALA

Desa Nanga Lauk –yang tersertifikasi Plan  Vivo–, terletak di jantung Pulau Kalimantan (Heart of Borneo), telah memperoleh Hak Pengelolaan Hutan Desa (HPHD) selama 35 tahun sejak 2017. Hak tersebut memberikan akses kepada masyarakat desa untuk mengelola hutan dan memetik manfaat ekonomi dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bermitra dengan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu, masyarakat membuat rencana dan aksi bisnis yang berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip pelestarian hutan. Madu DeNALA sendiri memiliki khasiat:

  1. Mencegah diabetes
  2. Mencegah kanker dan menyehatkan jantung
  3. Memperkuat imun tubuh
  4. Menyembuhkan luka
  5. Menurunkan kolesterol dan berat badan (ros)
Continue Reading
Mengenal KUPS

Mengenal KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial)

Mengenal KUPS (Kelompok Usaha Perhutanan Sosial) patut diketahui oleh publik secara luas. KUPS sangat penting diketahui karena berhubungan erat dengan pemberdayaan masyarakat terutama di sekitar hutan. Desa yang memiliki hutan memiliki potensi membentuk KUPS.

KUPS sendiri merupakan amanat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Desa yang mendapatkan Surat Keputusan (SK) kepemilikan areal hutan didorong untuk membentuk KUPS. Namun, terlebih dahulu membentuk Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Sebagai contoh, Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu mendapatkan hak pengelolaan hutan desa dari KLHK. Adanya legalisasi dari KLHK tersebut, Desa Nanga Lauk dibolehkan mencari donor ke pihak ketiga untuk mengelola hutan desanya. PRCF Indonesia mendapatkan izin dari Pemerintahan Desa Nanga Lauk untuk menjadi pendamping dalam pengelolaan hutan desanya.

Dari pendampingan yang dilakukan PRCF Indonesia, terbentuklah LPHD Lauk Bersatu yang di-SK-an oleh Kepala Desa Nanga Lauk. Setelah terbentuk LPHD, lalu dibentuk lagi lima KUPS yang membidangi sejumlah usaha yang sangat memungkinkan didirikan di Nanga Lauk. Berikut ini lima KUPS yang telah berdiri dan masih berjalan sampai saat ini:

  1. KUPS Madu

Desa Nanga Lauk terkenal sebagai salah satu desa penghasil madu paling berkualitas di Kabupaten Kapuas Hulu. Banyak warganya mengantungkan hidup dari mencari madu hutan di hutan desa. Berangkat dari latar belakang ini, LPHD Lauk Bersatu dengan didampingi PRCF Indonesia membentuk KUPS Madu. Para pencari madu dikumpulkan dalam KUPS ini. Di sinilah mereka berhimpun untuk menyatukan kekuatan dan persepsi dalam bisnis madu. Pihak PRCF sering melakukan pelatihan agar  madu yang dihasilkan secara lestari dan higienis. Tak hanya itu, madu juga dijual dalam bentuk kemasan sehingga bisa dijual ke sejumlah daerah.

  1. KUPS Ikan

Alamnya banyak sungai, rawa dan danau menjadikan Desa Nanga Lauk sebagai salah satu penghasil ikan air tawar terbesar di Kabupaten Kapuas Hulu. Banyak warganya mengandalkan ikan untuk menopang kebutuhan rumah tangga. Melihat kenyataan ini, dibentuklah KUPS Ikan. Di dalam kelompok ini mereka menyatukan kekuatan untuk usaha ikan ini. Selama ini, ikan yang dihasilkan lebih banyak dijual dalam kondisi hidup atau dibuat ikan asin. PRCF mencoba meningkatkan produk dengan mengolah ikan menjadi kerupuk dan sosis. Kemudian, dikemas sebaik mungkin agar bisa dipasarkan ke banyak daerah.

  1. KUPS Karet

Desa Nanga Lauk juga penghasil karet. Banyak warganya menanam karet di belakang rumahnya. Agar para petani karet memiliki persatuan, mereka lalu dihimpun dalam KUPS Karet. Pihak PRCF berusaha mendampingi para petani ini agar karet yang dihasilkan berkualitas. PRCF pernah mendatangkan perusahaan karet terbesar di Kalbar yakni PT New Kalbar Processors agar bisa membeli karet dari petani Nanga Lauk. Pihak perusahaan juga melakukan pelatihan agar karet sesuai dengan standar mereka.

  1. KUPS Rotan

Hutan desa Nanga Lauk banyak menghasilkan rotan. Di dalam hutannya banyak rotan yang bisa diolah menjadi kerajinan. Potensi ini dimanfaatkan LPHD Lauk Bersatu untuk mendirikan KUPS Rotan. Para pengerajin dihimpun dan dilatih agar bisa menghasilkan produk anyaman yang bisa dijual ke masyarakat. PRCF beberapa kali mendatangkan pelatih agar para pengerajin bisa terampil. Bahkan, Rumah Rotan juga didirikan dan dilengkapi mesin pengolah rotan. Semuanya agar potensi rotan bisa meningkatkan pendapatan warga Nanga Lauk.

  1. KUPS Ekowisata

Ada danau, sungai, hutan yang masih asri menjadikan Desa Nanga Lauk memiliki potensi di bidang ekowisata atau wisata alam. Alamnya yang indah ini didorong bisa menjadi kunjungan wisata. Beberapa pengurus KUPS Ekowisata ini dilatih menjadi pemandu wisata. Harapannya tidak lain agar alam indah Nanga Lauk bisa mendatangkan turis lokal maupun mancanegara. (ros)

Continue Reading
Fasilitasi asistensi bisnis

Fasilitasi Asistensi Bisnis  KUPS Desa Nanga Lauk

Fasilitasi Asistensi Bisnis untuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Desa Nanga Lauk rutin dilakukan PRCF Indonesia. Hal ini dilakukan agar bisnis yang dilakukan KUPS bisa berjalan sesuai rencana, sekaligus evaluasi terhadap program yang dijalankan.

“Tujuan kita melakukan fasilitasi asistensi bisnis ini untuk pemantauan dan evaluasi rencana kerja tahunan. Dari fasilitasi ini kita bisa melihat sejauh mana program kerja dijalankan. Bila ada kekurangan tentu diperbaiki,” kata Program Specialist for Livelihood PRCF Indonesia, Azri Ahmad S Hut di kantornya, Senin (5/7/2021).

Azri Ahmad sedang memimpin rapat
Azri Ahmad sedang memfasilitasi asistensi bisnis KUPS di Kantor LPHD Lauk Bersatu

Lanjut Azri, selain melakukan evaluasi, pihaknya juga memeriksa laporan keuangan KUPS. Semua bantuan keuangan harus dipertanggungjawabkan secara jelas. Pihaknya sudah mengajarkan cara mempertanggungjawabkan keuangan.

“Tujuan secara khusus adalah memfasilitasi internal KUPS Ekowisata. KUPS ini perlu dilakukan pendampingan intensif agar program yang telah direncanakan bisa berjalan. Kemudian, memperkuat kelembagaan serta meningkatkan kinerja para anggotanya,” tambah Azri.

Dipaparkannya, di akhir kuartal ke-3 (Q3) tahun kedua (Y2) Program SCCM, KUPS terus bergerak melaksanakan perencanaan yang telah disusun bersama (RKT 2021). Beberapa program menyasar keluaran konkret dan terukur. Perlahan, dalam pelaksanaannya, kelompok melakukan program tersebut secara mandiri walaupun masih belum seluruhnya. Utamanya dalam pencatatan laporan keuangan, kelompok masih terus dipandu dan diperiksa hasil pencatatannya.

Fasilitasi asistensi bisnis
Fasilitasi asistensi bisnis dilangsungkan di rumah Ketua LPHD Lauk Bersatu

Selain itu, fasilitasi atas kapasitas kelompok dalam berdinamika organisasi juga dilakukan, dengan maksud mengawal kelompok agar tidak melenceng dari perencanaan dan desain bisnis yang telah ditetapkan. Sedangkan untuk memastikan pemantauan, evaluasi dan pencatatan kegiatan usaha serta laporan keuangan tetap berjalan baik, maka pendamping terus melakukan fasilitasi dan asistensi kegiatan usaha kelompok.

“Harapannya, proses pembelajaran yang rutin berlangsung ini akan dapat mendukung kelompok dalam menuju kemandirian usaha,” harap Azri.

Pelaksanaan Fasilitasi

Kegiatan fasilitasi asistensi bisnis ini Pengurus LPHD dan seluruh KUPS. Pada 25 Mei 2021 diikuti 12 orang, terdiri dari 8 laki-laki dan 4 perempuan. Pada 26 Mei diikuti 19 orang, terdiri dari 12 laki-laki dan 7 perempuan. Pada 27 Mei diikuti 15 orang, terdiri dari 11 laki-laki dan 4 perempuan. Masih di hari sama beda jam, diikuti 19 orang, terdiri dari 11 laki-laki dan 8 perempuan.

Kegiatan fasilitasi asistensi bisnis ini digelar di Kantor LPHD Lauk Bersatu, Dusun Lauk Kanan, dan di rumah Ketua LPHD Lauk Bersatu di Dusun Lauk Kiri, Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir.

Alur Kegiatan

  1. Briefing persiapan kegiatan Fasilitasi Asistensi Bisnis

Kegiatan ini mengundang LPHD Lauk Bersatu dan seluruh perwakilan KUPS. Agenda berisikan update jadwal yang akan dilakukan dalam dua hari kedepan. Agar LPHD dan KUPS dapat mempersiapkan sebelum kegiatan dimulai.

  1. Laporan Keuangan KUPS dan Monitoring RKT 2021
Fasilitasi Asistensi Bisnis
Anggota KUPS sedang mengikuti Fasilitasi Asistensi Bisnis

Kegiatan meliputi penginputan transaksi kedalam template excel, berdasarkan catatan manual keuangan yang dimiliki oleh kelompok. Pemeriksaan juga dilakukan terhadap saldo kas yang dibandingkan antara saldo fisik dan sistem. Dari kegiatan ini dihasilkan Neraca dan Laba/Rugi KUPS.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi monitoring RKT 2021, apa yang sudah berjalan dan apa saja yang tidak berjalan

  1. Input buku bank kedalam laporan keuangan KUPS Ikan, Madu, Ekowisata dan Rotan

Kegiatan melakukan input transaksi keuangan dari tahun 2020 di rekening bank kedalam jurnal keuangan. Hal ini dilakukan karena cetakan buku rekening baru dicetak oleh kelompok per bulan Mei 2021.

  1. Rapat KUPS Ekowisata bersama LPHD

Tanggal 27 Mei 2021 malam hari dilakukan rapat internal antara KUPS Ekowisata dan LPHD Lauk Bersatu yang difasilitasi oleh pendamping. Rapat membahas tiga pokok masalah yang kemudian solusi tindak lanjutnya disepakati oleh semua pihak. Pokok masalah meliputi: a) Keaktifan pengurus dan anggota KUPS Ekowisata, b) Perlibatan para pihak dalam pengembangan wisata desa: Pemerintah desa, Tokoh masyarakat, Tokoh pemuda, LPHD, KUPS Ekowisata, dan c) Rencana pelatihan pelatih (Training of Trainers) pembuatan produk wisata

Kemajuan/Pencapaian

Pelaporan keuangan periode Mei 2021 ini menghasilkan pencatatan yang lengkap dan terkini. Seluruh KUPS mencatatkan posisi kas yang cocok dengan jumlah saldo fisik, dan seluruh transaksi telah tercatat. Laporan tersebut dapat dilihat pada lampiran.

Pada RKT 2021, tidak ada perubahan signifikan yang terjadi. Pergeseran jadwal semata karena adanya alasan teknis dan juga bersamaan dengan fokus masyarakat beribadah puasa.

Masalah atau Kendala yang ditemui

Beberapa masalah yang ditemui pada kegiatan asistensi bisnis kali ini adalah sbb:

  1. Proses perizinan belum dapat diproses lebih lanjut akibat minimnya informasi walaupun kelompok sudah bertanya ke pihak Dinas (Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kapuas Hulu.
  2. Pembagian hasil keuntungan KUPS Ikan kepada penambahan modal, LPHD dan Pemdes dilakukan setelah piutang dari LPHD dilunasi.
  3. Pada KUPS Karet, harga yang belum cocok mengakibatkan kelompok masih menahan diri untuk melakukan jual beli
  4. Akte notaris KUPS Karet, Rotan dan Madu yang sebelumnya direncanakan pada Mei 2021 harus tertunda karena ada permintaan dari Kabid III untuk menunggu fasilitator
  5. Pada KUPS Rotan, produksi belum dilakukan karena kehabisan bahan baku.
  6. Pada KUPS Ekowisata, Anggota banyak yang tidak aktif sehingga pengurus juga tidak dapat produktif.
  7.  Pada KUPS Madu, panen diperkirakan baru dapat dilakukan pada pertengahan Juni 202, sehingga kelompok baru akan berkegiatan di waktu tersebut.
  8. Pelatihan KUPS Madu direncanakan pada praktek pengemasan madu sesuai standar organik, antara bulan Juni atau Juli.
Tantangan yang dihadapi

Tantangan dari beberapa kelompok dapat disimpulkan sbb:

  1.  KUPS Ikan akan menghadapi tantangan proses perizinan yang cenderung birokratif. Pengalaman sebelumnya kelompok seolah di ping-pong oleh beberapa kontak yang dihubungi.
  2. Peluang kerjasama dengan program GIZ SASCI+ menghadirkan tantangan konsistensi produk bermutu tinggi dari petani karet.
  3. KUPS Rotan beresiko menghadapi pasar lokal yang mulai jenuh, sehingga perlu memperluas pasar, dimulai dari desa tetangga dan secara aktif berhubungan dengan pihak Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Transmigrasi.
  4. KUPS Ekowisata akan menjadi bagian dari Tim Percepatan Pengembangan Wisata Desa Nanga Lauk, sehingga selanjutnya dituntut untuk konsisten dalam pengembangan wisata dan pembuatan produk.
  5. 5 KUPS Madu memiliki tantangan untuk segera memproduksi kemasan madu siap jual ditengah kondisi panen yang tidak menentu. Kecepatan penguasaan pasar akan menentukan keberhasilan kelompok dalam pengolahan madu kemasan.

Solusi dan Rencana Tindak Lanjut

Adapun rencana tindak lanjut dari kendala dan tantangan diatas adalah sbb:

  1. Perizinan KUPS Ikan akan segera didaftarkan setelah informasi yang diperoleh dari dinas terkait sudah cukup dan syarat terpenuhi.
  2. Pembagian hasil keuntungan KUPS Ikan kepada penambahan modal, LPHD dan Pemdes segera dilakukan menggunakan bukti/BA serah terima setelah piutang LPHD terlunasi.
  3. KUPS Karet akan melakukan penjajakan dan implementasi kerjasama dengan program SASCI+ dari GIZ.
  4. KUPS Rotan akan melakukan pembelian bahan baku sesuai dengan pesanan yang masuk ke kelompok.
  5. Akte notaris akan dibuat sekaligus untuk tiga KUPS: Karet, Rotan dan Madu, sehingga dapat menghemat biaya perjalanan dari Nanga Lauk ke Putussibau.
  6. Saat panen madu, KUPS Madu akan melakukan pembelian dan menyimpannya sebagai stok untuk bahan produksi kemasan (non curah).

Kesimpulan

Kegiatan Fasilitasi Asistensi Bisnis di bulan Mei 2021 kali ini berjalan baik dan lancar, dimana seluruh KUPS berpartisipasi. KUPS semakin menyadari pentingnya aktivitas dan keuangan yang tercatat. Seperti KUPS Ikan, yang sudah mulai melakukan bagi hasil keuntungan, disebabkan karena pencatatan keuangan yang sudah dilakukan dengan baik. Selain itu RKT 2021 yang telah disusun memudahkan pendamping dan kelompok untuk terus melakukan monitoring setiap bulannya, yang akan dievaluasi per tiga bulan.

Catatan Penting

Pada kesempatan lain, yaitu rapat KUPS Ekowisata dan LPHD menghasilkan capaian yang sangat penting, di mana pada tingkat desa akan dibentuk Tim Percepatan Pengembangan Wisata Desa Nanga Lauk, beranggotakan lima hingga tujuh orang dengan Kepala Desa Nanga Lauk sebagai pembina. Tim ini akan menjadi cikal bakal pengembangan wisata di desa dalam skala yang progresif. (azr/ros)

Continue Reading
Desa Nanga Lauk produksi madu

Desa Nanga Lauk Mulai Produksi Madu dengan Botol Berstandar SNI

Desa Nanga Lauk mulai produksi madu dengan botol berstandar SNI (Standar Nasional Indonesia). Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Madu binaan PRCF Indonesia memperkenalkan produk madu mereka dengan nama DeNALA.

“DeNALA sendiri singkatan dari Desa Nanga Lauk. Tampilan kemasannya jauh lebih menarik karena sudah terstandar SNI serta sangat hygienis. Dengan cara ini, kita berharap madu hutan dari Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kapuas Hulu memiliki pasar lebih luas lagi,” kata  Azri Ahmad S Hut, Program Specialist for Livelihood PRCF Indonesia di kantornya, Jumat (2/7/2021).

Proses sampai terciptanya Madu DeNALA itu setelah anggota KUPS Madu mengikuti pelatihan pengolahan dan pengemasan madu, 17-18 Juni 2021 di Rumah Produksi Madu, Dusun Lauk Kiri, Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir. Pelatihan ini dilaksanakan dua hari. Hari pertama diikuti 23 orang, terdiri dari 8 laki-laki dan 15 perempuan. Hari kedua diikuti  22 orang, terdiri dari 8 laki-laki dan 14 perempuan

Dijelaskan Azri, KUPS Madu Nanga Lauk selama ini sudah membukukan keuntungan melalui sistem konvensional jual beli madu curah. Dari sini ditingkatkan mulai melakukan diversifikasi produk dengan produksi madu kemasan botol terstandar SNI pada kadar air. Kedepannya, proses perizinan dasar seperti Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT)  paralel akan diproses melalui dinas terkait.

Peserta pelatihan pengemasan madu dari KUPS Madu Desa Nanga Lauk
Peserta pelatihan pengemasan madu dari KUPS Madu Desa Nanga Lauk

Petani madu (periau) melalui KUPS Madu Hutan Lestari, selama ini secara turun-temurun adalah petani yang berkearifan lokal dan sudah menerapkan standar panen lestari. Output yang dihasilkan, lebih dominan ke transaksi madu curah. Sejarahnya, proses pembuatan ke kemasan botol pernah dilakukan namun tidak konsisten. Dengan pelatihan secara partisipatif, diharapkan KUPS Madu Hutan Lestari dapat konsisten memproduksi madu kemasan bermutu tinggi dengan standar kadar air sesuai SNI.

“Tujuan dari pelatihan adalah melatih anggota KUPS Madu Hutan Lestari dalam memproduksi madu kemasan. Dari pelatihan ini dihasilkan produk madu kemasan yang siap jual. KUPS Madu Hutan Lestari mempunyai standar produksi madu kemasan,” jelas Azri.

Dengan adanya pelatihan ini juga untuk menguatkan kapasitas lembaga dan anggota KUPS Madu Hutan Lestari. Pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat Desa Nanga Lauk. Kemudian, agar pengelolaan usaha oleh KUPS Madu Hutan Lestari selama 25 tahun masa program lebih terarah.

Proses Pelatihan

Kegiatan dibuka dengan pengantar dari Azri, Program Specialist for Livelihood PRCF Indonesia. Azri menekankan pentingnya kegiatan produksi madu kemasan yang akan dilakukan kedepannya karena akan menaikkan nilai dari madu kelompok.

Pelatihan kemasan madu
Dua peserta mengenakan baju khusus sedang mengikuti pelatihan pengelohan dan pengemasan madu

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan rangkaian proses pengolahan madu sebagai berikut:

  1.  Pembersihan wadah stainless steel menggunakan air panas oleh petugas dengan menggunakan pakaian pelindung lengkap untuk menjaga higienitas wadah.
  2. Penuangan bahan baku madu kedalam wadah. Per wadah diisi sebanyak 2 kg madu (berat bersih). Dilakukan oleh petugas lainnya juga dengan pakaian pelindung lengkap.
  3. Pengukuran kadar air tahap 1, dilakukan sebelum proses evaporasi dimulai. Hasilnya, diperoleh angka sebesar 27% menggunakan alat refractometer.
  4. Proses evaporasi. Proses ini dilakukan didalam ruang khusus evaporasi. Seluruh wadah yang telah terisi madu disusun pada rak. Kemudian alat Dehumidifier sebanyak dua unit diaktifkan.
  5. Pengukuran kadar air tahap 2, dilakukan setelah proses evaporasi. Pada pelatihan kali ini, dilakukan setelah 24 jam, dengan hasil 23,5%, masih berjarak 1,5% dari standar SNI sebesar 22%. Artinya diperlukan tambahan waktu bagi kelompok untuk mencapai angka 22%, atau dengan tambahan alat pendingin berupa AC di ruang evaporasi.

Pengemasan Madu

Kegiatan hari kedua ini dimulai dengan penentuan dan pencetakan label yang disepakati. Untuk nama produk disepakati bernama DéNALA yang merupakan akronim dari Desa Nanga Lauk. Pemilihan nama disepakati karena melambangkan nama desa kebanggaan kelompok, dan akronim terdengar kekinian. Pada label juga menampilkan informasi tentang hutan desa dan produk madu dari KUPS itu sendiri.

Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pengisian madu kedalam botol kemasan setelah diukur kadar airnya (23,5%). Proses pengisian dimulai dengan penempelan label ke sisi botol, setelah sebelumnya botol dicuci bersih menggunakan air hangat dan ditiriskan.Selanjutnya, madu yang telah dikemas siap diedarkan. Hasil pelatihan kali ini berpotensi akan menghasilkan 200 botol madu siap edar.

Madu DeNALA
Madu DeNALA hasil produksi KUPS Madu Desa Nanga Lauk

“Pencapaian besar didapatkan oleh KUPS Madu Hutan Lestari pada pelatihan kali ini. Pengolahan madu menjadi kemasan botol ternyata tidak mudah asalkan seluruh anggota kelompok serius dalam bekerja sama. Melalui pelatihan ini, anggota kelompok dapat merasakan langsung bagaimana tata cara proses pengolahan hingga pengemasan dan potensi profit yang akan diperoleh kelompok,” tambah Azri.

Selama pelatihan ada sedikit kendala, belum lengkapnya alat pada ruang evaporasi, yaitu belum terpasangnya Air Conditioner (AC). Hal ini menyebabkan proses evaporasi memakan waktu yang cukup lama untuk mencapai angka standar 22%. Terbukti selama pelatihan, setelah 24 jam angka kadar air masih menunjukkan 23,5%.

Tantangan dan Solusi

Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh kelompok, yaitu pengawasan melekat yang konsisten dalam setiap produksi yang dilakukan. Mengingat produk adalah bahan asupan yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Pengawasan dapat diwujudkan melalui penerapan ICS (Internal Control System), mulai dari tata cara pemanenan, pengolahan hingga pengemasan sesuai standar organik dan SNI.

Peserta pelatihan
Peserta pelatihan pengolahan dan pengemasan madu

Sementara untuk memasuk pasar global, kelompok akan melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

  1.  Pembagian divisi pada organisasi mencakup tupoksi masing-masing divisi
  2. Pembuatan akte notaris dan NPWP kelompok
  3. Mengikuti pelatihan keamanan pangan
  4. Mengajukan perizinan PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga)
  5. Berkoordinasi dengan bidang pendustrian seksi industri pangan Kapuas Hulu untuk mendapatkan pendampingan lebih lanjut dari Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan Transmigrasi Kabupaten Kapuas Hulu. (azr/ros)
Continue Reading
11 agenda kegiatan di Juni salah satunya pengecekan bibit pohon

11 Agenda Kegiatan PRCF di Bulan Juni

11 agenda kegiatan PRCF Indonesia yang akan dilaksanakan di Desa Nanga Lauk pada Juni ini. Mulai dari patroli hutan, livelihood, pelatihan, sampai ada rencana kunjungan dari pihak Lestari Capital sebagai donatur. Pihak PRCF dan LPHD Lauk Bersatu intensif mempersiapkan 11 agenda tersebut.

“Kita sudah merancang kegiatan untuk Juni ini. Dalam draft, ada 11 agenda yang sudah disepakati antara LPHD Lauk Bersatu dengan PRCF. Semoga 11 agenda tersebut bisa terlaksana dengan lancar tanpa ada kendala,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat di Nanga Lauk, Rabu (2/6/2021).

Untuk mengawali kegiatan penting di Juni ini, LPHD didampingi PRCF Indonesia akan melakukan pengecekan terhadap bibit pohon yang ditanam pada tahun 2020 lalu. Bibit pohon itu ditanam di hutan produksi terbatas. Selain sebagai tutupan lahan juga untuk pakan lebah.

Kegiatan berikutnya, pelatihan pengolahan produk ikan. Desa Nanga Lauk terkenal sebagai daerah penghasil ikan air tawar terbesar di Kabupaten Kapuas Hulu. Warganya banyak menggantungkan hidup dari ikan ini. Selama ini, ikan tersebut banyak dijual dalam bentuk ikan asin dan ikan segar (hidup). Dengan pelatihan tersebut, ikan bisa diolah dengan berbagai macam makanan ringan seperti kerupuk, sosis, dan sebagainya.

“Dengan adanya pelatihan pengolahan ikan ini, akan ada produk berbahan ikan dalam bentuk kemasan. Produk itu tentu akan tahan lama dan bisa dijual ke masyarakat luas yang tentunya memberikan nilai lebih dari segi pendapatan,” jelas Rio.

Tim patroli hutan
Tim patroli hutan LPHD Lauk Bersatu saat melakukan tugasnya dan pada Juni ini mereka akan kembali melakukan patroli hutan desa

Berikutnya, LPHD juga akan menggelar rapat bulanan. Hal ini sangat penting untuk mengevaluasi seluruh aktivitas LPHD yang telah berjalan maupun akan dilaksanakan. Tujuannya untuk memperkuat kelembagaan LPHD itu sendiri. Seluruh aspek akan dievaluasi, mulai dari SDM, administrasi, inventaris, sampai masalah keuangan.

Agenda berikutnya, akan dilakukan monitoring quartal tiga (q3). Kegiatan ini sangat penting dan merupakan regular. Harus dimonitoring untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan sesuai rencana. Selain itu, LPHD didampingi PRCF juga akan menyiapkan pembuatan draft peraturan desa terkait dengan konservasi hutan desa.

“Kegiatan regular lainnya yang selalu dilakukan adalah patroli hutan desa dan hutan produksi terbatas. Lalu ada juga kegiatan TOT KUPS Ekowisata. Tidak ketinggalan akan ada pelatihan pengolahan madu hutan,” tambah Rio.

Kunjungan Lestari Capital

Pada Juni ini, ada satu kegiatan penting adalah menyambut kedatangan rombongan Lestari Capital (LC). Pihak LPHD maupun PRCF sudah mempersiapkan diri untuk menyambut pihak finance ini. Mereka berkunjung untuk melihat secara langsung apa yang telah dilakukan LPHD maupun PRCF di Desa Nanga Lauk.

“Diperkirakan pertengahan Juni, rombongan LC ini akan berkunjung. Kita akan sambut mereka sebaik mungkin. Kita juga akan lihatkan apa yang telah diperbuat selama ini,” tambah Rio. (ros)

Continue Reading
Perahu baca

Perahu Baca Upaya Tingkatkan Minat Membaca

Perahu Baca sebuah kreasi baru dari Yayasan PRCF Indonesia bekerja sama dengan Perpustakaan Gemar Membaca Desa Nanga Lauk. Warga diajak naik perahu berkeliling sungai dan danau sambil membaca buku. Sebuah inovasi baru untuk meningkatkan membaca bagi warga Desa Nanga Lauk.

“Ini sebuah inovasi baru untuk meningkatkan membaca bagi warga Nanga Lauk terutama kalangan pelajar. Dengan cara ini mereka bisa membaca buku di atas perahu motor sambil menikmati keindahan alam desanya sendiri,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat di kantornya, Minggu (1/5/2021).

Dijelaskannya, selama ini kegiatan membaca kebanyakan di perpustakaan. Kali ini dilakukan sebuah inovasi baru mengajak para pelajar untuk membaca buku sambil naik perahu. Ternyata, sambutan mereka sangat tinggi.

Seorang pelajar sedang membaca di atas perahu baca
Seorang pelajar sedang membaca di atas perahu baca

“Banyak buku yang telah dibaca mereka selama di atas perahu. Hal lebih penting mengajak mereka melihat secara dekat potensi alam. Lalu menanamkan cinta pada lingkungan mereka sendiri,” tambah alumni Untan ini.

Kegiatan ini juga selaras dengan visi-misi Kepala Desa Nanga Lauk, yakni meningkatkan sumber daya manusia serta mewujudkan masyarakat literasi yang edukatif dan terpelajar. Metode embaca dengan menggunakan “perahu baca ini di mana setiap peserta akan dibekali satu buah buku untuk dibaca di dalam kawasan hutan desa.

Belajar dari Alam

Kegiatan ini bertemakan “Belajar Dari Alam”. Metode perahu baca yang digunakan:

  1. Menyediakan perahu baca yang ramah pembaca
  2. Peserta ditugaskan untuk membaca di dalam perahu selama penyelusuran sungai dan danau di hutan desa
  3. Peserta akan mempresentasikan hasil bacaannya (bedah buku)
Sambil membaca buku
Sambil menikmati alam pelajar ini membaca buku dengan penuh semangat

Kegiatan perahu baca ini diikuti 30 orang yang berasal dari siswa SD dan SMP. Dengan adanya perahu baca ini terjadi peningkatan kesadaran akan pentingnya literasi bagi peserta kegiatan. Pengurus perpustakaan dapat mengembangkan inovasi yang lebih kreatif guna menunjang minat membaca masyarakat.

Kegiatan ini merangkul para pelajar dari tingkat SD dan SMP di Desa Nanga Lauk. Dengan cara ini, peserta kegiatan mengetahui kawasan hutan desa dan potensi sumber daya alam yang ada. Peserta memahami akan pentingnya melestarikan hutan.

“Kegiatan ini memberikan pembelajaran kepada pengelola perpustakaan dalam upaya penyadaran pengetahuan dan mewujudkan masyarakat yang melek literasi secara inovatif dan kreatif,” tambah pria kelahiran Sambas ini.

Perpustakaan gemar membaca
Buku dari perpustakaan gemar membaca Nanga Lauk disiapkan sebelum kegiatan perahu baca

Melalui perpustakaan desa atau komunitas membaca Desa Nanga Lauk yang berkolaborasi dengan LPHD Lauk Bersatu serta didukung oleh Pemerintah Desa Nanga Lauk, PRCF Indonesia berhasil menyelenggarakan kegiatan perpustakaan keliling menggunakan perahu, menyelusuri sungai dan danau di kawasan Hutan Desa yang melibatkan peserta didik SD dan SMP Satu Atap di Desa Nanga Lauk

Catatan

Beberapa catatan penting dari kegiatan tersebut yaitu:

  1. Sarana prasarana untuk mendukung kegiatan ini masih terbatas, sehingga tim hanya menggunakan sarpras sederhana
  2. Koleksi buku masih terbatas, peserta tidak memiliki banyak pilihan buku bacaan sesuai dengan yang diminati.
  3. Pemerintah desa mendukung dan akan memasukkan perpustakaan desa dalam RKP dan anggaran dana desa
  4. Peningkatan kemampuan pengelola perpustakaan masih harus ditingkatkan untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi kegiatan.
  5. Pengelola perpustakaan Nanga lauk masih membutuhkan dukungan dari parapihak baik di tingkat Kabupaten, provinsi maupun pemerintah pusat. (rio/ros)
Continue Reading
Dukungan Kades

Dukungan Kades untuk Kelompok Ikan dan Ekowisata

Dukungan Kades (Kepala Desa) Nanga Lauk, Agus Yanto untuk kelompok usaha ikan dan ekowisata dibuktikan dengan mengeluarkan Surat Keputusan (SK). Pada 5 Oktober 2020, Kades Nanga Lauk mengeluarkan SK untuk kelompok usaha Ekowisata. Pada 1 September 2020 untuk kelompok ikan.

“Adanya dua SK ini menandakan Kepala Desa Nanga Lauk mengakui secara resmi dua kelompok tersebut. Sekarang bagaimana memaksimalkan peran dari dua kelompok itu memberikan kontribusi besar bagi peningkatan kesejahteraan anggotanya serta warga Nanga Lauk,” jelas Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat, Jumat (26/2/2021).

Dijelaskan Rio, dukungan Kades Nanga Lauk menjadi sangat penting terhadap program pemberdayaan masyarakat melalui konservasi hutan. Dukungan Kades juga sangat diperlukan agar seluruh program LPHD Lauk Bersatu yang dibina oleh PRCF Indonesia berjalan lancar. Seluruh program yang telah direncanakan adalah untuk masyarakat Nanga Lauk itu sendiri.

“Jadi, dukungan Kades sebagai bentuk legalitas bagian seluruh kelompok dalam menjalankan program kerjanya. Sekarang, setelah mendapatkan SK itu, bagaimana tujuan dan kelompok itu bisa terwujud agar bisa mengangkat nama Nanga Lauk,” tambah Rio.

Untuk kelompok usaha ekowisata berdasarkan SK Kades Nanga Lauk, nama resminya Kelompok Pengelola Pariwisata (KKP) River Village Tourism. Telah di-SK-an oleh Kades Nanga Lauk pada 5 Oktober 2020. Diketuai oleh Rosa, pemudi yang baru saja menyelesaikan SLTA. Sebagai sekretarisnya adalah Lastri, dan bendaharanya Nisa Susanti.

“Mereka anak muda Nanga Lauk yang memiliki kepedulian terhadap ekowisata desanya. Tenaga dan kemauan mereka sangat kuat, dan terus kita bina, kita pertemukan dengan para pemangku kepentingan terhadap ekowisata ini. Sering kita ikutkan pelatihan bagaimana cara mengelola ekowisata tersebut,” papar pria kelahiran Jawai Sambas ini.

Pokdakan Nanga Lauk

Dukungan Kades Nanga Lauk juga pada kelompok usaha ikan. Pada 1 September 2020, Kades Nanga Lauk telah mengeluarkan SK untuk kelompok ini dengan nama resmi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Desa Nanga Lauk. Adanya Pokdakan ini bisa mengkoordinir kelompok usaha ikan di Nanga Lauk.

“Nanga Lauk terkenal sebagai penghasil ikan air tawar. Banyak kelompok kecil usaha ikan ini. Dengan adanya Pokdakan ini, mereka bisa berhimpun dalam satu organisasi ini. Pokdakan bisa bersinergi dengan Dinas Perikanan Kapuas Hulu bahkan Kementerian Kelautan dan Perikanan di Pusat,” tambah Rio. (ros).

Continue Reading
Perpustakaan Nanga Lauk

Perpustakaan Nanga Lauk Ikut Lomba Kabupaten

Perpustakaan Nanga Lauk yang selama ini dibina oleh PRCF Indonesia akhir mendapatkan perhatian dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kapuas Hulu. Melalui Bidang Arsip telah menunjuk Nanga Lauk untuk mengikuti lomba perpustakaan tingkat kabupaten.

“Mohon disampaikan ke Pak Kades, barusan saya komunikasi sama Kabid Dinas Perpustakaan Kapuas Hhulu bahwa dinas akan menunjuk Desa Nanga Lauk untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten. Jika menang akan diutus lomba tingkat provinsi.

Penilaian akan dilakukan pada bulan Maret dengan memerhatikan beberapa kriteria/ketentuan. Pihak dinas akan berkunjung ke Nanga Lauk akhir bulan ini guna memastikan perpustakaan Nanga lauk betul-betul siap untuk dinilai,” pesan via WA disampaikan oleh Almi, Kabid Arsip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kapuas Hulu yang ditujukan kepada Rio Afiat, Program Manager PRCF Indonesia, Selasa (9/2/2021).

Ditunjukkan Nanga Lauk tentu sebuah kehormatan besar bagi Desa Nanga Lauk. Bagi PRCF Indonesia sebagai pendamping, ini menjadi kabar gembira. Sebagai tanda, apa yang telah dilakukan selama ini mendapatkan perhatian dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kapuas Hulu.

“Ditunjuknya Desa Nanga Lauk untuk mengikuti lomba tingkat kabupaten, ini pertama kali. Kita tentu akan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum adanya penilaian. Kita akan tampilkan yang sebenarnya,” jelas Rio.

Perpustakaan Nanga Lauk
Genarasi muda sedang membaca buku di perpustakaan Gemar Membaca Desa Nanga Lauk

Setelah mendapatkan kabar menggembirakan itu, Rio langsung melakukan konsolidasi terutama dengan pada pengurus perpustakaan. Konsolidasi untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang kedatangan tim penilai dari kabupaten.

“Hal yang mesti kita persiapkan adalah administrasi, tata kelola pustaka, menyusun rencana kegiatan tahun 2021, inventarisasi aset. Semua akan dirapikan mengikuti standar perpustakaan yang telah ditentukan,” papar Rio.

Apresiasi Tinggi

Nama perpustakaan itu adalah Gemar Membaca. Ketuanya adalah Usman seorang guru di SD dan SMP Satap Nanga Lauk. Beliau selalu aktif mengajak generasi muda Nanga Lauk untuk membaca. Dengan membacalah akan terbuka cakrawala pengetahuan maupun wawasan.

Kepala Desa Nanga Lauk Agus Yanto juga sangat mengapresiasi adanya fasilitasi perpustakaan  oleh PRCF Indonesia. Ini merupakan program strategis mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama generasi muda desa dan upaya penyadaran tentang melek teknologi dan literasi. (ros)

Continue Reading
Nanga Lauk

Nanga Lauk Village Forest Management

Background

The people of Nanga Lauk Village have set a target of reducing CO2 equivalent emissions by 1,512 tonnes through their village forest management project. This figure was calculated through an analysis of local forest and land cover, which is undertaken every five years.

The project has received support from various institutions through the Sustainable Commodities Conservation Mechanism (SCCM): an innovative financing mechanism that helps secure long-term funding from commodity supply chains for high-quality conservation and restoration initiatives in Southeast Asia.

The Nanga Lauk village forest management project, which is due to last for 25 years (2019-2034), has been registered under Plan Vivo. This a standard that is given to projects which provide real, tangible benefits to both the environment and communities in the Global South.

As well as providing obvious climate benefits, community participation in forest management also contributes to meeting the United Nations’ Sustainable Development Goals (SDGs) through: 

  • Forest products in the form of natural honey, freshwater fish, rubber, and rattan that contribute to local household incomes (SDG 1).
  • Village forests with peat swamp ecosystems that provide homes to orangutans, Borneo langur, honey bear, Senyulong crocodiles, various species of birds and fish as well as forest plants whose growth and protection contributes significantly to biodiversity conservation. (SDG 15).
  • Protected natural storage sites, such as the Nanga Lauk village forest, that absorb carbon emissions (SDG 13).
  • Activities that help improve people’s knowledge and skills in sustainable forest management to protect food sources and realize community food security (SDG 2).
  • Inclusive community involvement in the implementation of village forest management, which encourages gender equality and promotes women’s empowerment (SDG 5).

Results

Planning

The Village Forest Management Agency obtained a RPHD / Rencana Pengelolaan Hutan Desa in advance (the official documentation for management plans).

Both a Village Forest Management Plan and an Annual Work Plan were ratified by the Forestry Extension Agency of the North Kapuas Hulu Forest Management Unit for periods of 10 years and one year respectively.

The project has been certified under the Vivo Plan that guarantees the performance of village forest management for five years.

15 training sessions for the LPHD and the Nanga Lauk village community were held on monitoring and reporting, patrolling, forest fire protection and control, forest rehabilitisation, business management and village regulation preparation.

Monitoring

The project led 24 patrol trips in the village forest covering a distance of 852.46 KM and four patrol trips in the Limited Production Forest (HPT) covering a distance of 266.76 KM.

Animal counts undertaken during patrols in the village forest found as many as 326 individual birds, 102 mammals, and 25 reptiles.

Endemic endangered species found in forest areas in the village include orangutans, Borneo langurs, Senyulong crocodiles, and honey bears as well as several species of hornbill.

Rehabilition

The project intends to rehabilitate nearly 20 hectares of forest each year, which will add up to 500 hectares over 25 years.

In the first year of the project, community members planted Dadak Wood (eaten by orangutans), Taon Wood and Putat Wood (wild bee feed), Kawi Wood, Medang and Kelansau (carpentry wood).

Nature-based industry

The project supports development of the Social Forestry Business Group for five commodities: natural honey, rubber, fish, rattan and ecotourism. Each of these groups will receive help with capacity building and market access, with business capital support of USD$3,500 every five years for 25 years.

Enabling conditions

The village forest management project in Nanga Lauk Village is carried out through partnerships between governments, business entities, communities and social forestry mentors.

Activities are financed through SCCM for 25 years, and funding comes with a strong commitment from plantation companies to support emissions reduction efforts, biodiversity conservation and community livelihood development.

Capacity building support is provided by government, primarily through Forest Management Units, while assistance for LPHDs is carried out by the PRCF Indonesia Foundation as project coordinator.

At national level, the Social Forestry program is still a priority for both the Minister of Environment and Forestry and the President of the Republic of Indonesia. The provincial government also continues to push for policies that support village development by mobilising potential resources from business entities and Social Forestry programmes.

Challenges

Not all forested areas in Nanga Lauk Village are handed over to the community: some are given to businesses in the form of Forest Management Rights. When the practices carried out by these businesses are different from those of the community, it can cause social difficulties, damage the motivations of the community and risk the project as a whole.

Businesses often want to use forests for timber, but this is not allowed under the conditions applied to Forest Management Rights. They only have authority to use limited amounts of non-timber forest products and ecosystem services. 

Community village forest management takes a long time to set up in order for it to be truly independent. This requires both investment and effective long-term mentoring.

Key lessons learned

The good practices of Nanga Lauk Village in the village forest management project will be a model for the development of village forests by other communities in the province of West Kalimantan.

The success of this project will also detemine the way other similar projects are implemented: contributing to a reduction in GHG emissions both regionally and nationally.

Data collected over the course of this project will provide invaluable information for research as well as informing the way that activities are carried out locally.

A particularly valuable lesson taken from Nanga Lauk Village is the importance of cross-sector support to engage and motivate all project partners. Without this it is difficult to make the progress needed for meaningful environmental change.

Way forward 

 

A second year of activities will continue with existing project funds, which will be distributed after the annual report of the first year of activities. These funds will be received by the fund provider through the Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) for compensation in conservation activities (HCVF).

 

Following the successful implementation of the project in Nanga Lauk Village, it is expected to be expanded to several other villages that have obtained Village Forest Management Rights from the Minister of Environment and Forestry of the Republic of Indonesia.

 

Source: https://www.theclimategroup.org/our-work/publications/nanga-lauk-village-forest-management

Continue Reading
Peluang ekowisata Nanga Lauk

Peluang Ekowisata Desa Nanga Lauk

Peluang ekowisata Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu sangat menjanjikan. Desa ini memiliki keindahan dan kekayaan alam yang tidak dimiliki daerah lain. Ada sungai, danau, hutan, flora fauna serta keramahan penduduknya adalah potensi terbesar untuk ekowisata.

Istilah  ekowisata kini semakin nyaring di telinga masyarakat. Ekowisata menjadi terkenal setelah negara Costa Rica, Norwegia, dan Brazil mengembangkannya. Pemerintah juga mulai menggalakkan program ekowisata sebagai destinasi tujuan wisata pelancong di Indonesia. Begitu juga dengan Kabupaten Kapuas Hulu mulai mengembangkan potensi ekowisata ini.

Ekowisata merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengedepankan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Desa Nanga Lauk memiliki potensi tersebut.

Singkatnya, ekowisata merupakan jenis wisata yang bertanggung jawab terhadap alam serta memberi kontribusi terhadap masyarakat sekitar. Peran masyarakat dalam membangun dan mengelola ekowisata ini turut memberikan andil yang besar terhadap nilai jual pariwisata Indonesia. Keterlibatan masyarakat ini bukan berarti bahwa masyarakat harus melulu menjalankan usaha ekowisata sendiri, melainkan juga bersama-sama dengan berbagai pihak terkait.

Ekowisata menjadi salah satu sektor penting dalalm perkembangan pariwisata di Indonesia. Pengelolaan sektor wisata yang baik akan membantu perkembangan beberapa sektor krusial untuk pembangunan Indonesia, salah satunya yakni sektor ekonomi. Pemerintah Desa Nanga Lauk mulai memperhatikan ekowisata yang dulunya dianggap biasa saja.

Tingkatkan Pendapatan

Dibukanya destinasi ekowisata, akan semakin membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Hal ini akan berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi warga setempat. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi masyarakat, taraf hidup masyarakat pun diharapkan turut mengalami peningkatan.

Konsep pariwisata berbasis konservasi telah menjadi garapan dari LPHD Lauk Bersatu dengan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Ekowisata. Di bawah binaan PRCF Indonesia, ekowisata Nanga Lauk terus dipromosikan. Kelembagaannya diperkuat. SDM nya juga terus mendapatkan pembinaan tidak hanya dari PRCF melainkan juga dari Dinas Periwisata Kabupaten Kapuas Hulu.

Ekowisata apabila terus dikembangkan dipastikan bisa meningkatkan pendapatan masyarakat. Akan banyak wisatawan datang yang tentu memperlukan angkutan, penginapan, konsumsi, dan semua itu menjadi peluang menggairahkan ekonomi warga Desa Nanga Lauk. Desa ini memiliki potensi ekowisata yang luar biasa. Tinggal menunggu peluang ekowisata memberikan manfaat besar bagi masyarakatnya (ros)

Continue Reading