Patroli hutan

Patroli Hutan Desa Pundjung Batara Libatkan Personel TNI dan Polri

Ada yang berbeda dengan patroli hutan Desa Nanga Betung kali ini. Biasanya tim patroli hutan dari LPHD Pundjung Batara berisikan personel internal saja. Kali ini ada personel eksternal dari TNI dan Polri.

“Ada satu personel dari TNI yakni dari Babinsa di bawah Komando Rayon Militer 08 Bunut Hilir. Kemudian, satu lagi dari Babinkamtibmas Polsek Boyan Tanjung. Sementara dari LPHD Pundjung Batara ada 10 personel,” kata Fasilitator Desa dari PRCF Indonesia, Ardian Arista, Senin (12/12/2022).

Dijelaskan Ardian, patroli hutan desa kali berlangsung dari 11-14 Desember 2022. Artinya ada empat hari tim patroli berada di hutan desa. Adanya personel dari TNI dan Polri tentu menambah semangat tim patroli hutan. Mereka akan belajar lebih banyak dari dua aparat itu bagaimana melakukan patroli selama di hutan.

“Urusan patroli dalam hutan, TNI dan Polri memang jagonya. Tim kita sangat beruntung bisa bersama dengan para aparat ini. Kita akan belajar langsung bagaimana cara melakukan patroli hutan yang benar dari dua aparat penjaga negara ini,” ujar Ardian.

Dalam melakukan patroli hutan ini, ada lima tahap yang mesti dilakukan tim patroli hutan. Pertama, melakukan perencanaan dulu ke pihak LPHD Pundjung Batara. Kedua, melakukan rapat persiapan keberangkatan sambil memastikan kesiapan personel, peralatan, maupun ransum.

“Bila persiapan tidak ada masalah, barulah patroli dinyatakan siap dilakukan. Selama empat hari tim akan melakukan monitoring di dalam hutan. Mencatat setiap ada pertemuan dengan flora dan fauna lalu didokumentasikan dalam SmartPatrol,” papar Ardian.

Selain itu, lanjut Ardian, pengamanan dan perlindungan terhadap hutan desa adalah hal yang sangat penting. Kemudian, pendataan pontensi  keanakaragaman hayati flora  fauna, potensi kawasan ekowisata, sumberdaya air dan potensi kawasan lainya.

Data hasil dan dokumen yang dihasilkan dari kegiatan ini sebagai informasi dasar untuk menentukan kebijakan dalam penjagaan dan pelelolahan kawasan hutan desa Pundjung Batara Desa Nanga Betung. Dengan data ini bisa dijadikan referensi dalam pengelolaan hutan desa.

Saat ini tim patroli hutan plus dua personel aparat masih sedang melakukan patroli. Ardian berharap, dalam melakukan patroli kali ini berjalan lancar, tidak ada kendala di lapangan. “Kita berharap, tim patroli bisa kembali lagi dengan keadaan sehat dan bugar,” harap Ardian.

Evaluasi dan Pelaporan

Setelah empat hari melakukan patroli, apakah tugas sudah selesai. Tentunya saja belum. Patroli hutan yang telah dilakukan akan dievaluasi. Hasil evaluasi tersebut akan dilaporkan ke LPHD Pundjung Batara sebagai bentuk pertanggungjawaban. Laporan itu akan diarsipkan sebagai data dan referensi.

Kembali soal patroli hutan, mereka melakukan patroli dengan cara jalan kaki. Tidak menggunakan kendaraan. Dengan cara ini, mereka bisa menjelajari hutan secara detail. Sementara alat yang diperlukan selama patroli hutan di antaranya GPS, Hp untuk apl smart patrol, kamera, telly sheet, peralatan masak, dan terpal tenda. Tidak ketinggalan bahan konsumsi dan perlengkapan pribadi (sabun dan obat-obatan). (ros)

Continue Reading
Patroli hutan

Reviews Patroli Hutan LPHD Lauk Bersatu September-Oktober 2022

Patroli hutan secara regular dilakukan LPHD Lauk Bersatu Desa Nanga Lauk. Dari September sampai Oktober 2022 lalu, tim patroli ini telah menjalankan tugasnya. Banyak temuan satwa dan tumbuhan yang ditemukan.

Didampingi oleh PRCF Indonesia, pada tanggal 12, 13, dan 15 September 2022, tim patroli LPHD Lauk Bersatu melakukan tugasnya dengan menempuh jarak 110,1 kilometer. Pada patroli tiga hari ini, mereka mencatat 182 temuan yang terdiri dari 54 perjumpaan satwa, 4 tanda satwa, 105 tumbuhan, 9 temuan gangguan dan 10 fitur. Semua itu tercatat dalam SmartPatrol.

Pada 16-17 September mereka istirahat dua hari. Kemudian,  pada 18 September mereka kembali melakukan patroli. Kali ini jarak patroli yang mereka tempuh sejauh 47,21 kilometer dengan 62 temuan terdiri dari 40 satwa, 20 tumbuhan, 1 tanda satwa dan 1 fitur.

Usai melakukan patroli hutan desa di bulan September, tim kembali melakukan aksinya di bulan Oktober. Pada 17 Oktober, tim ini melakukan patroli sejauh jarak 53,01 kilometer dengan 70 temuan yang terdiri dari 29 perjumpaan satwa, 26 tumbuhan, dan 15 fitur. Esoknya mereka istirahat untuk mempersiapkan patroli berikutnya.

Setelah istirahat satu hari, tim kembali melakukan patroli pada 19 dan 20 Oktober 2022. Pada patroli ini mereka menempuh jarak 78,47 kilometer dan berhasil mencatat temuan 32 hewan, 70 tumbuhan, dan 6 fitur.

“Semua jadwal patroli yang sudah direncanakan berhasil dijalankan dengan baik. Kali ini banyak temuan dan semuanya dicatat dalam aplikasi smartpatrol. Dari temuan itu nantinya akan kita analisis,” kata Specialist Program Conservation PRCF Indonesia, Erik Munandar S Hut, Selasa (1/11/2022).

Nama Wilayah

Tak hanya sekadar melakukan patroli hutan desa, tim juga berhasil mencatat nama-nama yang masuk areal hutan desa Nanga Lauk. Dalam catatan tim patroli hutan ada 13 nama wilayah, yakni Kerinan Melampam, Pintas Belayak, Sungai Kematian, Penyangkau Basin, Pintas Suak Pelaik, Kerinan Menani, Suak Pelaik, Sungai Tunggal, Kerinan Gerantung, Sungai Temeru, Suak Kompas Belabok, Suak Kompas, dan Ujung Danum.

Patroli hutan dilakukan tim patroli LPHD Lauk Bersatu
Seorang anggota tim patroli sedang memasang plang papan nama batas hutan desa

Selain itu, tim juga berhasil melakukan pemasangan plang batas hutan desa sesuai dengan 13 nama wilayah di atas. Pada tanggal 16-17 Oktober telah terpasang 6 papan plang nama lokasi yang menunjukan lokasi kawasan hutan desa. Kemudian, terpasang 13 plang papan nama lokasi yang berada di wilayah hutan desa. (ros)

Continue Reading
Patroli hutan

Patroli Hutan Perdana Sukses Dilakukan LPHD Bumi Lestari

Patroli hutan perdana sukses dilakukan LPHD Bumi Lestari Desa Penepian Raya Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (19/7/2022). Dengan kesuksesan tersebut, patroli hutan desa akan rutin dilakukan.

“Untuk pertama kali kita mendampingi tim patroli dari LPHD Bumi Lestari dalam melakukan patroli hutan. Semua berjalan sesuai rencana. Walaupun hanya satu hari patrolinya, bisa secara dekat melihat perkembangan hutan desa milik Desa Penepian Raya,” kata Fasilitator Konservasi Hutan PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut, Rabu (20/7/2022).

Yadi menjelaskan, Desa Penepian desa dampingan PRCF yang baru bergabung tahun 2022 ini. Adanya patroli hutan desa yang dilakukan pada Selasa, 19 Juli kemarin, sebagai tanda wujud kerja sama antara LPHD Bumi Lestari dengan PRCF Indonesia. Tidak hanya patroli hutan saja, melainkan ada banyak program lain yang diimplementasikan di desa yang lebih banyak dikelilingi sungai ini.

Patroli hutan yang dilakukan LPHD Bumi Lestari
Tim patroli LPHD Bumi Lestari menaiki perahu motor saat melakukan patroli hutan Desa Penepian Raya

Alumni Fakultas Kehutanan Untan ini ikut mendampingi tim patroli LPHD Bumi Lestari tersebut. Patroli hutan perdana tersebut dibagi dua kelompok. Masing-masing kelompok menggunakan perahu motor ke lokasi hutan desa. Peralatan standar untuk patroli juga dibawa.

“Saat patroli tadi, kita memantau patok batas hutan desa yang berbatasan dengan desa lain. Patok batas desa itu sudah lama ada. Jadi, tadi kita memeriksa patok-patok tersebut apakah masih ada, rusak atau hilang. Apabila ada yang rusak tentu kita akan programkan untuk mengganti patok batas desa itu,” ungkap Yadi.

Selain memeriksa patok batas, tim patroli dampingan PRCF Indonesia itu berhasil melakukan perjumpaan dengan sejumlah burung. Di antara burung yang dijumpai adalah burung bekakak, ruik, elang, burung tinjau. Satwa burung tersebut dicatat dan dimasukkan dalam Smart Patrol.

Kondisi Surut

Hutan Desa Penepian Raya sebagian besar berada di rawa-rawa. Mirip dengan kondisi hutan di Desa Nanga Lauk yang juga dampingan PRCF Indonesia. Untuk melakukan patroli tidak bisa dengan jalan kaki seperti halnya di Nanga Betung dan Tanjung.

“Patroli hutan dengan menggunakan perahu motor. Dengan perahu motor inilah kita menyusuri hutan desa. Untuk saat ini kondisi air sedang surut. Sehingga masih ada terlihat daratan di dalam hutan. Tapi, kalau pasang, seluruh permukaan tanah di hutan tertutup air,” papar Yadi.

Patroli hutan untuk Desa Penepian Raya ini hanya dilakukan satu hari. Hal ini sesuai dengan kesepakatan mereka sendiri. Walaupun hanya satu hari, akan dilakukan secara rutin dan efektif. Usai patroli hutan, pihaknya akan melakukan evaluasi sebagai bahan untuk patroli berikutnya. (ros)

Continue Reading
Rapat patroli hutan desa penepian raya

Patroli Hutan Perdana di Desa Penepian Raya

Patroli hutan untuk pertama kalinya akan dilakukan di Desa Penepian Raya Kecamatan Jongkong Kabupaten Kapuas Hulu, Selasa (19/7/2022). Sebanyak 10 personel dari LPHD Bumi Lestari akan melakukan tugas perdana tersebut.

“Baru saja saya mendampingi rapat persiapan patroli hutan yang dilakukan oleh LPHD Bumi Lestari. Rapat tersebut membahas segala persiapan sekaligus mengecek kesiapan untuk patroli. Tujuannya agar patroli hutan desa bisa dilakukan persiapan sebaik mungkin,” kata Fasilitator Konservasi Hutan PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut, Senin malam (18/7/2022).

Dijelaskannya, patroli hutan desa oleh LPHD Bumi Lestari untuk pertama kali dilakukan karena baru tahun 2022 Desa Penepian Raya kerja sama dengan PRCF Indonesia. Tidak seperti Desa Nanga Lauk sudah melakukan patroli hutan sejak tahun 2019. Sementara Desa Sri Wangi, Nanga Jemah, Nanga Betung, dan Tanjung sudah melakukan patroli hutan sejak tahun 2021 lalu.

Rapat patroli hutan desa penepian raya
Rapat persiapan patroli hutan dilakukan oleh LPHD Bumi Lestari Desa Penepian Raya

“Karena perdana, kita akan melakukan pendampingan seintensif mungkin. Seluruh aspek dari patroli hutan itu kita berikan penjelasan secara detail. Sebab, patroli hutan ini tidak untuk sekali, melainkan dilakukan secara rutin,” papar alumni Fakultas Kehutanan Untan ini.

Patroli hutan desa ini merupakan implementasi dari program Imbal Jasa Ekosistem. Program ini akan berjalan sampai 25 tahun ke depan. Salah satu program kerjanya adalah melakukan konservasi hutan dengan patroli hutan, mendata apa saja flora dan fauna di dalam hutan tersebut. Desa Penepian Raya sendiri mempunyai hak pengelolaan hutan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalimantan Barat Nomor. SK. 400/EKBANG/2015, tanggal 13 Februari 2015. Dalam SK itu hutan yang menjadi hak pengelolaan Desa Penepian seluas ±1.285 hektare Hutan itu berada di Kawasan Hutan Lindung (HL).

“Pada prinsipnya, LHPD Bumi Lestari menyatakan siap melakukan patroli hutan secara rutin. Untuk hari perdana, kita akan melakukan patroli satu hari. Karena hutan yang menjadi objek patroli banyak berada di rawa, patroli perdana ini akan menggunakan perahu motor,” ungkap Yadi.

Komitmen Kerja Sama

Desa Penepian Raya Kecamatan Jongkong Kapuas Hulu menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Yayasan PRCF Indonesia, pada 18 Januari 2022. Penandatanganan MoU di Kantor Desa Penepian Raya disaksikan oleh seluruh perwakilan desa tersebut.

Saat teken MoU, dari pihak Desa Penepian Raya yang menandatangani MoU tersebut adalah Ketua Lembaga Pengelola Hutan (LPHD) Bumi Lestari, Junaidi. Sementara dari Yayasan PRCF Indonesia oleh Direktur Eksekutifnya, Imanul Huda S Hut M Hut.

Tujuan dari MoU tersebut untuk menjelaskan, diperlukan optimalisasi pengelolaan potensi sumber daya alam, perekonomian daerah dan masyarakat dalam rangka mengelola Hutan Desa Bumi Lestari di Desa Penepian Raya. Caranya, penguatan kelembagaan LPHD Bumi Lestari  dan pengembangan mata pencaharian masyarakat.

Penepian Raya adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia. Desa Penepian Raya adalah hasil pemekaran dari Desa Ujung Said berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu Nomor 7 Tahun 2010. (ros)

Continue Reading
Patroli hutan

Patroli Hutan dan Mitigasi Kebakaran Masih Menjadi Fokus Utama

Patroli hutan masih menjadi fokus utama PRCF Indonesia dalam mendampingi empat desa di Kabupaten Kapuas Hulu. Mitigasi kebakaran lahan dan hutan juga menjadi fokus dalam rencana program Rimba Pakai Kemuka Ari tahun 2022 ini.

“Patroli hutan tetap menjadi fokus kita. Cara inilah paling efektif untuk memastikan bahwa hutan desa bisa terjaga dengan baik,” kata Fasilitator Konservasi Hutan PRCF Indonesia, Yadi Purwanto S Hut dalam rapat koordinasi di Aula Dangau Resort Singkawang, Kamis (16/6/2022).

Dijelaskannya, tahun sebelumnya, desa yang didampingi PRCF Indonesia adalah Desa Nanga Jemah, Nanga Betung, Sri Wangi dan Tanjung secara rutin melakukan patroli hutan. Pada tahun ini, patroli hutan tetap dilakukan sebagai mana tahun sebelumnya.

“Patroli rutin tetap dilakukan. Bahkan, patroli untuk monitoring flora dan fauna di hutan juga dilakukan. Tak kalah pentingnya, juga dilakukan patroli mitigasi risiko kebakaran hutan,” papar alumni Fakultas Kehutanan Untan ini.

Mitigasi risiko kebakaran ini sangat penting mengingat sering terjadi kebakaran dan hutan. Kalau di Desa Nanga Lauk yang juga didampingi PRCF Indonesia telah dilakukan mitigasi kebakaran. Ada pelatihan pemadaman api dengan menghadirkan unit manggala agni. Seluruh perlengkapan alat pemadam kebakaran juga disiapkan. Termasuklah pakaian khusus untuk memadamkan api juga dilengkapi.

“Mitigasi kebakaran seperti di Nanga Lauk juga akan kita terapkan di desa dampingan PRCF. Kita punya pengalaman akan mitigasi ini. Tujuannya apabila terjadi kebakaran lahan dan hutan, tim dari LPHD bisa cepat mengatasinya,” ujar Yadi.

Batas Desa

Beberapa desa yang menjadi dampingan PRCF masih belum tuntas persoalan batas desa. Termasuk juga batas hutan desa harus jelas tanda batasnya. PRCF Indonesia dengan pengalaman yang dimiliki akan mendampingi Pemerintah Desa dan LPHD untuk membuat batas desa maupun batas hutan desa.

Selain persoalan batas desa ini, PRCF Indonesia juga akan mendampingi dalam melakukan kajian pengelolaan muka air gambut dan pembuatan sekat kanal. Untuk kajian ini, PRCF akan bekerja sama dengan pihak ketiga atau ahli. (ros)

Continue Reading
Patroli hutan

Patroli Hutan Agenda Rutin dalam Program Konservasi

Patroli hutan tidak bisa dipisahkan dari program utama PRCF Indonesia. Setiap ada pendampingan dalam pengelolaan hutan, patroli hutan menjadi agenda rutin. Secara regular program ini selalu dijalankan.

Program pendampingan pengelolaan hutan telah dimulai PRCF sejak tahun 2019 di Desa Nanga Lauk. Program tersebut terus berjalan sampai sekarang. Lewat Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu yang dibentuk oleh Pemerintah Desa Nanga Lauk, terbentuklah tim patroli hutan. Personelnya murni dari warga Desa Nanga Lauk itu sendiri.

Untuk menjadi anggota tim patroli hutan sifatnya suka rela. Siapa yang bersedia bergabung, silakan masuk. Tentunya memperhatikan usia dan fisik juga. Terlalu muda juga tidak layak. Apalagi kalau sudah tua. Kisaran umur 20 sampai 40-an tahun.  Hal terpenting adalah kondisi fisik. Tidak mungkin yang sakit-sakitan direkrut menjadi anggota tim. Harus yang memiliki fisik kuat dan sehat.

Medan untuk patroli hutan itu terbilang cukup besar. Hutan desa yang dimiliki Desa Nanga Lauk bukanlah hutan di daratan penggunungan melainkan di rawa-rawa. Sebagian besar lahan hutannya tertutup oleh air. Saat patroli hutan, sebagian besar harus duduk di atas perahu motor. Berkeliling masuk ke celah-celah hutan rawa. Kadang mereka juga harus berjalan di genangan air. Di sini fisik kuat sangat dibutuhkan. Tak bisa kaleng-kaleng. Karena, medannya sangat berat dan memerlukan fisik dan stamina mumpuni.

Medan Lebih Berat

Patroli hutan tidak hanya diterapkan di Desa Nanga Lauk, melainkan di empat desa dampingan lainnya, yakni Desa Nanga Jemah, Nanga Betung, Sri Wangi dan Tanjung. Empat desa ini masih dalam wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. PRCF resmi melakukan pendampingan tahun 2021 lalu. Berarti kurang lebih satu tahun.

Di empat desa ini, medan hutan desanya terbilang lebih berat dibandingkan Nanga Lauk. Letak beratnya karena jarak dengan desa cukup jauh, dan harus jalan kaki. Sementara hutannya berbukit karena di lereng penggunungan. Saking beratnya medan yang mereka tempuh, harus menginap di dalam hutan. Kadang sampai lima hari mereka harus melakukan patroli. Apa yang mereka lakukan sebagai bentuk tanggung jawab memastikan tidak ada kerusakan hutan. Hutan adalah harta terbesar desa mereka yang harus dijaga demi generasi berikutnya (ros)

Continue Reading
Agroforestry

Agroforestry dan Patroli Hutan Menjadi Agenda Penting di November

Agroforestry dan patroli hutan tetap menjadi agenda penting yang akan dilaksanakan oleh LPHD Lauk Bersatu Desa Nanga Lauk di bulan November ini. Selain itu, ada juga pembahasan draft Peraturan Daerah (Perdes) dan pemasangan patok.

“Semua agenda di bulan November ini akan segera kita laksanakan. Kegiatan penting yang akan kita laksanakan di antaranya agroforestry dan patroli hutan. Kita tetap mendampingi tim patroli hutan dari LPHD Lauk Bersatu dalam menjalankan tugasnya,” kata Manager Program PRCF Indonesia, Rio Afiat, Selasa (9/11/2021).

Dijelaskan Rio, khusus pelatihan agroforestry direncanakan tanggal 19-20 November ini. Sasaran kita di Sungai Putat, karena di sana lahannya banyak gambut. Sebagai langkah awal, pihaknya melakukan pembibitan dulu (nursery). Setelah pembibitan dilakukan, lalu dilakukan penanaman di Sungai Putat itu.

“Kita sudah beberapa kali melakukan pelatihan agroforestry ini. Tetap dilakukan secara regular mengingat agroforestry sangat penting dalam kegiatan konservasi hutan desa. Dengan program ini, kita bisa menutup lahan yang selama ini terbuka,” papar pria kelahiran Jawai Sambas ini.

Selain itu, agroforestry PRCF Indonesia tetap mendampingi tim patroli hutan LPHD dalam menjalankan tugasnya. Patroli hutan bisa dikatakan program yang menjadi perhatian penting dalam konservasi hutan. Dengan patroli hutan ini untuk memastikan tidak ada kerusakan hutan.

“Patroli hutan ini sangat penting dan secara regular dilakukan terutama oleh LPHD. Sejak tahun 1999 lalu, patroli hutan rutin dilakukan sampai saat ini. Dengan cara inilah, hutan desa milik Nanga Lauk bisa terjaga dengan baik,” ungkap Rio.

Pemasangan Patok

Dari 25-29 November ini, LPHD Lauk Bersatu akan melakukan pemasangan patok batas hutan desa. Karena banyak patok yang harus dipasangan, memerlukan waktu sampai empat hari. Patok ini sangat penting agar masyarakat mengetahui luas areal beserta batas hutan desanya.

Selain pemasangan patok, PRCF juga akan mendampingi LPHD dalam menyusun draft Perdes terkait dengan konservasi. Bagaimanapun antara LPHD dan Pemeerintah Desa Nanga Lauk harus bersinergi dan hasil akhirnya untuk masyarakat sendiri. Terakhir, PRCF akan melakukan monitoring untuk kuartal pertama program berikutnya. (ros)

Continue Reading
Pohon Raksasa

Pohon Raksasa Ditemukan di Hutan Hulu Tuung Desa Tanjung

Pohon raksasa masih banyak tersisa di hutan Hulu Tuung Desa Tanjung Kecamatan Mentebah Kabupaten Kapuas Hulu. Hal ini terungkap saat Tim Patroli dari Desa Tanjung melakukan patroli pada Agustus 2021 lalu.

“Masih banyak pohon raksasa yang kita temuka di hutan Hulu Tuung itu. Ada pohon yang diameternya sekitar 300 cm. Hutannya masih terjaga dengan baik. Pohon tersebut kita data dan ditentukan titik koordinatnya dengan menggunakan GPS,” kata Hendra Wisnu Wardhana, Fasilitator Desa Tanjung dan Nanga Jemah, PRCF Indonesia, Senin (11/10/2021).

Diungkapkan Peyang-sapaan akrabnya, pada patroli hutan Agustus 2021 lalu itu, tim melakukan patroli sampai lima hari dan bermalam di hutan. Setiap jengkal hutan desa yang dimiliki Desa Tanjung dijelajahi. Setiap bertemu dengan flora dan fauna, termasuk pohon raksasa dicatat dengan tellysheet yang telah disiapkan. Kemudian, dimasukkan dalam SmartPatrol.

“Ada banyak jenis pohon  di Hutan Desa Tanjung. Wilayah ini dilindungi oleh adat dan tidak ada aktivitas logging. Artinya, tidak boleh sembarangan menebang pohon di hutan itu. Perananan ada sangat penting di sini,” papar Peyang yang selalu mendampingi tim patroli hutan di desa itu.

Walau peranan adat sangat penting, bukan berarti ancaman ilegal logging atau penebangan liar tidak ada. Sejauh ini masih terjaga dengan baik hutan tersebut. Namun, kebutuhan akan kayu semakin hari semakin meningkat.

“Menjadi khawatir kita mengingat perkembangan masyarakat semakin hari semakin bertambah membuat kebutuhan akan bahan bangunan meningkatkan. Hal ini membuat pohon-pohon besar ini terancam keberadaannya. Kita akan terus mengedukasi warga agar jangan menebang pohon di hutan,” jelas Peyang.

Ditambahkannya, dalam perjalanan selama patroli, ada beberapa jenis pohon besar dengan jenis berbeda. Di antara jenis pohon itu adalah Tengkawang, Ahun, dan Tekam yang rata-rata berukuran besar. Patroli akan terus dilakukan dengan harapan seluruh flora dan fauna yang dilindungi bisa tercatat dengan baik dalam smart patrol.

Peranan Adat

Patroli hutan dari Desa Tanjung merupakan implementasi dari program TFCA Kalimantan Siklus5. Program ini telah berjalan sejak awal tahun 2021 lalu. Tim patroli juga sudah beberapa kali menjalankan tugasnya. Didampingi PRCF Indonesia, tim patroli tersebut secara regular akan melakukan patroli di hutan desa.

“Kita melihat peranan adat dari Desa Tanjung itu sangat penting. Ada kearifan lokal sangat dijunjung tinggi di sini. Dengan adanya kearifan lokal tersebut, hutan tidak boleh ditebang sembarangan. Hal ini mengakibatkan hutan masih terjaga dengan baik dari dulu sampai sekarang,” tambah Direktur PRCF Indonesia, Imanul Huda S Hut M Hut. (ros)

Continue Reading
Satwa babi hutan

Satwa yang Sering Dijumpai Saat Patroli Hutan Desa

Satwa atau hewan sering dijumpai tim patroli saat melakukan patroli hutan. Perjumpaan dengan satwa tidak dilewatkan begitu saja. Semua dicatat dan diabadikan dengan kamera.

PRCF Indonesia aktif melakukan pendampingan tim patroli hutan khususnya di Desa Nanga Lauk Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu. Di desa ini, PRCF Indonesia sejak tahun 2019 sudah mendampingi tim patroli hutan LPHD Lauk Bersatu. Bahkan, tim patroli hutan Desa Nanga Lauk menjadi referensi utama untuk patroli hutan di desa lain.

Awal 2021 lalu, PRCF Indonesia juga mulai melakukan pendampingan patroli hutan di Desa Nanga Betung dan Desa Tanjung. Apa yang diaplikasi di Nanga Lauk, juga dilakukan di Nanga Betung dan Tanjung walaupun medan hutannya berbeda. Kalau di Nanga Lauk, sebagian besarnya areal hutannya adalah rawa. Sementara di Nanga Betung dan Tanjung adalah hutan pegunungan.

Berikut ini sejumlah satwa yang sering dijumpai oleh tim patroli hutan:

  1. Babi Hutan (sus barbatus)

Belum lama ini tim patroli hutan dari Desa Nanga Betung berjumpa dengan seekor babi hutan. Babi itu dicatat dan diabadikan lewat kamera. Babi sendiri bisa dikatakan satwa endemik yang banyak ditemukan di seluruh hutan di Kabupaten Kapuas Hulu.

  1. Beruang (Helarctos Malayanus)

Beruang secara fisik memang belum pernah berjumpa, namun sering ketemu telapak kaki dan bekas cakaran di batang pohon. Kebetulan di Kapuas Hulu banyak madu dan menjadi salah satu makanan favorit beruang. Untuk melihat wujud fisiknya, perlu dilakukan pengintaian secara intensif. Sejauh ini, tim patroli belum hanya sebatas patroli saja dan mencatat serta mendokumentasikan satwa maupun fauna yang ditemukan.

  1. Lutung Sentarum (Presbytis Chrysomelas Cruciger)

Lutung Sentarum  atau Langur Borneo (Presbytis Chrysomelas Cruciger) ditemukan awal Juni 2020 lalu. Kemunculan hewan primata itu berada di titik koordinat Lat 112 derajat 38′ 25.678″ E, Long 0 derajat 56′ 43.794″ N. Kemunculan Luntung Sentarum atau Langur Borneo tersebut sempat terekam oleh salah satu personel PRCF Indonesia, Yadi Purwanto. Saat itu Yadi dan warga Nanga Lauk sedang bincang-bincang di Kantor LPHD Lauk Bersatu. Kantor itu berada di pinggiran hutan. Tiba-tiba ada yang teriak, “Ada kelasi di atas pohon karet!” Mendengar teriakan itu, Yadi  beserta beberapa warga kaget. Segera mengalihkan pandangan pada primata yang sedang berada di atas pohon.

  1. Orangutan (Pongo pygmaeus)

Orangutan atau mawas pernah muncul di hutan desa Nanga Lauk. Pada September 2019 lalu, orangutan tiba-tiba dan mengejutkan tim patroli hutan. Kemunculan orangutan ini membuktikan bahwa memang ada hewan langka itu di hutan desa Nanga Lauk. Setahun berikutnya, persisnya pada 20 Maret 2020 lalu, orangutan muncul kembali. Adanya orangutan ini menjadi kabar gembira buat warga Nanga Lauk maupun PRCF Indonesia sebagai pendamping.

  1. Aneka Burung

Burung juga sering dijumpai saat melakukan patroli hutan. Di antara aneka atau jenis burung yang sering dijumpai antara lain; burung Cico (Agithina viridissima), Kuncit (Anthreptes malacensis), Rui (Anthracoceros albirostris), Cucak hijau (Chloropsis sonnerati), Merbah (Pycnonotus sp), Pekaka (Pelargopsis capensis), dan Elang Bau (Haliastur indus).

  1. Herpeofauna

Herpetofauna adalah binatang melata yang di dalamnya berupa jenis amfibi dan reptil. Tim patroli juga sering berjumpa dengan hewan melata, di antaranya Biawak (Varanus salvator), Ular Ngail, dan Kura-kura bergerigi (cyclemis dentata). (ros)

Continue Reading
Enam peralatan yang wajib dibawa saat patroli hutan

Enam Peralatan Wajib Dibawa Saat Patroli Hutan

Enam peralatan wajib dibawa saat melakukan patroli hutan. Kenapa wajib dibawa karena sangat mendukung efektivitas patroli. Dalam melakukan patroli hutan tidak ada yang harus menginap di dalam hutan. Ada juga yang pergi pagi, pulang sore.

PRCF Indonesia yang aktif mendampingi patroli hutan di Desa Nanga Lauk, Nanga Betung, Nanga Jemah, Sri Wangi dan Desa Tanjung di Kapuas Hulu selalu mewajibkan untuk membawa keenam peralatan tersebut. Adapun enam peralatan dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. GPS (Global Positioning System)

GPS wajib untuk dibawa. Dengan peralatan inilah tim patroli hutan bisa mengetahui titik koordinat flora dan fauna yang ditemukan di dalam hutan. Misalnya, tim patroli menemukan orangutan, bisa ditentukan titik koordinatnya melalui GPS tersebut.

Di era digital, kehadiran GPS membuat proses navigasi jadi jauh lebih mudah. Pengguna gadget bisa langsung menentukan lokasinya secara instan dan akurat. Kemampuan GPS dalam menentukan lokasi banyak diaplikasikan dalam berbagai hal, mulai dari software navigasi, olahraga, ride sharing, hingga patroli hutan. Di balik kepraktisan GPS terdapat teknologi canggih berbasis konstelasisatelit. Wahana-wahana antariksa inilah yang membantu gadget dalam menentukan posisinya di muka bumi.

  1. Kamera

Tim patroli hutan yang didampingi PRCF Indonesia, wajib membawa kamera. Kamera itu bisa berupa DLSR atau cukup kamera handphone. Setiap perjumpaan dengan fauna atau flora wajib diabadikan dengan kamera. Hasil jepretan kamera itu menjadi bukti otentik atau fakta orisinil sebagai hasil dari patroli hutan. Tidak bisa hanya sekadar cerita saja, mesti dibuktikan dengan jepretan kamera.

  1. Tallysheet

Ketika terjadi perjumpaan dengan flora dan fauna, wajib dicatat. Seluruh peralatan untuk mencatat itu disebut tallysheet berupa papar tulis, pulpen, dan kertas. Kertas sudah diformat sedemikian rupa. Jadi, saat berjumpa misalnya angrek hutan, tinggal dicatat dalam kertas yang sudah siapkan formatnya.

  1. Logistik

Logistik di sini maksudnya perbekalan makanan dan minuman. Melakukan patroli hutan membutuhkan energi cukup tinggi. Itu sebabnya, asupan makanan juga harus tersedia dengan baik. Saat melakukan patroli hutan, makanan dan minuman wajib dibawa agar tenaga tetap terjaga dengan baik. Kalau patroli yang sifatnya pergi pagi pulang sore, tim patroli hutan cukup membawa makanan sudah jadi yang dimasukkan dalam rantang. Sebelum turun harus sarapan dulu. Bila siang hari saat sudah berada di tengah hutan, mereka akan makan siang dari makanan yang dibawa.

Bagi patroli dalam waktu lama, misalnya lima hari seperti dilakukan di Desa Tanjung, tim patroli membawa perbekalan seperti beras, mie instans, ikan asin, sayuran, gula dan kopi. Snack atau makanan ringan juga dibawa. Di hutan mereka akan masak.

Tim patroli hutan
Tim patroli hutan dari Desa Tanjung sedang membuat pondok untuk beristirahat dan bermalam di hutan
  1. Terpal Plastik

Saat melakukan patroli kadang cuaca tiba-tiba berubah, tiba-tiba hujan. Di sinilah pentingnya terpal plastik sebagai tempat berteduh. Kalau waktu patroli lama, terpal plastik digunakan untuk membuat pondok di dalam hutan. Terpal itu dijadikan atap dan dinding. Sementara lantai menggunakan potongan kayu kecil. Begitu selesai patroli, terpal itu bisa kembali digulung dan dibawa pulang serta bisa digunakan untuk patroli berikutnya.

  1. Parang Perintis

Tim patroli hutan memang tidak dibekali dengan senjata tajam seperti senapan, tapi dibekali dengan parang perintis. Mirip badik atau pedang yang digunakan hanya untuk membuka jalan saat melakukan patroli. Yang namanya di dalam hutan, tidak ada jalan. Untuk menuju sebuah titik, tim patroli harus membuat jalan dengan cara membabat kayu atau semak yang menghalangi. Tujuannya agar pergerakan tim patroli menjadi lebih cepat. Selain sebagai perintis, parang itu juga dirancang untuk pertahanan diri bila ada sesuatu yang mengancam.

Itulah adalah enam peralatan yang wajib dibawa saat melakukan patroli hutan. Enam peralatan tersebut adalah GPS, Kamera, Tallysheet, Logistik, Terpal, dan Parang Perintis. Semoga ini menjadi referensi bagi desa lain yang ingin melakukan patroli hutan juga. (ros)

Continue Reading